Dominasi Platform Digital Ciptakan Ketimpangan Ekosistem

Pendidikan30 Dilihat
Mudabicara.com_Dominasi platform digital dinilai menciptakan ketimpangan dalam ekosistem perdagangan modern. CEO Indonesia Economic Forum, Sachin V. Gopalan, menegaskan bahwa model platform-centric saat ini membuat hanya pemain besar yang mampu bertahan, sementara pelaku usaha kecil semakin terpinggirkan. “Digital commerce dunia kita sekarang platform centric. Hanya yang besar yang bisa menang, yang lainnya pasti mati,” ujarnya dalam Webinar Penerimaan Mahasiswa Baru (PMB) Batch 11 Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) yang mengangkat tema Democratizing Commerce Through Open Digital Networks pada Jumat (10/04/2026). Dalam paparannya, Sachin menjelaskan bahwa dominasi platform besar telah membentuk struktur pasar yang cenderung mengarah pada monopoli atau duopoli. Kondisi ini membuat akses pasar digital terkonsentrasi pada segelintir pemain, sehingga menyulitkan pelaku usaha kecil untuk berkembang. Baca Juga: Prabowo Tegas Larang Pejabat Bekingi Tambang dan Perkebunan Ilegal Sachin menilai sistem platform tertutup membatasi interaksi antara penjual dan pembeli hanya dalam satu ekosistem. Akibatnya, pelaku usaha harus bergantung pada satu platform untuk menjangkau konsumen. “Kalau kita buka aplikasi baru, satu tahun pasti mati karena tidak bisa lawan platform besar,” katanya. Selain itu, ia juga menyoroti tingginya biaya komisi dalam model platform digital yang berkisar antara 15 hingga 30 persen. Beban tersebut, menurutnya, pada akhirnya ditanggung oleh konsumen. “Platform bisa ambil 15 sampai 30 persen. Tapi sebenarnya yang bayar itu pembeli,” jelasnya

Open Digital Networks Jadi Alternatif

Sebagai solusi, Sachin memperkenalkan konsep open digital networks melalui inisiatif Indonesia Open Network (ION). Sistem ini memungkinkan interaksi langsung antara penjual dan pembeli tanpa perantara platform tunggal. Dalam model ini, biaya transaksi dapat ditekan hingga nol atau sangat rendah, sehingga dinilai lebih efisien dan adil. Baca Juga: Bank Dunia Prediksi Ekonomi Indonesia Tumbuh 4,7% pada 2026, di Bawah Target APBN “Kalau di open network, transaction fee bisa nol. Jadi lebih murah, lebih efisien, dan lebih adil,” ungkapnya. Selain itu, sistem ini memberikan fleksibilitas lebih besar. Pembeli dapat mengakses berbagai produk dalam satu jaringan, sementara penjual cukup mengelola satu toko digital yang terhubung ke berbagai kanal distribusi. Sachin menyebut konsep open network telah lebih dulu diterapkan di India dan mulai diadopsi oleh berbagai negara. Indonesia dinilai memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu negara dengan tingkat adopsi tercepat. “India jadi pionir, tapi Indonesia bisa jadi yang paling cepat mengadopsi,” ujarnya. Ia menambahkan, pengembangan ION melibatkan dukungan pemerintah, asosiasi bisnis, serta berbagai pemangku kepentingan sebagai bagian dari transformasi ekonomi digital nasional. Baca Juga: Laksanakan Halalbihalal di Kemenko Pangan, Zulhas Ajak 20 Organisasi Pemuda Jaga Ketahanan Pangan

Dorong Lapangan Kerja dan Wirausaha

Lebih lanjut, Sachin menilai open digital networks berpotensi menciptakan ekosistem ekonomi baru, termasuk dalam membuka lapangan kerja. Ia menyebut profesi baru yang akan muncul, seperti operator digital commerce, pengembang aplikasi jaringan terbuka, hingga spesialis katalog produk dan logistik. “Lapangan kerja bisa meningkat lima kali karena banyak bisnis baru muncul di daerah,” katanya. Model ini juga membuka peluang bagi generasi muda untuk menjadi wirausaha digital tanpa hambatan biaya teknologi. “Dengan open network, kalian bisa jadi entrepreneur dari daerah tapi jual ke seluruh Indonesia,” ujarnya.