Srrrrrrrrrrttttt…..srrrrrtttttt….
Gesekan ujung pisau dengan tembok disertai suara langkah sepatu boot terdengar mendekat ke
arah seorang pemuda berkemeja pastel di salah satu lorong gedung olahraga. Nafasnya terengah
akibat menaiki tangga 3 lantai. Pandangannya terkecoh di kegelapan malam. Langkah kakinya
terseok-seok mencari tempat bersembunyi paling aman dari seseorang atau sesuatu di belakangnya
yang sedang memburunya.

Entah, ia tak merasa memiliki musuh, namun keadaan malam itu membuatnya mengingat apakah ia
bermasalah dengan seseorang. Atau hanya maling saja yang kebetulan melihatnya malam itu dan
tidak ingin tepergok. Akal dan tubuhnya tidak bisa bekerjasama. Ia terlalu lelah. Terlalu letih. Namun
gesekan pisau dan tembok semakin jelas, artinya seseorang yang mengejarnya semakin dekat.
Dapat…! Ia melihat satu ruang dengan pintu yang terbuka di sisi kanan lorong. Tangan kanannya tak
terkendali menutup kenop pintu. Semakin gelap, tangannya membuat gerakan meraba seperti orang
buta. Tak ada cahaya. Sama sekali tidak ada. Tangannya menyentuh sesuatu yang dingin. Seperti
besi. Itu lemari loker penyimpanan. Ia menyadari mungkin saat ini ia berada di ruang ganti atlet
mengingat gedung olahraga memiliki banyak ruang ganti atlet sebagai fasilitas pendukung. Kakinya
berusaha menyusuri ruangan tanpa bersuara satu desibel pun.

Matanya membelalak berusaha beradaptasi dengan gelap. Kedua tangannya meraba kanan dan kiri
sebagai pemandu. Kakinya tetap melangkah tak bersuara mencari sudut persembunyian. Ia
merasakan ujung penghabisan lemari loker yang panjang. Tanpa pikir panjang tubuhnya berjongkok
di samping loker. Kedua tangannya memeluk lutut dan telinganya masih harus awas dengan keadaan
sekitar. Hening. Beberapa menit ia menunggu. Suara deritan ujung pisau dengan tembok tak lagi
terdengar. Suara langkah kaki pun lenyap. “sepertinya sudah pergi” pikirnya.

Klack…klack…klack…
Suara kenop pintu dibuka paksa sesaat setelah ia berniat beranjak untuk memeriksa keadaan.
Tubuhnya kembali berjongkok. Kedua tangan membungkam mulutnya sendiri sembari mengatur
nafas yang tak keruan. Suara pintu yang dibuka paksa karena terkunci dari dalam masih lantang
terdengar. Tubuh pemuda tersebut sudah basah oleh keringat. Prediksinya tentang apa yang akan
terjadi setelah ini sudah tidak dapat ia simpulkan. Cklek….Nyiiiittt. Pintu terbuka. Ia putus asa. Tak
mungkin ia menyelamatkan diri di ruang terbatas ini. Kemampuannya tak akan seimbang melawan
seseorang bersenjata dengan tangan kosong. Suara ujung pisau terdengar lagi. Kali ini bergesekan
dengan loker besi yang ada di ruang itu. Posisinya bersembunyi masih sama. Memunggungi loker. Ia
memejamkan matanya erat. Merapalkan doa yang sanggup ia panjatkan. “seseorang tolonglah aku.
Sial…aku tidak ingin mati seperti ini. Tolonglah…kumohon…seseorang datanglah…” . Batinnya
berisik sekali. Namun mulutnya tetap terjaga diam.

Matanya membelalak bergetar. Terkejut karena suara gesekan pisau sudah persis berada di sebelah
telinganya. Ia menyerah. Besok akan ada banyak berita mengenai penemuan mayat di ruang ganti
atlet gedung olahraga ini. Pikirannya kalut tak terkendali. Namun tiba-tiba…
Krrrrriiiiiiiiiiiiiing…

Sirine kebakaran berbunyi. Terkejut dengan apa yang baru saja terjadi, “penjahat” tersebut
meninggalkan ruang ganti tanpa menemukan targetnya malam itu. Nyawa pemuda itu selamat.
Entah Tuhan memang benar-benar mendengar doanya atau hanya nasib baik yang kebetulan
menyelamatkannya saat itu. Detak jantungnya sedikit memberikan ruang untuknya bernafas lega. Ia
segera beranjak keluar ruangan karena sirine itu juga bukan pertanda baik. Ia bersyukur bisa selamat
dari tikaman penjahat itu. Namun bukan berarti ia tak berkesempatan menyelamatkan diri dari
kebakaran.

ia berhasil keluar ruangan. Namun matanya berhenti menatap siluet seseorang di ujung lorong.
Seseorang dengan tempat sampah yang berasap di tangannya. Malam itu hanya pantulan cahaya
bulan yang membuat lorong gedung tidak sepenuhnya gelap. Mereka menatap satu sama lain.

 

Baca Juga https://mudabicara.com/lelaki-misterius/

***
“Hey anak baru, siang ini jangan sampai terlambat. Ingat, kau dan aku ditugaskan meliput persiapan
turnamen olahraga. Jika terlambat akan kupastikan kau menghadap kepala redaksi, mengerti!!”
Seorang senior “menyapa” Abim dengan nada senioritas yang angkuh. “Baik pak Mof, biarkan saya
menyelesaikan laporan secepatnya sebelum berangkat meliput siang ini.” Sembari menata lembaran
A4 di depannya, Abim mengiyakan ajakan senior yang sebenarnya baik namun memiliki perspektif
tegas terhadap pegawai baru.

Abim lolos sebagai pegawai baru di sebuah perusahaan media di kota kelahirannya setelah
menyelesaikan studinya di jurusan jurnalistik di salah satu kampus di luar kota. Belum sampai satu
bulan ia berada di sana. Posisinya terbilang cukup menyulitkan. Jurnalis-reporter. Pegawai lapangan
yang harus menginspeksi lokasi untuk mendapatkan data berita akurat jika tak mau dirundung dan
dituding tidak profesional oleh atasan. Salah menentukan narasumber untuk berita sederhana saja
bisa jadi urusan besar saat esensi dan tujuan tidak tersampaikan sesuai keinginan kepala redaksi.
Bagi Abim saat ini yang terpenting adalah menaati semua aturan yang diberikan atasan kepadanya.
Tak apa sulit di awal, lagipula ia harus belajar terbiasa dengan problematika dan konflik dunia
jurnalistik.

Ponsel pintarnya berbunyi. Tanda pesan masuk. “jika tidak ada lembur sampai larut, pulanglah
segera. Ibu akan memasak makan malam untukmu-ibu” Ditengah pengerjaan laporan usai liputan
empat hari lalu, ia memang selalu pulang larut. Wajar saja karena tenggat waktu yang diberikan
atasan olehnya tidak memberikannya kesempatan untuk beristirahat dan pulang cepat. Disisi lain ia
tidak bisa meninggalkan ibunya lama-lama. Jika saatnya pulang, ia akan pulang segera tanpa mampir
kemana-mana. Semenjak kakaknya tiada, Abim memang memutuskan untuk pulang dan mengurus
ibunya sendiri. Ayahnya juga sudah lama meninggal karena sakit. Jika semua kejadian tidak menimpa
kakaknya, saat ini Abim akan lebih memilih bekerja di kota tempat ia menimba ilmu. Paling tidak gaji
jurnalis disana lebih besar daripada di perusahaannya sekarang. Namun takdir tetap harus dihadapi.
Ia masih bersyukur bisa diterima di perusahaan yang terbilang berpengaruh di kotanya.
“Baiklah nyonya cerewet, semoga liputanku hari ini selesai cepat dan aku akan langsung pulang.”
Balas Abim dengan sedikit menggoda ibunya. Ia menutup poselnya. Meletakkannya di samping laci
portabel di meja kerjanya. Diluar terlihat semakin terik. Matahari terlihat tidak bersahabat hari ini.
Batinnya menggerutu karena ia harus melakukan liputan setelah menyelesaikan laporan. Ditambah
lagi senior yang belum begitu bersahabat dengannya. Ah sudahlah percuma ia mengeluh di awal
karirnya seperti ini. Lamunannya segera ia sudahi dan mencoba menelan semua beban perlahan.
Kaca gedung sedang dibersihkan dari luar oleh seorang petugas layanan kebersihan. Dalam hati,
Abim bersyukur masih diberikan pekerjaan yang lebih nyaman dari petugas tersebut yang harus berpanas-panasan dari pagi hingga entah kapan untuk menyelesaikan pembersihan kaca gedung
sebesar itu dengan pengaman seadanya. Tidak ada yang tau meskipun carmantel dan seat harness
terlihat kuat, namun kecelakaan bisa kapan saja terjadi . Petugas kebersihan tersebut berhenti
sejenak ditengah pekerjaannya. Memperhatikan pegawai yang tepat berada di depannya. Membaca
ID card yang melingkar di leher pegawai tersebut yang bertuliskan: Abimanyu Guinandra, Reporter.
Mata keduanya sempat bertemu sepersekian detik. Mereka tersenyum satu sama lain sebagai tanda
sapa. Gelang dengan lonceng kecil di tangan kiri petugas itu menyita perhatian Abim. Ia
memperhatikan sembari bergumam “seharusnya dia memakai jam tangan atau sesuatu yang lebih
berguna untuknya” lalu melanjutkan sisa pekerjaannya.

***
Kamera lapangan sudah bertengger manis di pundak senior Abim, Pak Mof. Mereka siap meliput
persiapan turnamen olahraga tingkat provinsi yang akan dilaksanakan kurang dari seminggu
kedepan di salah satu gedung olahraga terbesar di kota mereka tinggal. Liputan akan melaporkan
segala persiapan mulai dari stadion, gelanggang, fasilitas, latihan, panitia penyelenggara, serta
beberapa aspek lain yang harus masuk list laporan persiapan yang sudah dibicarakan pada rapat
redaksi kemarin. Waktu menunjukkan hampir pukul 5 sore setelah mereka berdua mengumpulkan
beberapa data dari tim penyelenggara turnamen beserta narasumber yang harus diwawancara mulai
siang tadi. Mereka harus bergegas untuk menyelesaikan reportase hasil liputan mereka sebelum hari
mulai gelap.

Sinar rembulan sudah menggantikan terik matahari saat Abim dan Pak Mof merampungkan semua
tanggungan pekerjaan mereka. Tinggal menunggu beberapa data peserta turnamen dari berbagai
kota yang masih disiapkan oleh tim penyelenggara. Selagi menunggu, Pak Mof keluar untuk merokok
dan menghubungi keluarganya bahwa mungkin dia akan terlambat pulang hari ini. Abim tak
ketinggalan untuk menghubungi ibunya karena merasa bersalah telah mengingkari janjinya untuk
pulang cepat. “Ibu maafkan aku. Hari ini sungguh bukan hari yang kuharapkan untuk pulang
terlambat. Makan malamlah dulu lalu istirahatlah tanpa menungguku. Beberapa data masih harus
kukerjakan dengan senior”. Jelas Abim kepada ibunya untuk mengerti situasinya saat ini. Tak lama
berselang Abim menerima balasan “Setelah sampai rumah makanlah dulu. Makan malam kusiapkan
diatas meja makan. Hangatkan jika ingin. Hati-hati nak. Jangan terlalu larut pulang”. Abim
membaca tanpa membalas kembali karena seorang staff penyelenggara menghampirinya dengan
beberapa berkas di tangannya. “ini data peserta yang kalian minta. Semua sudah tercantum lengkap
dengan kota masing-masing”. Staff tersebut memberikan lembaran data peserta. “Baik terimakasih
banyak atas kerjasamanya. Oh tunggu, sepertinya gedung ini akan tutup sebentar lagi, bolehkan aku
menunggu disini sebentar? Aku sedang menunggu rekanku yang keluar”. Abim meminta izin kepada
staff karena ia melihat sudah banyak lampu yang dipadamkan mengingat waktu menunjukkan pukul
9 malam. “Silahkan saja. Mungkin para staff akan pulang sekitar 15 menit lagi, tapi di luar gedung
ada petugas penjaga. Biasanya satu-satunya pintu yang dibuka hanya pintu utama di lantai 1 dan
akan dikunci paling lama pukul 11 malam nanti oleh penjaga”. Abim berterimakasih dan staff
tersebut meninggalkannya.

Abim berulangkali memeriksa jam tangannya. Sudah hampir pukul 10 tapi Pak Mof belum muncul
juga. Abim mengirim pesan sigkat bahwa gedung akan segera ditutup dan ia menunggu Pak Mof di
ruang tunggu lantai 2. Kemudian ia mencoba menelepon namun tidak semudah yang ia pikirkan.
Ponselnya kehabisan tarif panggilan. Ia putuskan untuk menunggunya sebentar lagi sedangkan
gedung sudah terlihat gelap dan sepi. Hanya lampu LED di sudut lantai saja yang membantunya
melihat sekitar.

Tak berselang lama suara denting lift terdengar. Abim bergegas berdiri menyambut sembari
mengambil barang bawaan yang dapat dijangkau kedua tangannya. Tapi keadaan berubah saat ia
melihat sosok yang tidak ia harapkan kehadirannya. Seseorang berdiri di depan lift. Memakai buff
penutup wajah, topi, sepatu dan pakaian serba hitam dengan pisau di tangan kirinya. Tentu saja
suasana lantai 2 terlalu gelap untuk mencermati gambaran sosok tersebut sepenuhnya. Melihat
sosok tersebut mendekat, tak ada pikiran panjang yang mencegah Abim berlari saat itu juga.
Peralatan meliput ia tinggalkan termasuk barang-barang pribadinya termasuk ponsel yang
dijatuhkannya begitu ia bergegas untuk menjauh dari sosok tersebut. Abim berlari ke arah tangga
darurat. Keadaan yang mendesak membuatnya berpikiran sempit dan tak tahu apa yang harus ia
perbuat. Sialnya Abim malah menuju lantai atas alih-alih menuju pintu utama di lantai satu. Entah, ia
hanya mengikuti kata hatinya sembari berharap keajaiban datang.

***
Pak Mof sudah berulangkali mengecek keberadaan Abim setelah lama meninggalkan gedung. Pak
Mof tidak sengaja bertemu dengan kepala redaksi saat akan membeli air minum di minimarket
beberapa blok dari gedung olahraga setelah berkabar dengan keluarganya melalui telepon. Pak Mof
membahas beberapa hal dengan kepala redaksi sehingga sedikit terlambat untuk menyadari pesan
masuk dari Abim. Saat membaca pesan Abim, Pak Mof segera menuju lantai 2 namun gelap, sehingga
ia berasumsi bahwa Abim meninggalkannya tanpa memberitahu. Pak Mof mencoba menelepon
Abim dan mendengar nada dering ponsel seperti tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang. Layar
ponsel tampak menyala-nyala dilantai. Ia menyadari bahwa suara nada dering tersbut adalah efek
panggilan dari ponsel genggamnya. Nama kontak “Senior Mof” terlihat pada layarnya. Benar saja,
barang-barang dan keperluan meliput seperti kamera, microphone dan lainnya masih lengkap di
kursi tunggu. Ia mengedarkan mata ke seluruh lantai 2 yang bisa dijangkau matanya. Tak ada
siapapun. Tapi tunggu!! Pak Mof melihat seseorang di lantai 5. Sekelebatan saja. ia berpikir bahwa
mungkin itu adalah petugas jaga malam itu. Arsitektur gedung olahraga memang didesain dengan
model aula di tengahnya. Seperti bentuk balok yang tidak memiliki ruang di tengahnya. Jadi dari
lantai dasar hingga lantai 5 yang merupakan lantai teratas pun bisa saling lihat.

Sampai di lantai atas, Pak Mof hampir sampai di lorong yang berseberangan dari letak lift. Namun
cermin yang diletakkan di setiap ujung lorong membantunya malam itu. Dari pantulan cermin siluet
seorang pria berjalan menuju sebuah ruangan. Suara memekakan timbul dari benda yang
digesekkan ke dinding sepanjang sosok itu berjalan. Tidak terlihat ada lampu senter jika dugaan Pak
Mof bahwa sosok tersebut adalah petugas jaga malam benar. Bukankah biasanya petugas akan
membawa senter jika sedang patroli. Sosok yang dilihatnya terlihat masuk ke sebuah ruangan. “Baik,
mari putuskan!” kata Pak Mof dalam hati. Karena kecurigaan yang semakin tak terbendung akhirnya
ia terpikirkan satu adegan yang ia tonton di salah satu film thriller favoritnya saat keadaan
mencekam seperti ini. Tempat sampah yang ia lihat di depan salah satu ruang di lorong seberang
diambilnya. Menyulut isi sampah yang sebagian besar adalah kertas dan plastik dengan korek api
yang ia bawa. Saat berasap, Pak Mof mengarahkannya ke Fire Detector yang ia lihat. Sesuai harapan,
sirine kebakaran berbunyi keras setelahnya. Pak Mof memeriksa keadaan. Seseorang keluar tergesa
dari sebuah ruangan. Saking terburu-burunya suara lonceng terdengar samar saat sosok pria
tersebut berlari. Tak lama berselang, seseorang yang lain yang muncul dari ruang yang sama.
Perlahan namun pasti pak Mof mengenali pria lunglai tersebut. Beberapa detik menyadarinya, Pak
Mof lantas menghampirinya “Abim, kau tidak apa-apa?” . Abim hanya terduduk lesu. Keduanya
hanya saling tatap untuk sementara waktu. Masih mencerna apa yang baru saja masing-masing dari
mereka alami.

***
Pembicaraan Abim terhenti saat penyelidik dari kepolisian menayainya apakah ia benar-benar tidak
mengenal orang yang sedang berada di ruang interogasi dengan tangan terborgol yang ia lihat dari
ruang cermin dua arah. Pagi itu Abim dipanggil ke kantor penyelidikan tindak kriminal setelah
anggota kepolisian menangkap terduga pembunuhan berantai dini hari tadi dari laporan Pak Mof 2
hari lalu. Pak Mof tidak melewatkan bagian pada saat ia melihat pria misterius itu tergesa keluar saat
sirine kebakaran berbunyi. Pria itu menjatuhkan kartu tanda pegawainya tanpa disadari sehingga
tidak ada alasan bagi Pak Mof untuk tidak menjadikannya sebagai bukti penangkapan. Polisi
mengungkapkan kepada media bahwa pembunuhan 3 orang 8 bulan lalu telah dikonfirmasi
berkaitan dengan penangkapan kali ini setelah interogasi beberapa jam dengan tersangka. Foto-foto
yang ditemukan saat penggeledahan rumah tersangka membuktikan adanya keterkaitan kejadian
yang menimpa Abim dengan pembunuhan 8 bulan lalu. Sebelum Abim kembali dari kuliahnya di luar
kota, memang terjadi 3 pembunuhan pemuda dengan jarak waktu dekat yang belum terungkap di
kotanya. 3 korban adalah seorang pemilik coffee shop, seorang pemilik galeri mobil, dan terakhir
adalah seorang pebisnis muda.

Di dalam ruang interogasi, seorang detektif memberikan kesempatan kepada pria di hadapannya
untuk mengutarakan alasannya malam itu datang ke gedung olahraga. Dengan wajah mendelik dan
penuh kebencian, pria tersebut berkata “Aku hanya perlu menyelesaikan 1 orang lagi dari semua
targetku. Jika malam itu aku berhasil maka semuanya selesai. Bajingan- bajingan yang menjijikkan
itu tidak akan pernah bisa hidup bahagia diatas penderitaanku selama ini. Sialnya aku tidak pernah
mendengar bahwa Guinandra mengakhiri hidupnya di dalam tahanan.” jelasnya. “Menderita?
Mengapa kau menderita karena korban-korbanmu?” Tanya detektif mengintrogasi. Namun ia tak
dapat menahan emosi “Mereka bukan korban!!! Adikku mati kararna perbuatan para bedebah itu.
Mereka pantas mati. Lihat bagaimana mereka hidup berkecukupan dan tertawa setiap hari
sedangkan adikku harus hancur dan mati perlahan.” Ia melanjutkan “Dan aku, harus hidup sebagai
petugas layanan kebersihan panggilan dengan kenangan adikku yang mengerikan.” Amarahnya
memuncak saat harus mengingat hal mengerikan yang menimpa adiknya. Dari ruangan cermin dua
arah, Abim menyadari bahwa Vano mengira ia adalah kakaknya, Adinata Guinandra. Vano tidak
pernah tau bahwa Adinata meninggal saat di dalam tahanan pada kasus pemerkosaan yang
dilakukannya. Komposisi wajah yang hampir identik memang membuat wajah mereka berdua sedikit
sulit dibedakan. Tak heran jika Vano menargetkannya malam itu untuk membalas dendam yang
tidak pernah terbalaskan hanya dengan hukuman penjara.

Pemerkosaan yang terjadi pada adik Vano menyisakan banyak kenangan buruk untuknya. Adiknya
harus bunuh diri karena depresi akut bahkan setelah para pelaku pemerkosaan dihukum. 2 tahun
lalu hukuman bagi 4 pelaku pemerkosaan Vani, adik vano resmi berakhir. Namun tidak dengan
dendam Vano. Satu tahun setelah keputusan pengadilan, Vani terus mengalami penurunan mental
secara drastis dan mengakhiri hidupnya sendiri. Dalam masa berkabungnya Vano berjanji akan
membalas dendam setelah hukuman keempatnya berakhir.

Setelah semua penyelidikan yang dilalui hari itu, Abim mendatangi vano di dalam tahanan dan
meminta maaf atas nama kakaknya. Entah, Abim merasa harus melakukannya bahkan jika Vano
memang telah terbukti sebagai pembunuh. Ia tak pernah tau betapa sulit Vano harus bertahan
hidup saat kehilangan satu-satunya anggota keluarga yang dimiliki. Abim mengerti ia meminta maaf
saat harus. Dan memaafkan juga saat ia harus.

 

 

Penulis : Alfia Lailatulrohmah (Mahasiswi Pendidikan Bahasa Arab UIN Malang)