Mudabicara.com_Bagi mahasiswa yang kuliah di Yogyakarta, Angkringan mungkin sudah tidak asing. Sebab angkringan adalah tempat makan utama paling favorit akhir bulan. Namun, barangkali tidak semua mahasiswa punya pengalaman yang sama tentang tempat makan yang satu ini. Ditengah semangat bisnis yang mulai muncul, Kamal Abdul Aziz seorang pemuda asal Pati memberanikan diri buka usaha angkringan, bukan di Pati kota asalnya namun di Tanah Laut, Kalimantan Selatan.

Berikut adalah rekam jejaknya

Kamal Abdul Aziz, sosok sederhana yang mempunyai beberapa outlite angkringan di Kalimantan. Kamal lahir di Pati, 6 Maret 1991. Dia bersekolah di MA Raudlatul Ulum Pati dan melanjutkan kuliah jurusan sastra inggris di Universitas Islam Negeri Yogyakarta sampai meraih gelar sarjana Humaniora. Sejak kuliah tahun 2010, dirinya sudah mempunyai etos kerja yang tinggi dengan mengisi waktu istirahat malam dengan bekerja di warung internet (Warnet). Saat liburan semesteran, Kamal memilih tidak pulang kampung seperti teman-temannya. Dia memilih untuk mencari kerja paruh waktu di Yogyakarta. Selama kuliah memang dia bukan termasuk mahasiswa yang aktif berorganisasi namun sangat organisatoris. Hal itu terbukti saat ia mampu lulus cepat. Kamal adalah orang yang sangat sederhana serta memiliki kepercayaan yang tinggi.

Kamal selalu menjaga kesederhanaannya. Setelah lulus apalagi dengan predikat cumlaude dia tidak melanjutkan studi ke jenjang selanjutnya. Dia memilih pindah ke Kalimantan guna membuka usaha. Tentu bukan hal yang ideal bagi seorang yang baru lulus. Umumnya mereka yang lulus cepat akan melanjutkan studi atau mencari pekerjaan kantoran. Namun Kamal memilih jalan yang berbeda dengan membuka usaha Angkringan. Itupun di Tanah Laut, sebuah kota yang belum punya sejarah tentang budaya ngangkring dan ngopi ala Yogyakarta, Klaten, atau Solo.

Berat memang melawan stigma bahwa sarjana harus kerja kantoran. Namun Kamal ingin mewujudkan mimpinya semasa kuliah. Dia ingin mempunyai usaha di bidang kuliner serta beberapa karyawan.

Rekan Bisnis

Saat memulai usaha, Kamal ditemani adik sekaligus rekan bisnisnya yakni Habib Maulana. Dengan berbekal manajemen saat bekerja waktu mahasiwa, dia memulai bisnis. Dia menyewa tempat sederhana namun strategis. Usaha rintisan tentu perlu banyak otak-atik, mulai dari menganalisis harga bahan mentah, menentukan harga jual hingga proses marketing pun juga saat barang dagangan sisa tak laku. Kamal tak pernah mau mensikapi proses dengan berlebihan satu yang terus ia yakini bahwa usaha harus terus membuat inovasi serta memperpanjang harapan agar rintangan terasa ringan.

Tidak hanya sederhana sebagai seorang pemuda, Kamal juga memiliki keahlian komunikasi sosial yang luar biasa. Waktu berjalan hala rintangan di hadapi akhirnya hari ini dia memiliki beberapa cabang angkringan di Tanah Laut pun dengan beberapa karyawan. Harga yang pantas bagi sebuah kegigihan dan kesabaran. Apapun pilihan hidup harus tetap berjalan dan diperjuangkan. Sampai pada akhirnya dia ingin kembali ke Yogyakarta memetik mimpi yang pernah pupus untuk melanjutkan studi kembali dan bahagia bersama anak dan istrinya.

 

Penulis : Abidin Zainal

Editor : Zaki Muhamad