Refleksi Masa Depan Umat Muslim di Dunia

Sosial121 Dilihat

Mudabicara.com_Jumat, 12 Juni 2026, Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam melalui Komisi Hubungan Internasional menghadiri kegiatan Focus Group Discussion BKSAP DPR RI yang bertajuk “Beyond Borders: Muslim Youth Shaping the Future of the Ummah in a Turbulent World.” Kegitan ini dihadiri oleh berbagai organisasi kepemudaan Islam, baik didalam maupun luar negri.

Pembahasan yang disoroti cukup beragam, namun tetap memiliki benang merah yang sama, yaitu masa depan umat Islam di tengah perubahan dunia yang semakin kompleks. Diskusi ini mencakup geopolitik global, arah gerak peradaban manusia, pemegang hegemoni dunia saat ini, hingga berbagai problematika internal yang dihadapi umat Islam.

Dari forum tersebut, saya menangkap adanya kegelisahan bersama di kalangan generasi muda umat Islam. Kegelisahan itu muncul ketika melihat persoalan internal umat Islam, seperti krisis moral, krisis kepemimpinan yang amanah, dan krisis integritas yang masih menjadi persoalan di banyak negara Muslim. Tidak mengherankan jika di berbagai tempat kita kerap menemukan pemimpin yang terjerat kasus korupsi, penyalahgunaan kekuasaan, maupun berbagai skandal yang bertentangan dengan nilai-nilai Islam.

Baca Juga: Kemenhaj Siapkan Sejumlah Perbaikan untuk Penyelenggaraan Haji Mendatang

Selain persoalan internal, kami juga menyoroti pendudukan Palestina oleh Israel yang hingga hari ini belum menunjukkan jalan menuju perdamaian yang adil. Situasi ini memunculkan pertanyaan besar: mengapa umat Islam yang jumlahnya hampir dua miliar jiwa belum mampu memberikan pengaruh politik global yang cukup kuat untuk menghentikan penderitaan rakyat Palestina?

Pertanyaan tersebut membawa kami pada kesadaran bahwa jumlah penduduk yang besar tidak secara otomatis menghasilkan kekuatan politik global. Kekuatan politik memerlukan kesatuan arah, kesadaran kritis, kapasitas ekonomi, penguasaan ilmu pengetahuan, penguasaan teknologi, serta kemampuan membangun pengaruh dalam sistem internasional. Sementara itu, negara-negara Muslim masih terpecah oleh berbagai kepentingan politik, ekonomi, dan keamanan yang berbeda-beda.

Dalam memahami situasi tersebut, pembahasan kemudian bergerak pada konteks geopolitik global yang lebih luas. Sulit memahami dunia hari ini tanpa melihat sejarah panjang imperialisme Eropa dan bagaimana kekuatan-kekuatan besar membentuk tatanan internasional modern. Kritik yang disampaikan oleh banyak pemikir, termasuk Noam Chomsky dalam bukunya who rules the world, menunjukkan adanya standar ganda dalam politik global, terutama ketika AS mengatasnamakan demokrasi, hak asasi manusia, atau penjaga peradaban dunia, tetapi pada saat yang sama tetap mempertahankan kepentingan hegemoniknya.

Dalam konteks Palestina, dominasi negara-negara besar, khususnya Amerika Serikat, memang menjadi salah satu faktor yang memengaruhi arah kebijakan internasional. Namun demikian, persoalan ini juga memperlihatkan fragmentasi politik di dunia Islam yang turut memperlemah kemampuan umat untuk mengambil posisi yang lebih solid dan berpengaruh.

Baca Juga: STAI Shalahuddin Al-Ayyubi Jakarta: Membangun Generasi Unggul Berlandaskan Nilai-Nilai Islam

Fragmentasi itu terjadi dalam banyak bentuk: negara, budaya, mazhab, organisasi, bahkan kepentingan politik yang berbeda. Padahal, konsep ummah dalam Islam sejatinya mengajarkan bahwa keberagaman tersebut tidak harus berujung pada perpecahan. Menjadi satu umat bukan berarti menghapus perbedaan, melainkan membangun kesadaran bahwa terdapat nilai-nilai bersama yang dapat menjadi titik temu di tengah berbagai keragaman tersebut.

Meski demikian, saya tetap optimis. Di tengah pergumulan ideologi yang semakin rumit dan dunia yang penuh paradoks, saya percaya Islam masih memiliki kontribusi penting bagi masa depan peradaban manusia.

Optimisme ini bukan didasarkan pada romantisme identitas semata, melainkan pada nilai-nilai yang dibawa Islam itu sendiri: Islam yang rahmatan lil alamin, Islam yang menempatkan akhlak sebagai fondasi kehidupan, Islam yang berpihak kepada mereka yang tertindas (mustadh’afin), Islam yang mendorong keadilan ekonomi, Islam yang menyerukan keseimbangan ekologi, serta Islam yang memuliakan ilmu pengetahuan.

Dalam forum tersebut kami juga membahas sejarah ketika peradaban Islam pernah menjadi salah satu pusat perkembangan ilmu pengetahuan dunia. Andalusia, para filsuf Muslim, ilmuwan, dan tradisi intelektual Islam menunjukkan bahwa keberagaman pernah hidup berdampingan dengan kemajuan ilmu pengetahuan. Pembahasan ini bukan untuk meromantisasi masa lalu, melainkan untuk memahami faktor-faktor yang membuat peradaban Islam pernah mencapai masa keemasannya sekaligus menganalisis faktor-faktor yang menyebabkan kemundurannya.

Secara pribadi, saya tertarik pada persoalan konflik internal yang terjadi dalam sejarah kekhalifahan. Tentu saja faktor eksternal seperti invasi dan intervensi bangsa lain juga memiliki peran, tetapi konflik internal menunjukkan bahwa suatu peradaban dapat melemah bukan hanya karena tekanan dari luar, melainkan juga karena kegagalan mengelola perbedaan dan mempertahankan integritasnya sendiri.

Baca Juga: Kunjungi Dua Kampus Top Jerman, Dosen FITK UIN Sunan Kalijaga Inisiasi Kolaborasi Riset Internasional

Dalam konteks negara modern, pelajaran tersebut tetap relevan. Umat Islam perlu memahami persoalan domestik seperti kualitas kepemimpinan, tata kelola negara, arah kebijakan dalam negeri, pembangunan ilmu pengetahuan, dan distribusi ekonomi. Namun pada saat yang sama, umat Islam juga harus memahami dinamika geopolitik global yang memengaruhi posisi mereka di dunia.

Meski demikian, kejayaan masa lalu tidak berarti harus diulang dalam bentuk yang sama. Kondisi zaman telah berubah. Karena itu, yang perlu dihidupkan kembali mungkin bukanlah bentuk institusi masa lalu, melainkan tradisi intelektual, keterbukaan terhadap ilmu pengetahuan, dan etos pencarian kebenaran yang dahulu menjadi fondasi peradaban Islam.

Dari berbagai diskusi yang berkembang, terdapat beberapa gagasan yang menarik untuk terus diperjuangkan.

Pertama, membangun narasi dan worldview Islam yang relevan dengan tantangan zaman

Narasi penting karena membentuk cara pandang, orientasi moral, dan arah gerak bersama. Nilai-nilai Islam yang rahmatan lil alamin perlu diterjemahkan dalam berbagai persoalan kontemporer, mulai dari keadilan sosial, etika lingkungan hidup, teknologi, hingga hubungan antarbangsa.

Kedua, terus menyuarakan dan mendukung penuh kedaulatan Palestina

Merawat ingatan kolektif sangat penting agar publik dunia tidak menjadi terbiasa atau lelah menyaksikan penderitaan rakyat Palestina. Dukungan moral dan politik harus terus dijaga sebagai bagian dari komitmen terhadap kemanusiaan.

Baca Juga: Dasco Bahas Kondisi Pasar Modal Bersama Himbara dan Perwakilan Pemerintah

Ketiga, menelaah kembali sejarah Islam secara kritis

Banyak peradaban bangkit dengan mempelajari tradisi intelektual sebelumnya. Renaisans di Eropa, misalnya, tidak dapat dilepaskan dari upaya para pemikirnya menggali kembali warisan Yunani Kuno. Begitu pula umat Islam perlu mempelajari kembali sejarahnya, bukan untuk bernostalgia, tetapi untuk mengambil pelajaran yang relevan bagi masa kini.

Keempat, memperkuat komunikasi dan kolaborasi antar pemuda Muslim di berbagai negara

Di tengah dunia yang semakin terhubung, kerja sama lintas negara menjadi penting untuk membangun jaringan gagasan, pengetahuan, dan solidaritas yang lebih luas.

Meskipun optimis, saya tetap realistis. Membangkitkan kembali kontribusi peradaban Islam terhadap dunia tentu tidak mungkin dicapai hanya melalui sebuah forum yang berlangsung beberapa jam saja atau oleh segelintir orang yang bergerak sendiri-sendiri. Namun setidaknya forum ini menunjukkan bahwa kegelisahan yang selama ini saya rasakan ternyata juga dirasakan oleh banyak pemuda Muslim dari berbagai negara.

Baca Juga: Persija Resmi Gandeng Shin Tae-yong untuk Mengarungi BRI Super League 2026-2027

Kegelisahan yang sama sering kali menjadi titik awal lahirnya gagasan-gagasan besar. Dari kegelisahan itulah muncul refleksi, dialog, dan kesadaran untuk bertindak. Paulo Freire menyebut proses semacam ini sebagai “praksis”, ketika manusia tidak hanya memahami dunia secara kritis, tetapi juga berupaya mengubahnya.

Pada akhirnya, setiap ideologi dan sistem yang dipilih manusia selalu memiliki konsekuensi dan keterbatasannya masing-masing. Di tengah berbagai paradoks dunia hari ini, kita perlu terus bertanya: masa depan seperti apa yang ingin kita bangun? Sistem apa yang ingin kita pilih? Bagaimana kita menyikapi tatanan global ketika negara-negara yang mengaku sebagai penjaga peradaban justru melakukan tindakan yang mengabaikan kedaulatan bangsa lain?

Masa depan umat Islam tidak akan saya simpulkan dalam tulisan yang berupa refleksi singkat ini. Kesimpulan itu saya kembalikan kepada generasi muda umat Islam hari ini, untuk terus bertanya, berpikir kritis, berdialog, dan berefleksi bersama tentang arah peradaban yang ingin kita tuju.

 

Penulis: Sinta Eka (Wakil Ketua Komisi Hubungan Internasional PB HMI MPO)