3 Cara Membangun Kultur Kepercayaan di Kelas

Berita84 Dilihat

Mudabicara.com_ Cara membangun kultur kepercayaan di kelas merupakan sesuatu yang utama sebab kepercayaan adalah dasar dari hubungan apa pun.

Di sisi lain kepercayaan adalah salah satu hal terpenting bagi seorang guru untuk mengembangkan berbagai keterampilan siswanya.

Membangun kepercayaan harus dimulai saat siswa awal memasuki kelas. Membuka percakapan yang hangat, memberikan perhatian dan pujian adalah ‘starter’ kolaboratif dalam aktifitas belajar dengan penuh rasa saling percaya.

Membangun kepercayaan di kelas artinya Anda sebagai guru sedang mengembangkan komunitas kelas yang dibangun berdasarkan kepercayaan.

Baca Juga : 4 Tips Mengelola Rutinitas Pagi: Menanamkan Rasa Tanggung Jawab

Ini berarti ruang kelas Anda harus menjadi tempat di mana setiap orang dihormati dan ada transparansi dalam komunikasi mereka.

Dalam sebuah wawancara TED, profesor Universitas Harvard Amy Edmonson mendefinisikan keamanan psikologis sebagai “suasana di mana seseorang merasa bisa berterus terang.

Ini adalah tempat di mana risiko antarpribadi dapat diminimalisir, risiko antarpribadi seperti menjawab pertanyaan dan kekhawatiran akan kesalahan”.

Kelas yang tumbuh dengan sikap saling percaya membuat para siswa merasa aman dan nyaman. Mereka belajar dengan percaya diri, karena tidak khawatir misalnya, saat menjawab pertanyaan guru, namun jawabannya tidak tepat, semua tetap menghargai, guru tetap mengapresiasi.

Baca Juga : Mengenal ‘Brain Break’ Untuk Mengoptimalkan Belajar Siswa di Kelas

Lalu Bagaimana seorang guru dapat membangun lingkungan sedemikian rupa sehingga siswa merasa bebas untuk menjadi diri mereka sendiri?. Berikut 3 Cara Membangun Kultur Kepercayaan di kelas.

3 Cara Membangun Kultur Kepercayaan di kelas

Cara membangun Kultur Kepercayaan

1. Berikan Kepercayaan Untuk Siswa Mendapatkan Kepercayaannya Sendiri

Cara membangun kultur kepercayaan terakhir pertama adalah berikan kepercayaan pada siswa. Guru dapat melakukan penilaian formatif, seperti menulis ekspresi eksponen di papan tulis dan meminta siswa untuk menunjukkan dengan jari mereka 0, 1, atau 2.

Dengan 0 yang berarti “Saya belum pernah melihat ini seumur hidup saya”; 1, “Saya telah melihatnya, tetapi saya tidak yakin bagaimana melanjutkannya”; dan 2, “Saya mengetahui hal ini dengan sangat baik sehingga saya praktis dapat mengajarkannya.”

Setelah melalui beberapa ekspresi yang memodelkan berbagai aturan eksponen, guru akan memiliki pemahaman yang baik tentang siswa mana yang membutuhkan peningkatan pemahaman dan mana yang membutuhkan pendampingan khusus atau  mendasar.

Dalam pelajaran ini, guru tidak memberikan pre-tes tertulis; sebaliknya,  memercayai penilaian diri mereka sendiri.

Jika seorang siswa tidak jujur ​​atau bingung tentang penilaian mereka sendiri, siswa tersebut dan juga guru akan mengetahuinya dengan sangat cepat saat tugas dikumpulkan. Ini juga merupakan pelajaran bagi siswa untuk mempercayai diri mereka sendiri.

Kepercayaan dapat diberikan di luar konteks akademik. Jika seorang siswa mengalami hari yang sulit atau kebutuhan khusus lainnya, beri tahu mereka secara pribadi bahwa mereka dapat keluar dari kelas atas keinginan mereka sendiri untuk pergi ke kamar kecil atau berjalan-jalan sebentar.

Memperluas kepercayaan tidak berarti membiarkan siswa memanfaatkan aturan. Sebaliknya, itu memperkuat hubungan hormat antara guru dan siswa.

Baca Juga : 5 Cara Melatih Kesadaran Digital Pada Anak

Jika perilaku siswa berkembang menjadi pola negatif (melupakan bekal, sering minta izin, pekerjaan yang tidak lengkap atau berkualitas rendah), bicaralah dengan siswa tersebut secara pribadi.

Tanyakan dengan tulus apakah ada masalah yang dapat Anda bantu atau jika mereka membutuhkan bantuan dari orang lain, seperti orang tua, bagian kesiswaan, atau guru pembimbing lainnya.

2. Bersikaplah Fleksibel Dalam Rutinitas Belajar

Cara membangun kultur kepercayaan terakhir kedua adalah bersikaplah fleksibel dalam rutinitas belajar. Siswa dapat berkembang dalam lingkungan sekolah karena rasa keamanan yang stabil. Lingkungan kelas yang dapat diprediksi tidak harus berarti kaku.

Pendidik dapat memberikan rutinitas yang stabil sambil tetap hadir dan memperhatikan penyesuaian yang diperlukan.

Penting juga bagi guru untuk selalu hadir sepenuhnya bersama anak-anak. Membangun rutinitas di kelas bukan berarti semuanya harus berjalan secara kaku.

Artinya tidak ada variasi dan fleksibilitas bagi para siswa untuk mendapatkan pengalaman belajar yang lebih kaya suasana, kaya metodologi dan menggugah antusiasme dan keingintahuan atau rasa penasaran.

Selama bertahun-tahun, saya telah belajar untuk santai ketika harus berpegang teguh pada kurikulum atau jadwal. Saya jauh lebih baik sekarang dalam membaca getaran dari kelas saya.

Bersikap fleksibel juga berarti mengakui ketika rencana Anda tidak berhasil. Maksudnya seorang guru yang ingin mendapat kepercayaan di ruang kelas, hendaknya memberikan perhatian juga tatkala satu momen saat pembelajaran menunjukkan kejenuhan dan siswa mulai merasa bosan.

Baca Juga : 5 Manfaat Konferensi Siswa dan Cara Membangun Kepemimpinan Siswa

Guru harus mengubah strateginya, guru bisa menghentikan sejenak proses kegiatan dan beralih secara spontan kepada suasana baru.

3. Bersikap Toleran

Cara membangun kultur kepercayaan terakhir adalah berikap toleran. Perhatikan pengalaman negatif yang mungkin memengaruhi kemampuan siswa untuk memercayai Anda.

Anda mungkin menjumpai siswa yang belum mengalami kepercayaan dalam kehidupan mereka sendiri.

Jika seorang siswa telah belajar untuk tidak memercayai orang dewasa mana pun di rumah, mereka tidak akan memiliki alasan untuk memercayai seorang guru pada awalnya.

Bersabarlah dan luangkan waktu untuk mengenal siswa Anda sebelum Anda membuat simpulan dan menghukum mereka dengan berbagai penghakiman atau hujatan.

Toleransi atas kondisi siswa yang berbeda-beda semacam menghadirkan konteks personalized learning  di kelas. Di saat itu guru harus mampu mengenali siswanya, baik dari sisi kebutuhan belajarnya, profilnya, hingga minta dan bakatnya.

Sikap toleran karena guru memahami siswa akan membangun kepercayaan dan rasa percaya yang kuat pada diri siswa selama proses pembelajaran.

 

Sekian penjelasan mengenai 3 Cara Membangun Kultur Kepercayaan di Kelas, terima kasih telah mengunjungi portal website mudabicara. Jika merasa artikel ini bermanfaat, silahkan share artikel ini. Selamat Membaca

 

Tulisan Terkait: