Mengenal Tokoh Sosiologi Modern Max Weber

Mudabicara.com_ Max Weber merupakan salah satu tokoh sosiologi modern yang memiliki peran penting dalam perkembangan ilmu sosial, terutama ilmu sosiologi. 

Selain itu Max Weber juga memiliki berbagai pengaruh melalui karya-karya monumentalnya yang hingga kini masih menjadi bahan diskusi para ilmuwan.

Nah, jika ingin mengetahui lebih lanjut tentang siapa itu Max Weber dan apa saja sumbangsih bagi keilmuwan di era modern. Silahkan baca ulasan artikel mudabicara berikut.

Baca Juga: Mengenal Teori Tindakan Sosial Max Weber

Sekilas Tentang Tokoh Sosiologi Max Weber

Max Weber
Source : http://ntrzacatecas.com

Maximilian Weber adalah seorang ahli sosiologi dan ekonomi politik dari Jerman. Nama kecil Max Weber adalah  Karl Emil Maximilian Weber.

Dalam perjalanan hidupnya tokoh yang besar di negara Jerman ini kemudian menjadi salah satu pelopor ilmu sosiologi dan administrasi negara modern.

Meskipun dalam berbagai karyanya Weber juga menaruh perhatian pada bidang ilmu ekonomi namun karya yang berhubungan dengan sosiologi, terutama sosiologi agama lebih besar pengaruhnya dalam melambungkan namanya.

Misalnya karya yang paling fenomenal adalah sebuah esai berjudul Etika Protestan dan Semangat Kapitalisme yang mampu memberikan sumbangsih pondasi penelitian dalam pengembangan ilmu sosiologi agama.

Perpektif Max Weber terkait agama merupakan salah satu faktor utama perbedaan pandangan antara budaya Barat dan Timur dalam melihat agama.

Baca Juga : Memahami Etika Protestan Dan Semangat Kapitalisme Max Weber

Di samping itu, dalam karya terkenal lain berjudul Politik Sebagai Panggilan, Weber mendefinisikan negara sebagai sebuah lembaga yang memiliki monopoli dalam penggunaan kekuatan fisik secara sah.

Definisi tersebut kemudian menjadi landasan sekaligus rujukan penting para ilmuwan sosial dalam studi tentang ilmu politik barat modern kala itu.

Perjalanan Hidup Max Weber

Max Weber lahir di Erfurt, Jerman pada tanggal 21 April 1864 dan meninggal di Munich Jerman pada tanggal 14 Juni 1920, di usia 56 tahun.

Ayahnya seorang birokrat yang menempati posisi setrategis dalam pemerintahan sedangkan ibunya seorang penganut calvinisme yang taat. Dari latar belakang orang tuanya tentu Weber bisa dikatakan berasal dari kalangan mapan menengah keatas.

Pendidikan Max Weber berawal dari Universitas Heidelberg dengan mempelajari berbagai kajian ilmu meliputi filsafat, ekonomi, sejarah dan hukum.

Max Weber

Sebagai sosok yang memiliki kemampuan akademis Weber pun mampu beradaptasi dan berkembang begitu cepat dalam proses belajar.

Tiga tahun setelah belajar di Universitas Heidelberg, Weber melanjutkan studi doktoral di Universitas Berlin dan pada akhirnya menjadi salah satu dosen di Universitas Berlin tersebut.

Selain menjadi seorang dosen, Weber juga mendalami berbagai disiplin ilmu antara lain ekonomi, sejarah dan sosiologi.

Baca Juga : Mengenal Teori Sosiologi Agama Max Weber

Berkat ketekunan dan keteladanannya dalam belajar pada tahun 1896 Max Weber mendapatkan gelar profesor bidang ekonomi di Universitas Heidelberg.

Di sisi lain, Max Weber pun sosok yang juga terkenal sebagai pendiri German Sociological Society (1910).

Bahkan rumahnya menjadi salah satu tempat diskusi bagi para intelektual seperti George Simmel, Robert Michels dan George Lucas.

Tidak hanya itu, Weber sendiri juga aktif secara politik dan menulis banyak esai tentang sejumlah isu pada masanya.

Pemikiran dan Karya Max Weber

Pemikiran Max Weber yang paling fenomenal adalah tulisan-tulisannya yang berkaitan dengan ilmu sosiologi.

Kontribusinya terhadap ilmu sosiologi dapat dilihat dari berbagai karya seperti Basic Sociological Terms, Objectivity in Social Science, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalismdan The Types of Legitimate Domination.

1. Basic Sociological Terms

Dalam Basic Sociological Terms, Weber membahas tentang fokus kajian sosiologi terkait teori tindakan sosial.

Max Weber menilai tindakan sosial setiap tindakan individu yang ditujukan kepada individu, atau kelompok lain memiliki makna yang bersifat subjektif.

Oleh karea itu, tujuan utama dari sosiologi menurut Weber adalah memahami secara mendalam (verstehen) makna subjektif dari tindakan sosial yang dilakukan oleh individu tersebut.

Weber membagi tindakan sosial menjadi empat tipe. Tipe pertama adalah rasional-instrumental (zweckrational), mengacu pada tindakan yang dilandasi oleh rasionalitas sang aktor demi mencapai tujuan tertentu, seperti transaksi ekonomi.

Baca Juga : Mengenal Teori Hukum Tiga Tahap Auguste Comte

Tipe kedua tentang rasional nilai (wertrational), mengacu pada tindakan yang dilandasi oleh kepercayaan terhadap nilai-nilai tertentu, seperti berdoa bersama yang dilandasi oleh nilai agama.

Tipe ketiga yakni afeksi, mengacu pada tindakan yang dilandasi oleh perasaan seorang individu, seperti menangis di pemakaman.

Dan tipe terakhir adalah tradisional, mengacu pada tindakan yang dilandasi oleh tradisi, atau dengan kata lain, telah dilakukan berulang-ulang sejak zaman dahulu, seperti mudik.

2. Objectivity in Social Science

Pemikiran Max Weber tentang Sosiologi tidak hanya sebatas tindakan sosial saja, melainkan juga membahas tentang tipe ideal yang tercantum dalam salah satu karyanya yang berjudul Objectivity in Social Science (1904).

Dalam karya Objectivity in Social Science, Weber mencetuskan sebuah konsep bernama tipe ideal.

Tipe ideal adalah sebuah proses menangkap karakteristik-karakteristik penting dari sebuah fenomena agar para ilmuwan tetap objektif dan terukur. 

Oleh karena itu, Weber membedakan antara tipe ideal dan realitas sosial yang ada di lapangan. Misalnya seorang sosiolog bisa saja menyatakan bahwa penggunaan atribut keagamaan oleh individu merupakan bentuk tindakan sosial rasional nilai, karena tindakan tersebut dilandasi oleh nilai-nilai agama.

Baca Juga : Mengenal Teori Hermeneutika Hans Georg Gadamer

Namun kenyataannya, penggunaan atribut keagamaan pasti melibatkan faktor-faktor eksternal lain seperti faktor emosi dan tradisi.

Dari penjelasan di atas menunjukkan bahwa tipe ideal hanya dapat digunakan untuk menjelaskan satu aspek spesifik dari sebuah fenomena.

Dan seorang ilmuwan sosial harus mampu menjelaskan secara detail mengapa ia memilih untuk menggunakan tipe ideal sebagai pisau analisis. 

3. The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism

Dalam Karya The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism (1904–1905). dalam The Protestant Ethic, Weber mencoba melihat hubungan antara doktrin keagamaan dengan semangat kapitalisme.

Data statisik yang berhasil Weber kumpulkan menunjukkan bahwa mayoritas pemilik modal, pemimpin perusahaan, serta tenaga kerja ahli di Jerman pada masa Weber merupakan pengikut ajaran Kristen Protestan.

Weber melanjuutkan langkah dengan melakukan investigasi dan menemukan bahwa salah satu cabang ajaran Kristen Protestan, yaitu Calvinisme, memiliki doktrin yang kompatibel dengan semangat kapitalisme.

Menurut Weber, doktrin Calvinisme yang dibawa oleh Richard Baxter, penerus John Calvin, sarat dengan “etos keduniawian” yang mendorong pemeluknya untuk berkerja, dan mengumpulkan kekayaan sebanyak-banyaknya.

Baca Juga : Mengenal Karya Auguste Comte: Course of Positive Philosophy

Doktrin Calvinisme mengajarkan bahwa aktivitas ekonomi merupakan bentuk pelayanan kepada Tuhan. Selain itu, doktrin Calvinisme juga menyatakan bahwa kekayaan seorang individu menandakan kecintaan Tuhan terhadap individu tersebut.

Hal inilah yang menyebabkan pemeluk ajaran Calvinis berlomba-lomba mengumpulkan kekayaan, untuk membuktikan rasa cinta Tuhan atas dirinya.

Lewat The Protestant Ethic, Weber menyatakan bahwa selain hasrat untuk menjadi kaya dan perkembangan teknologi, motivasi internal yang berasal dari nilai-nilai tertentu (dalam kasus ini, agama) juga turut berperan dalam mengembangkan semangat kapitalisme.

4. The Types of Legitimate Domination 

Tidak hanya berhenti pada karya yang sudah disebutkan di atas. Weber juga menuangkan pemikiran lain pada karyanya yang diberi judul The Types of Legitimate Domination (1914).

Dalam The Types of Legitimate Domination, pada karya ini Weber membahas tentang tiga basis legitimasi seorang pemimpin: rasional, tradisional, dan karismatik.

Basis legitimasi rasional mengacu pada seperangkat aturan hukum yang telah disepakati, seperti undang-undang pemilihan umum yang mengatur jalannya pemilihan presiden, gubernur, serta anggota dewan.

Basis legitimasi tradisional mengacu pada kepercayaan terhadap tradisi, seperti tradisi memilih kepala suku berdasarkan garis keturunan.

Basis legitimasi yang terakhir, kharismatik, mengacu pada kesucian, kepahlawanan, atau karakter-karakter lain yang membuat seorang individu dinobatkan sebagai seorang pemimpin, contohnya seperti nabi dan pemimpin keagamaan.

Baca Juga :Mengenal Karya Auguste Comte System of Positive Politics

Lebih lanjut, Weber membahas tentang karakteristik kelompok yang dipimpin oleh masing-masing pemimpin, dengan basis legitimasi yang berbeda.

Dalam kelompok yang dipimpin oleh pemimpin dengan basis legitimasi rasional, baik anggota kelompok maupun pemimpin kelompok diwajibkan untuk tunduk pada hukum yang berlaku.

Hubungan antara pemimpin dan anggota kelompok bersifat impersonal.

Artinya, anggota kelompok hanya dituntut untuk patuh kepada pemimpin, selama anggota tersebut memiliki tugas, atau kewajiban yang diatur oleh hukum. Selebihnya, anggota kelompok dipandang sebagai individu yang bebas.

Dalam kelompok yang dipimpin oleh pemimpin dengan basis legitimasi tradisional, anggota kelompok merupakan “bawahan” atau “subyek” dari pemimpin kelompok.

Hubungan antara anggota dan pemimpin kelompok dilandasi oleh kesetiaan sang anggota terhadap pemimpinnya.

Baca Juga : 10 Manfaat Belajar Sosiologi Untuk Anak Muda

Terakhir, dalam kelompok yang dipimpin oleh pemimpin dengan basis legitimasi karismatik, anggota kelompok (pengikut) memberikan seluruh jiwa dan raganya kepada sang pemimpin.

Pada umumnya penguasa atau pemimpin dianggap sebagai utusan Tuhan, atau individu dengan kekuatan gaib.

Sekian ulasan tentang sosok inspiratif Max Weber kali ini sampai ketemu pada ulasan berikutnya.Selamat membaca!

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *