Apa itu Fasisme? Pengertian dan Cirinya

Ilmu Politik20 Dilihat

Mudabicara.com_ Fasisme bukan kata asing bagi mereka yang belajar sistem politik. Pada awalnya paham ini hanyalah gerakan aksi ultranasionalis di bawah kepemimpinan seorang pemuda Italia bernama Benito Mussolini.

Namun tahukah kalian jika paham ini pernah menjadi corak politik di berbagai negara di Eropa. Meskipun kini fasisme merupakan bentuk ideologi politik yang paling dihindari karena menimbulkan sistem politik diktator.

Nah! kali ini mudabicara  ingin mengulas tentang apa itu fasisme. Selengkapnya simak ulasan berikut ini:

Sejarah Singkat Fasisme

Dilansir dari historia.id lahirnya paham fasisme disebabkan oleh keadaan krisis ekonomi yang ada di Italia. Pada waktu itu, sebagai negara pemenang perang Italia malah mengalami krisis ekonomi dengan jumlah hutang yang menumpuk.

BACA JUGA : Sistem Politik Diktator, Pengertian, Macam dan Ciri-cirinya

Krisis ekonomi yang melanda mengakibatkan masyarakat tidak memilik pekerjaan alias mengangur. Keadaan semakin buruk saat negara Lo Stivale ini tidak mendapatkan bagian wilayah jajahan di Afrika Utara.

Saat genting inilah sosok Benito Mussolini hadir menawarkan berbagai narasi perubahan. Sebagai tokoh partai sosialis dan pimpinan redaksi koran Avanti, gerakan Mussolini cepat menyebar secara masif.

Fasci d Azione Rivoluzionare merupakan istilah yang berarti kelompok muda yang ingin perang. Oleh karena itu banyak sekali pemuda yang berkumpul di Milan dengan mengunakan pakaian serba hitam dan gaya kas mengacungkan tangan kanan ke udara.

Berdasarkan catatan sejarah puncak kejayaan aliran fasisme bisa ditandai dari ekspansi seorang Adoft Hitler ke berbagai negara di wilayah Eropa pada tahun 1939.

Selain Benito Mussolini dan Adoft Hitler, ada beberapa pemimpin yang juga mengadopsi fasisme sebagai dasar kepemimpinannya antara lain Francisco Franco dari Spanyol, Hideki Tojo dari Jepang, Ioannis Metaxas dari Yunani, dan terakhir Ferenc Szalasi dari Hungaria .

BACA JUGA : Pengertian Sistem Pemerintahan, Macam dan Contohnya

Mereka semua adalah pemimpin-pemimpin negara pada masanya yang memakai narasi ideologi fasisme sebagai dasar kepemimpinan.

Apa Itu Pengertian Fasisme

Pada tahun 1919 istilah fasis pertama kali muncul dari seorang tokoh muda Partai Sosialis Italia bernama Benito Mussolini. Kata fasisme sendiri berasal dari kata Latin fasses yang berarti kejayaan.

Fasses merupakan simbol  seorang hakim pada zaman Romawi. Ia terwujud dalam serumpun batang yang terikat pada kapak atau tongkat kayu bermata kapak.

Sedangkan secara terminologi fasisme adalah suatu sikap nasionalisme yang terlalu tinggi atau berlebihan. Orang-orang yang berfaham fasisme akan mengungulkan golongan sendiri dan dengan jumawa akan merendahkan golongan lain.

Negara yang memiliki sikap radikal ideologi nasionalis seperti ini biasanya menganut sistem politik totaliter atau sistem politik otoriter.

BACA JUGA : 10 Manfaat Belajar Politik Untuk Anak Muda

Fasisme sendiri juga dapat diartikan sebagai suatu faham yang anti terhadap demokrasi, liberal, parlemen, proletar bahkan komunisme.

Berdasarkan kamus besar bahasa Indonesia (KBBI) fasisme adalah suatu ideologi pemerintahan yang berjalan secara absolut dan tegas. Biasanya dipimpin oleh seorang dengan gaya kepemimpinan kharismatik.

Atau dengan kata lain fasisme adalah suatu prinsip pemerintahan yang menganut faham nasionalisme ekstrem yang mengunakan sistem pemerintahan otoriter.

Berdasarkan buku Komunikasi Propaganda: Suatu Pengantar (2017) karya Muhajir Affandi fasisme adalah suatu gerakan radikal ideolgi nasionalis otoriter politik.  Ideologi ini berusaha untuk mengatur suatu bangsa dalam perspektif korporatif baik sistem ekonomi maupun politik.

Awalnya memang fasisme muncul saat terjadi Revolusi Industri pada kisaran tahun 1760-1850 berupa sindikatisme. Maka tidak heran kalau fasisme lahir di negara-negara yang mengalami industrialisasi.

BACA JUGA : Mengenang Perlawanan Wiji Thukul Lewat “Puisi Untuk Adik”

Sedangkan menurut buku berjudul Fascism, fasisme adalah perpaduan yang unik dari berbagai teori baik dari yang radikal maupun reaksioner.

Misalnya dalam teori radikal yang mencakup beberapa gagasan mengeani sosial, ekonomi, agama, ras dan moralitas. Oleh karena itu meskipun sama-sama menganut ideologi fasisme namun dalam prakteknya memiliki wajah yang berbeda-beda.

Ciri-Ciri Fasisme

Seorang pemikir William Ebenstein asal Amerika dalam bukunya berjudul Isme-Isme yang Mengguncang Dunia (2006) memberikan penjelasan mengenai tujuh unsur pokok fasisme antara lain :

1. Pola Perilaku Berdasarkan Kekerasan Dan Kebohongan

Dalam menjalankan sistem pemerintahan, seorang pemimpin yang berfaham fasisme akan mengendepankan kekerasan dalam penyelesaian masalah.

Jika ada konflik bahkan kritik, para penguasa tidak segan-segan untuk menghilangkan dan memusnahkan oknum tersebut baik secara individu maupun kelompok.

2. Para Penguasa Pemerintahan Berasal Dari Kelompok Elite

Pada dasarnya gaya kepemimpinan fasisme adalah gaya kepemimpinan diktator sebab pemerintahan hanya diisi oleh beberapa orang elit yang memiliki kekuatan.

Segelintir elit ini mampu memahami apa yang menjadi keingginan masyarakat. Pun seandainya ada perbedaan pandangan maka yang berlaku dan wajib diikuti adalah titah penguasa.

3. Kekuatan Berpusat Pada Negara

Dalam pemerintahan, negara memiliki peran mengontrol masyarakat secara total. Sistem ini meminta seluruh warga negara memberikan haknya sepenuhnya kepentingan negara.

Berdasarkan Constitutional Rights Foundation rezim fasisme memiliki sumber daya yang kuat melalui struktur dan infrastruktur negara untuk menjalankan sentralisme.

BACA JUGA : Merdeka Belajar Dan Lahirnya Filosofi Pendidikan Mandiri

4. Adanya Totaliterisme

Sistem totaliterisme meniadakan adanya oposisi dan kritik, bahkan dalam mencapai tujuan penguasa tidak segan-segan mengambil tindakan menyingkirkan para perusuh kepentingan negara.

Kesempatan politik tidak terbuka kepada siapa pun kecuali golongan yang mampu mengakses kekuasaan dan pemerintahan. Tidak ada toleransi bagi para pengkritik status quo pemerintahan.

5. Pemerintahan diktator

Segala bentuk keputusan dan kebijakan hanya melalui seorang pemimpin. Masyarakat tidak memiliki kesempatan untuk memberikan masukan ataupun pendapat.

Namun yang menjadi cacatan penting, dalam sistem ini seorang pemimpin memiliki kharisma yang baik sehingga masyarakat mau mengikuti dengan patuh dan tunduk.

6. Tidak Percaya Pada Nalar

Segala bentuk pemikiran kritis menjadi buntu sebab sumber pengetahun masyarakat berasal dari doktrinal yang bersifat fanatik.

7. Korporatisme

Negara memiliki kekuatan untuk mengendalikan ekonomi secara penuh meskipun pada prakteknya negara masih memberi kesempatan pada kepemilikan pribadi.

BACA JUGA : 10 Tips Untuk Mengubah Kebiasaan Lebih Baik

Pengendalian ekonomi berasal dari pemilik pabrik dan buruh dan ketika ada tindakan demonstrasi melalui cara pemogokan kerja adalah tindakan melawan kekuasaan dan ilegal.

8.  Pengingkaran Derajat Kemanusiaan

Maksud dari pengingkaran derajat kemanusiaan adalah bagi seorang fasis ketidaksamaan manusia itulah titik awal yang mendorong munculnya idealisme. Analoginya, jika bukan bangsa mereka berarti manjadi bagian musuh mereka.

9. Nasionalisme Ekstrem

Nasionalisme Ekstrem dapat berarti rasa fanatik terlalu tinggi kepada kejayaan dan kepentingan nasional untuk membuat masyarakat yang loyal kepada kepentingan negara.

Biasanya nasionalisme ekstrem ini dibungkus dengan ancaman-ancaman agar masyarakat takut dan mudah untuk dikontrol oleh pemerintah.

10. Menentang Hukum dan Ketertiban Internasional

Sejarah telah mencatat apa yang dilakukan oleh Adoft Hitler menjadi bukti bahwa fasisme tidak memperdulikan hukum dan ketertiban Internasional.

Misalnya pendekatan liberalisme dalam hubungan internasional mencoba membuat skema kerjasama antar negara agar tercipta pola komunikasi yang sejajar dan damai. Maka para fasisme menolak hal tersebut karena bagi para fasis persamaan adalah sumber masalah utama.

11.  Rasialisme Dan Imperialisme

Bagi suku atau bangsa yang lebih memiliki elit dan memiliki dukungan masyarakat secara luas maka akan memiliki legalitas dalam mengontrol bakkan kekerasan kepada masyarakat.

Hitler sebagai penguasa Jerman kala itu mendapat dukungan publik dengan mengagungkan ras Arya dan membuat kaum Yahudi sebagai musuh utama. Nazi Jerman  secara bersama menyerukan supremasi ras Arya.

BACA JUGA : Mengenal Dieng Culture Festival; Wujud Kebudayaan Khas Masyarakat Dieng

12. Superioritas

Merasa lebih unggul dan lebih baik dari bangsa dan golongan lain menjadi salah satu ciri fasisme. Superioritas nampak saat mereka mampu berkuasa secara dominan dan mampu mengakomodir seluruh kepentingan elit.

Ketika sudah merasa superioritas maka menganiaya kelompok-kelompok minoritas adalah hal yang wajar dan biasa.

13. Militerisme dan Imperialisme

Narasi imperialisme adalah negara kuat akan menjadi besar dan digdaya ketika mampu menaklukan negara-negara kecil dan lemah. Sedangkan fasisme meletakan bahan bakan kekuatannya memalui militerisme.

Negara fasisme yang memiliki militer kuat maka mereka siap untuk melakuka ekspansi dan peperangan dengan negara-negara sekitar.

Gerakan militerisme Nazi Jerman mengekspansi Eropa menjadi bukti sejarah munculnya perang dunia 2 yang pokok masalah awalnya ada;ah fasisme.

Nah! berikut sekilas tentang pengertian fasisme dan ciri-cirinya, tetap belajar sabahat mudabicara,tunggu artikel berikutnya!

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.