Ekowisata Mangrove Ketapang Urban Aquaculture: Antara Daya Tarik Wisata dan Tanggung Jawab Konservasi

Opini16 Dilihat

Mudabicara.com_Di tengah meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap isu lingkungan, konsep ekowisata menjadi salah satu alternatif pengembangan pariwisata yang tidak hanya berorientasi pada keuntungan ekonomi, tetapi juga pada pelestarian alam dan pemberdayaan masyarakat. Salah satu destinasi yang menerapkan konsep tersebut adalah Ekowisata Mangrove Ketapang Urban Aquaculture.

Ekowisata Mangrove yang di Desa Ketapang, Kecamatan Mauk, Kabupaten Tangerang, Banten ini bisa menjadi contoh nyata suksesnya penerapan ekowisata berbasis pendidikan, pemberdayaan masyarakat dan konservasi pesisir. Destinasi seluas 26,9 hektare ini berhasil menyulap kawasan pesisir menjadi pusat edukasi dan rekreasi bernilai ekonomi.

Kawasan yang sangat relevan sebagai model pariwisata berkelanjutan di wilayah Kabupaten Tangerang ini pembangunan mulai dilakukan sejak tahun 2019. Sumber pembiayaan dalam proses pengembangannya bersumber dari APBN, APBD Provinsi dan Kabupaten, Kementerian PUPR, perusahaan berbentuk CSR juga swadaya masyarakat.

Baca Juga: Muktamar NU ke-35, Gus Yahya Mantap Calonkan Diri Lagi sebagai Ketua Umum

Keunggulan utama Ekowisata Mangrove Ketapang Urban Aquaculture terletak pada fungsi gandanya sebagai kawasan konservasi dan sarana edukasi. Kehadirannya menjadi bukti bahwa konservasi dan edukasi dapat berjalan beriringan apabila dikelola secara tepat.

Hutan mangrove memiliki peran penting dalam menjaga keseimbangan ekosistem pesisir, seperti mencegah abrasi pantai, menyerap karbon, menjadi habitat berbagai biota laut, serta melindungi wilayah pesisir dari dampak gelombang dan perubahan iklim.

Dengan 16 jenis tanaman mangrove yang mendominasi kawasan, seperti Rhizopora sp. pengunjung dapat belajar langsung mengenai budidaya dan pentingnya menjaga ekosistem pesisir. Melalui keberadaan kawasan wisata ini, masyarakat dapat melihat secara langsung manfaat ekosistem mangrove yang selama ini sering kali kurang dipahami.

Selain itu, konsep urban aquaculture yang diterapkan juga memberikan gambaran mengenai bagaimana kegiatan budidaya perikanan dapat dilakukan secara lebih berkelanjutan dan selaras dengan kelestarian lingkungan. Pengunjung juga dapat mengeksplorasi kampung nelayan yang telah ditata dengan baik sambil menikmati keindahan panorama matahari terbenam.

Dari sisi sosial dan ekonomi, keberadaan ekowisata ini memberikan peluang bagi masyarakat sekitar untuk terlibat dalam berbagai aktivitas ekonomi, seperti penyediaan jasa wisata, penjualan produk olahan hasil perikanan, hingga kegiatan edukasi lingkungan. Kehadiran wisatawan dapat meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru.

Baca Juga: KPK Selidiki Dugaan Gratifikasi Terkait Amplop untuk Menteri Kehutanan

Dengan demikian, manfaat yang dihasilkan tidak hanya dirasakan oleh pengelola, tetapi juga oleh komunitas lokal yang menjadi bagian dari kawasan tersebut.

Tantangan dan Optimalisasi Pengelolaan

Meskipun memiliki berbagai keunggulan, Ekowisata Mangrove Ketapang Urban Aquaculture masih menghadapi sejumlah tantangan dan perlunya upaya optimalisasi kerja sama antara Badan Usaha Milik Daerah (BUMD), pemerintah daerah, dan masyarakat. Salah satu aspek yang perlu dikritisi adalah kualitas dan ketersediaan fasilitas pendukung wisata.

Keterbatasan sarana rekreasi dan edukasi sering menyebabkan penurunan minat serta jumlah kunjungan wisatawan dalam jangka panjang. Beberapa fasilitas edukasi dan informasi masih dapat ditingkatkan agar pengunjung memperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai fungsi ekologis mangrove dan konsep urban aquaculture.

Tidak sedikit wisatawan yang datang hanya untuk menikmati pemandangan atau berfoto tanpa memahami pesan konservasi yang ingin disampaikan. Kondisi ini menunjukkan bahwa fungsi edukatif kawasan belum sepenuhnya optimal.

Selain itu, pengelolaan kawasan perlu lebih memperhatikan keseimbangan antara aktivitas wisata dan upaya konservasi. Semakin tingginya jumlah pengunjung berpotensi menimbulkan tekanan terhadap lingkungan apabila tidak diimbangi dengan pengawasan yang memadai.

Baca Juga: Empat Bidang Tanah Diwakafkan Abdul Mu’ti, Akan Dimanfaatkan untuk Dakwah dan Pendidikan

Sampah yang ditinggalkan wisatawan, kerusakan vegetasi akibat aktivitas yang tidak terkontrol, serta gangguan terhadap habitat satwa merupakan beberapa risiko yang dapat muncul. Jika aspek ini diabaikan, tujuan utama ekowisata sebagai sarana pelestarian lingkungan dapat terancam oleh aktivitas pariwisata itu sendiri.

Kritik lainnya berkaitan dengan promosi dan pengembangan program edukasi. Hingga saat ini, informasi mengenai kegiatan konservasi, penelitian, maupun partisipasi masyarakat dalam pengelolaan kawasan masih belum banyak dikenal oleh publik.

Padahal, daya tarik utama sebuah ekowisata tidak hanya terletak pada keindahan alamnya, tetapi juga pada pengalaman belajar yang ditawarkan. Kurangnya publikasi mengenai aspek edukatif dapat menyebabkan masyarakat memandang kawasan ini sebagai destinasi wisata biasa, bukan sebagai pusat pembelajaran lingkungan yang memiliki nilai penting bagi keberlanjutan ekosistem pesisir.

Untuk mengatasi berbagai tantangan tersebut, beberapa langkah perbaikan perlu dilakukan. Pertama, pengelola perlu meningkatkan kualitas fasilitas edukasi melalui penyediaan papan informasi yang lebih interaktif, pusat informasi lingkungan, serta pemanfaatan teknologi digital seperti kode QR yang dapat memberikan penjelasan mendalam mengenai jenis-jenis mangrove, manfaat ekologisnya, dan konsep urban aquaculture.

Kedua, program edukasi berbasis pengalaman perlu diperkuat melalui kegiatan penanaman mangrove, pelatihan konservasi, dan wisata edukatif yang melibatkan pemandu profesional sehingga pengunjung tidak hanya menikmati keindahan alam, tetapi juga memperoleh wawasan yang bermanfaat.

Baca Juga: Soroti Celah Kecurangan Haji, Menhaj Perintahkan Pengawasan Diperketat

Ketiga, pengelola perlu menerapkan sistem pengelolaan lingkungan yang lebih ketat, termasuk pengawasan terhadap jumlah pengunjung, pengelolaan sampah yang efektif, serta evaluasi berkala terhadap kondisi ekosistem mangrove. Langkah ini penting untuk memastikan bahwa aktivitas wisata tidak menimbulkan dampak negatif terhadap lingkungan.

Keempat, kerja sama dengan sekolah, perguruan tinggi, komunitas lingkungan, dan instansi pemerintah perlu diperluas guna mendukung penelitian, kegiatan edukasi, serta program pemberdayaan masyarakat yang berkelanjutan.

Pada akhirnya, Ekowisata Mangrove Ketapang Urban Aquaculture memiliki potensi besar untuk menjadi contoh pengelolaan wisata berkelanjutan yang berhasil mengintegrasikan aspek konservasi, pendidikan, dan ekonomi masyarakat. Namun, keberhasilan tersebut tidak dapat dicapai hanya dengan mengandalkan daya tarik alam semata. Diperlukan komitmen yang kuat dari pengelola, masyarakat, dan pemerintah untuk terus melakukan perbaikan dan inovasi.

Dengan pengelolaan yang lebih profesional, edukatif, dan berorientasi pada kelestarian lingkungan, Ekowisata Mangrove Ketapang Urban Aquaculture tidak hanya akan menjadi destinasi wisata yang menarik, tetapi juga menjadi simbol nyata bahwa pembangunan dan pelestarian lingkungan dapat berjalan berdampingan demi masa depan yang lebih berkelanjutan.

 

Penulis: Dr. Drs. H. Soma Atmaja, M.Si.