Biografi Sukarno, Presiden Pertama Indonesia

Sosok Inspiratif303 Dilihat

Mudabicara.com_ Sukarno (6 Juni 1901 – 21 Juni 1970) adalah pemimpin pertama  Indonesia merdeka . Lahir di Jawa ketika pulau ini masih menjadi bagian dari Hindia Belanda, Sukarno naik ke tampuk kekuasaan pada tahun 1949.

Alih-alih mendukung sistem parlementer asli Indonesia, ia menciptakan “demokrasi terpimpin” yang ia kendalikan. Sukarno digulingkan melalui kudeta militer pada tahun 1965 dan meninggal dalam tahanan rumah pada tahun 1970.

Biograf  Singkat Sukarno

  • Dikenal : Pemimpin pertama Indonesia merdeka
  • Disebut Juga Sebagai : Kusno Sosrodihardjo (nama asli), Bung Karno (saudara laki-laki atau kawan)
  • Lahir :  6 Juni 1901 di Surabaya, Hindia Belanda
  • Orangtua : Raden Sukemi Sosrodihardjo, Ida Njoman Rai
  • Gugur/Meninggal : 21 Juni 1970 di Jakarta, Indonesia
  • Pendidikan : Institut Teknik di Bandung
  • Karya Terbit:  Sukarno: Otobiografi, Indonesia Menuduh!, Kepada Rakyatku
  • Penghargaan dan Kehormatan : Hadiah Perdamaian Lenin Internasional (1960), 26 gelar kehormatan dari universitas termasuk Universitas Columbia dan Universitas Michigan
  • Pasangan : Siti Oetari, Inggit Garnisih, Fatmawati, dan lima istri poligami: Naoko Nemoto (nama Indonesia, Ratna Dewi Sukarno), Kartini Manoppo, Yurike Sanger, Heldy Djafar, dan Amelia do la Rama.
  • Anak : Totok Suryawan, Ayu Gembirowati, Karina Kartika, Sari Dewi Sukarno, Taufan Sukarno, Bayu Sukarno, Megawati Sukarnoputri, Rachmawati Sukarnoputri, Sukmawati Sukarnoputri, Guruh Sukarnoputra, Ratna Juami (angkat), Kartika (angkat)
  • Kutipan Penting : “Janganlah kita merasa sedih dengan masa lalu, tetapi marilah kita menatap masa depan dengan teguh.”
Baca Juga : Mengenal Putra Sang Fajar, Presiden Soekarno

Masa muda Soekarno 

Putra Sang Fajar Soekarno
Source: wikipedia

Sukarno lahir pada tanggal 6 Juni 1901 di  Surabaya dan diberi nama Kusno Sosrodihardjo. Orang tuanya kemudian mengganti namanya menjadi Sukarno setelah ia selamat dari penyakit serius.

Ayah Sukarno adalah Raden Soekemi Sosrodihardjo, seorang bangsawan Muslim dan guru sekolah dari Jawa. Ibunya Ida Ayu Nyoman Rai adalah seorang Hindu kasta  Brahmana  asal Bali.

Sukarno muda bersekolah di sekolah dasar setempat hingga tahun 1912. Ia kemudian bersekolah di sekolah menengah Belanda di Mojokerto, disusul pada tahun 1916 oleh sekolah menengah Belanda di Surabaya.

Pemuda ini dikaruniai  memori fotografis  dan bakat bahasa, termasuk bahasa Jawa, Bali, Sunda, Belanda, Inggris, Prancis, Arab, Bahasa Indonesia, Jerman, dan Jepang.

Pernikahan dan Perceraian

Saat berada di Surabaya untuk sekolah menengah, Sukarno tinggal bersama pemimpin nasionalis Indonesia Tjokroaminoto. Ia jatuh cinta dengan putri pemilik rumah, Siti Oetari, yang dinikahinya pada tahun 1920.

Namun pada tahun berikutnya, Sukarno melanjutkan studi teknik sipil di Institut Teknik di Bandung dan jatuh cinta lagi. Kali ini pasangannya adalah istri pemilik kos, Inggit, yang usianya 13 tahun lebih tua dari Sukarno. Mereka masing-masing menceraikan pasangannya dan menikah pada tahun 1923.

Inggrit dan Sukarno tetap menikah selama 20 tahun namun tidak pernah memiliki anak. Sukarno menceraikannya pada tahun 1943 dan menikah dengan seorang remaja bernama Fatmawati.

Dia akan melahirkan lima anak bagi Sukarno, termasuk presiden wanita pertama Indonesia  , Megawati Sukarnoputri.

Pada tahun 1953, Presiden Sukarno memutuskan untuk berpoligami sesuai dengan hukum Islam. Saat menikah dengan perempuan Jawa bernama Hartini pada tahun 1954, Ibu Negara Fatmawati begitu marah hingga pindah dari Istana Presiden.

Selama 16 tahun berikutnya, Sukarno akan mengambil lima istri tambahan: seorang remaja Jepang bernama Naoko Nemoto (nama Indonesia Ratna Dewi Sukarno), Kartini Manoppo, Yurike Sanger, Heldy Djafar, dan Amelia do la Rama.

Gerakan Kemerdekaan Indonesia

Sukarno mulai memikirkan kemerdekaan Hindia Belanda ketika ia masih duduk di bangku SMA. Selama kuliah, ia membaca secara mendalam berbagai filosofi politik, termasuk  komunisme , demokrasi kapitalis, dan Islamisme, mengembangkan ideologi sinkretisnya sendiri mengenai swasembada sosialis Indonesia.

Ia juga mendirikan  Algameene Studieclub  untuk pelajar Indonesia yang memiliki pemikiran serupa.

Pada tahun 1927, Sukarno dan anggota Algameene Studieclub lainnya mengorganisasi kembali diri mereka menjadi  Partai Nasional Indonesia  (PNI), sebuah partai kemerdekaan yang anti-imperialis dan anti-kapitalis.

Sukarno menjadi pemimpin PNI yang pertama. Sukarno berharap dapat meminta bantuan Jepang dalam mengatasi kolonialisme Belanda dan menyatukan berbagai bangsa di Hindia Belanda menjadi satu bangsa.

Polisi rahasia kolonial Belanda segera mengetahui keberadaan PNI, dan pada akhir Desember 1929, Sukarno dan anggota lainnya ditangkap.

Dalam persidangannya yang berlangsung selama lima bulan terakhir tahun 1930, Sukarno menyampaikan serangkaian pidato politik yang berapi-api menentang imperialisme yang menarik perhatian luas.

Baca Juga : Wajah Politik Bebas Aktif Hatta Versus Soekarno

Sukarno dijatuhi hukuman empat tahun penjara dan dikirim ke Penjara Sukamiskin di Bandung untuk mulai menjalani hukumannya.

Namun, liputan pers atas pidatonya sangat mengesankan faksi liberal di Belanda dan Hindia  Belanda  sehingga Sukarno dibebaskan setelah hanya satu tahun. Ia juga menjadi sangat populer di kalangan masyarakat Indonesia.

Selama Sukarno di penjara, PNI terpecah menjadi dua faksi yang berlawanan. Salah satu partainya,  Partai Indonesia , menyukai pendekatan militan terhadap revolusi, sedangkan  Pendidikan Nasional Indonesia  (PNI Baroe) menganjurkan revolusi perlahan melalui pendidikan dan perlawanan damai.

Sukarno lebih setuju dengan pendekatan Partai Indonesia daripada PNI, sehingga ia menjadi ketua partai tersebut pada tahun 1932 setelah dibebaskan dari penjara.

Pada tanggal 1 Agustus 1933, polisi Belanda kembali menangkap Sukarno saat ia sedang berkunjung ke Jakarta.

Pendudukan Jepang

Pada bulan Februari 1942,  Tentara Kekaisaran Jepang  menginvasi Hindia Belanda. Terputus dari bantuan pendudukan Jerman di Belanda, kolonial Belanda dengan cepat  menyerah  kepada Jepang.

Belanda memaksa Sukarno digiring ke Padang, Sumatera, dengan tujuan mengirimnya ke Australia sebagai tawanan, namun harus meninggalkannya untuk menyelamatkan diri ketika pasukan Jepang mendekat.

Panglima Jepang, Jenderal Hitoshi Imamura, merekrut Sukarno untuk memimpin Indonesia di bawah kekuasaan Jepang. Sukarno awalnya senang bisa bekerja sama dengan mereka, dengan harapan bisa menjauhkan Belanda dari Hindia Timur.

Namun, Jepang segera mulai menganggap jutaan pekerja Indonesia, khususnya orang Jawa, sebagai pekerja paksa. Para pekerja romusha ini   harus membangun lapangan terbang dan kereta api serta bercocok tanam untuk Jepang.

Mereka bekerja sangat keras dengan sedikit makanan atau air dan sering dianiaya oleh pengawas Jepang, yang dengan cepat memperburuk hubungan antara pihak Indonesia dan Jepang. Sukarno tidak akan pernah meremehkan kerjasamanya dengan Jepang.

Proklamasi Kemerdekaan Indonesia

Sukarno

Pada bulan Juni 1945, Sukarno memperkenalkan lima poin  Pancasila , atau prinsip Indonesia merdeka. Diantaranya adalah kepercayaan kepada Tuhan tetapi toleransi terhadap semua agama, internasionalisme dan kemanusiaan yang adil, persatuan seluruh Indonesia, demokrasi melalui konsensus, dan keadilan sosial untuk semua.

Pada tanggal 15 Agustus 1945,  Jepang menyerah kepada Sekutu . Para pendukung muda Sukarno mendesaknya untuk segera mendeklarasikan kemerdekaan, namun ia khawatir masih ada pembalasan dari pasukan Jepang.

Pada tanggal 16 Agustus, para pemimpin pemuda yang tidak sabar menculik Sukarno dan kemudian meyakinkannya untuk mendeklarasikan kemerdekaan keesokan harinya.

Pada tanggal 18 Agustus pukul 10 pagi, Sukarno berbicara di depan 500 orang di depan rumahnya dan mendeklarasikan kemerdekaan Republik Indonesia, dengan dirinya menjabat sebagai presiden dan temannya Mohammad Hatta sebagai wakil presiden.

Ia juga mengesahkan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 yang didalamnya terdapat Pancasila.

Meskipun pasukan Jepang yang masih berada di negara tersebut berusaha menyembunyikan berita tentang deklarasi tersebut, kabar tersebut menyebar dengan cepat melalui selentingan.

Satu bulan kemudian, pada 19 September 1945, Sukarno berbicara di hadapan lebih dari satu juta orang di Lapangan Merdeka di Jakarta.

Pemerintahan kemerdekaan yang baru menguasai Jawa dan Sumatra, sementara Jepang mempertahankan kekuasaannya di pulau-pulau lain; Belanda dan Sekutu lainnya belum muncul.

Negosiasi Penyelesaian Dengan Belanda

Menjelang akhir September 1945, Inggris akhirnya muncul di Indonesia dan menduduki kota-kota besar pada akhir Oktober. Sekutu memulangkan 70.000 orang Jepang dan secara resmi mengembalikan negara tersebut ke status jajahan Belanda.

Karena statusnya sebagai kolaborator dengan Jepang, Sukarno harus menunjuk perdana menteri yang tidak ternoda, Sutan Sjahrir, dan mengizinkan pemilihan parlemen saat ia mendorong pengakuan internasional terhadap Republik Indonesia.

Di bawah pendudukan Inggris, pasukan dan pejabat kolonial Belanda mulai kembali, mempersenjatai tawanan perang Belanda yang sebelumnya ditawan oleh Jepang dan melakukan penembakan terhadap tentara Indonesia.

Pada bulan November, kota Surabaya mengalami pertempuran habis-habisan yang menewaskan ribuan warga Indonesia dan 300 tentara Inggris.

Kejadian ini mendorong Inggris untuk segera menarik diri dari Indonesia dan pada bulan November 1946, seluruh pasukan Inggris telah pergi dan 150.000 tentara Belanda kembali.

Dihadapkan pada unjuk kekuatan dan prospek perjuangan kemerdekaan yang panjang dan berdarah, Sukarno memutuskan untuk merundingkan penyelesaian dengan Belanda.

Meskipun mendapat tentangan keras dari partai-partai nasionalis Indonesia lainnya, Sukarno menyetujui Perjanjian Linggajati pada bulan November 1946, yang memberikan pemerintahannya kendali atas Jawa, Sumatra, dan Madura saja.

Namun, pada bulan Juli 1947, Belanda melanggar perjanjian tersebut dan meluncurkan Operatie Product, sebuah invasi habis-habisan ke pulau-pulau yang dikuasai Partai Republik.

Kecaman internasional memaksa mereka menghentikan invasi pada bulan berikutnya, dan mantan Perdana Menteri Sjahrir terbang ke New York untuk mengajukan permohonan   intervensi kepada PBB.

Belanda menolak untuk menarik diri dari wilayah yang telah direbut dalam Operatie Product, dan sebagai hasilnya, pemerintah nasionalis Indonesia harus menandatangani Perjanjian Renville pada bulan Januari 1948, yang mengakui kendali Belanda atas Jawa dan lahan pertanian terbaik di Sumatera.

Di seluruh kepulauan, kelompok gerilya yang tidak bersekutu dengan pemerintahan Sukarno bermunculan untuk melawan Belanda.

Pada bulan Desember 1948, Belanda melancarkan invasi besar lainnya ke Indonesia yang disebut Operatie Kraai. Mereka menangkap Sukarno, Perdana Menteri Mohammad Hatta, Sjahrir, dan para pemimpin Nasionalis lainnya.

Reaksi komunitas internasional terhadap invasi ini bahkan lebih kuat lagi; Amerika Serikat mengancam akan menghentikan  Marshall Aid  ke Belanda jika tidak berhenti.

Di bawah ancaman ganda, yaitu upaya gerilya Indonesia yang kuat dan tekanan internasional, Belanda menyerah. Pada tanggal 7 Mei 1949, mereka menandatangani Perjanjian Roem-van Roijen, menyerahkan Yogyakarta kepada kaum Nasionalis dan membebaskan Sukarno dan para pemimpin lainnya dari penjara.

Pada tanggal 27 Desember 1949,  Belanda  secara resmi setuju untuk melepaskan klaimnya atas Indonesia.

Sukarno Mengambil Kekuasaan

Sukarno

Pada bulan Agustus 1950, bagian terakhir Indonesia merdeka dari Belanda. Peran Sukarno sebagai presiden sebagian besar bersifat seremonial, namun sebagai “Bapak Bangsa” ia mempunyai banyak pengaruh.

Negara baru ini menghadapi sejumlah tantangan; Muslim, Hindu, dan Kristen bentrok; etnis Tionghoa bentrok dengan warga Indonesia; dan kaum Islamis berperang melawan komunis yang pro-ateis. Selain itu, militer terbagi antara pasukan terlatih Jepang dan mantan pejuang gerilya.

Pada bulan Oktober 1952, mantan gerilyawan mengepung istana Sukarno dengan tank, menuntut agar parlemen dibubarkan. Sukarno keluar sendirian dan memberikan pidato, yang meyakinkan pihak militer untuk mundur.

Namun pemilu baru pada tahun 1955 tidak memberikan dampak apa pun untuk meningkatkan stabilitas negara. Parlemen terpecah di antara berbagai faksi yang berselisih dan Sukarno khawatir seluruh gedung akan runtuh.

Tumbuhnya Otokrasi

Sukarno merasa ia membutuhkan lebih banyak otoritas dan demokrasi gaya Barat tidak akan pernah berfungsi dengan baik di Indonesia yang bergejolak.

Meskipun mendapat protes dari Wakil Presiden Hatta, pada tahun 1956 ia mengajukan rencananya untuk “demokrasi terpimpin”, yang mana Sukarno, sebagai presiden, akan memimpin masyarakat untuk mencapai konsensus mengenai isu-isu nasional.

Pada bulan Desember 1956, Hatta mengundurkan diri karena menentang perebutan kekuasaan yang terang-terangan ini—yang merupakan sebuah kejutan bagi masyarakat di seluruh negeri.

Pada bulan itu dan memasuki bulan Maret 1957, para komandan militer di Sumatra dan Sulawesi menggulingkan pemerintah daerah yang berasal dari Partai Republik dan mengambil alih kekuasaan.

Mereka menuntut agar Hatta diangkat kembali dan pengaruh komunis dalam politik diakhiri. Sukarno menanggapinya dengan melantik Djuanda Kartawidjaja sebagai wakil presiden, yang menyetujui “demokrasi terpimpin” dengannya, dan mengumumkan darurat militer pada 14 Maret 1957.

Baca Juga : Soekarno di Balik Revolusi Iran

Di tengah ketegangan yang meningkat, Sukarno menghadiri acara sekolah di Jakarta Pusat pada tanggal 30 November 1957. Seorang anggota kelompok Darul Islam mencoba membunuhnya di sana dengan granat.Sukarno tidak terluka, namun enam anak sekolah tewas.

Sukarno memperketat cengkeramannya di Indonesia, mengusir 40.000 warga Belanda dan menasionalisasi seluruh properti mereka, serta perusahaan milik Belanda seperti perusahaan minyak Royal Dutch Shell.

Dia juga menerapkan peraturan yang melarang kepemilikan tanah dan bisnis di pedesaan oleh etnis Tionghoa, yang memaksa ribuan warga Tiongkok pindah ke kota dan 100.000 orang kembali ke Tiongkok.

Untuk memadamkan oposisi militer di pulau-pulau terpencil, Sukarno terlibat dalam invasi udara dan laut habis-habisan di Sumatra dan Sulawesi.

Semua pemerintahan pemberontak telah menyerah pada awal tahun 1959, dan pasukan gerilya terakhir menyerah pada bulan Agustus 1961.

Pada tanggal 5 Juli 1959, Sukarno mengeluarkan keputusan presiden yang membatalkan UUD saat ini dan menerapkan kembali UUD 1945, yang memberikan kekuasaan yang jauh lebih luas kepada presiden.

Dia membubarkan parlemen pada bulan Maret 1960 dan membentuk Parlemen baru, dan dia menunjuk langsung setengah dari anggotanya.

Militer menangkap dan memenjarakan anggota oposisi partai Islam dan sosialis serta menutup surat kabar yang mengkritik Sukarno.

Presiden juga mulai menambahkan lebih banyak komunis ke dalam pemerintahannya sehingga ia tidak hanya bergantung pada militer untuk mendapatkan dukungan.

Menanggapi gerakan menuju otokrasi ini, Sukarno menghadapi lebih dari satu upaya pembunuhan. Pada tanggal 9 Maret 1960, seorang perwira Angkatan Udara Indonesia memberondong istana presiden dengan senapan mesin di MiG-17 miliknya, namun gagal membunuh Sukarno.

Kelompok Islam kemudian menembak presiden saat salat Idul Adha pada tahun 1962, namun sekali lagi Sukarno tidak terluka.

Pada tahun 1963, Parlemen yang dipilih oleh Sukarno mengangkatnya sebagai presiden seumur hidup. Sebagai seorang diktator, ia menjadikan pidato dan tulisannya sebagai mata pelajaran wajib bagi semua pelajar Indonesia, dan semua media massa di tanah air diharuskan memberitakan hanya ideologi dan tindakannya.

Untuk melengkapi pemujaan terhadap kepribadiannya, Sukarno mengganti nama gunung tertinggi di negara itu menjadi “Puntjak Sukarno,” atau Puncak Sukarno, untuk menghormatinya.

Kudeta Soeharto

Meskipun Sukarno tampaknya ingin menguasai Indonesia, koalisi dukungan militer/komunisnya masih rapuh. Militer tidak menyukai pertumbuhan pesat komunisme dan mulai mencari aliansi dengan para pemimpin Islam, yang juga tidak menyukai komunis yang pro-ateisme.

Merasa bahwa militer semakin kecewa, Sukarno mencabut darurat militer pada tahun 1963 untuk mengekang kekuasaan Angkatan Darat.

Pada bulan April 1965, konflik antara militer dan komunis meningkat ketika Sukarno mendukung seruan pemimpin komunis Aidit untuk mempersenjatai kaum tani Indonesia.

Intelijen AS dan Inggris mungkin telah atau belum menjalin kontak dengan militer di Indonesia untuk menjajaki kemungkinan menjatuhkan Sukarno.

Sementara itu, masyarakat awam sangat menderita karena hiperinflasi melonjak hingga 600%; Sukarno tidak begitu peduli terhadap perekonomian dan tidak melakukan apa pun terhadap keadaan.

Saat fajar pada tanggal 1 Oktober 1965, ” Gerakan 30 September ” yang pro-komunis menangkap dan membunuh enam jenderal senior Angkatan Darat.

Gerakan ini mengklaim bahwa mereka bertindak untuk melindungi Presiden Sukarno dari kudeta Angkatan Darat yang akan datang. Ia mengumumkan pembubaran parlemen dan pembentukan “Dewan Revolusi”.

Mayor Jenderal Suharto dari komando cadangan strategis mengambil kendali Angkatan Darat pada tanggal 2 Oktober, setelah dipromosikan menjadi panglima militer oleh Sukarno yang enggan, dan dengan cepat mengatasi kudeta komunis.

Suharto dan sekutu Islamnya kemudian memimpin pembersihan kelompok komunis dan sayap kiri di Indonesia, menewaskan sedikitnya 500.000 orang di seluruh negeri dan memenjarakan 1,5 juta orang.

Sukarno berusaha mempertahankan kekuasaannya dengan menyampaikan seruan kepada masyarakat melalui radio pada bulan Januari 1966.

Demonstrasi mahasiswa besar-besaran  terjadi, dan seorang mahasiswa ditembak mati dan dijadikan martir oleh Angkatan Darat pada bulan Februari. Pada tanggal 11 Maret 1966, Sukarno menandatangani Perintah Presiden yang dikenal dengan  Supersemar  yang secara efektif menyerahkan kendali negara kepada Jenderal Soeharto.

Beberapa sumber mengklaim dia menandatangani perintah tersebut dengan todongan senjata.

Suharto segera membersihkan pemerintahan dan Angkatan Darat dari loyalis Sukarno dan memulai proses pemakzulan terhadap Sukarno atas dasar komunisme, kelalaian ekonomi, dan “degradasi moral”—yang mengacu pada sikap main perempuan Sukarno yang terkenal itu.

Kematian

Pada 12 Maret 1967, Sukarno secara resmi digulingkan dari kursi kepresidenan dan menjadi tahanan rumah di Istana Bogor. Rezim Suharto tidak mengizinkannya mendapatkan perawatan medis yang layak, sehingga Sukarno meninggal karena gagal ginjal pada tanggal 21 Juni 1970 di Rumah Sakit Angkatan Darat Jakarta. Dia berusia 69 tahun.

Warisan

Sukarno meninggalkan Indonesia yang merdeka—suatu pencapaian besar yang berskala internasional. Di sisi lain, meski menjalani rehabilitasi sebagai tokoh politik yang disegani, Sukarto juga menciptakan sederet persoalan yang terus menghantui Indonesia saat ini. Putrinya, Megawati, menjadi presiden kelima Indonesia.

Sumber

  • Hanna, Willard A. “ Sukarno .” Encyclopædia Britannica , 17 Juni 2018.
  • Sukarno .” Sungai Ohio – Ensiklopedia Dunia Baru .
Tulisan Terkait: