Mudabicara.com_Pada Awalnya saya tidak tahu, bagaimana saya terobsesi menjadi penulis sejak kecil. Sejak kecil sampai sekarang saya belum mengerti bagaimana dunia aksara bisa membetot rasa suka saya begitu dalamnya padahal saya tinggal di sebuah pulau yang boleh dibilang jauh dari peradaban literasi.

BACA JUGA : PMII DAN KERJA-KERJA MERAWAT 

Pulau Seribu, awal tahun 80-an merupakan pulau yang masih terisolasi oleh lautan. Tidak ada transportasi reguler yang setiap hari bisa membawa penduduknya ke nun jauh ke daratan sana, seperti sekarang ini. Maka tidak heran kami menyebut orang yang tinggal di daratan pulau Jawa sana dengan nama orang darat, yang berarti juga sebuah pengakuan (mungkin lebih tepatnya rasa inferioritas)  bahwa kami adalah orang laut, manusia yang datang dari laut.

Tapi ada satu dua kelebat kenangan yang sesekali muncul dalam memori saya tentang masa kecil saya berkenalan dengan dunia aksara. Saya sudah mulai mengenal aksara justru sebelum masuk SD. Sejak lahir (tepatnya 7 hari setelah dilahirkan) saya tinggal bersama kakek, karena ibu  sakit keras selepas melahirkan saya, sehingga ia harus merelakan bayi mungilnya harus diasuh oleh kakek dan neneknya.

Rumah kakek terbuat dari kayu berbilik bambu.  Sudah reot seringkih pemiliknya. Beberapa bagian teras depannya sudah bolong-bolong. Kakek menutupinya dengan kertas-kertas bekas yang entah didapat dari mana. Gambar-gambar dan jejeran aksara yang menyemut diatas tempelan kertas-kertas bekas  itulah yang hampir setiap hari mengetuk-ngetuk rasa ingin tahu saya, apa kira-kira maksud gambar-gambar dan deretan aksara itu? Mengapa ada gambar kepala burung seperti itu?

Di depan teras itu, ada bale besar yang alasnya terbuat dari deretan bilah-bilah bambu yang dibelah kecil-kecil. Di bale besar itulah setiap malam tamu tetap kakek tidur melepas lelah. Namanya Wak Jali, tukang bikin rumah dari Tangerang. Dia tidur disana bersama teman-temannya, mungkin saudaranya (yang saya tahu, satu diantara mereka adalah anaknya) sekitar 4 atau 5 orang.

Setiap malam sebelum mereka tidur, kakek menyempatkan diri bercakap-cakap dengan mereka di bale besar itu. Saya sering diikutsertakan oleh kakek. Disitulah anak Wak Jali yang saya lupa namanya suka mulai memperkenalkan saya dengan huruf-huruf sambil menunjuk ke deretan kertas-kertas yang ditempel di teras depan rumah.

Gambar-gambar dan deretan kata-kata itulah yang mungkin pertama-tama menyedot perhatian saya, membuat saya penasaran ingin tahu, ada cerita apa dibalik gambar-gambar dan kata-kata itu. Saya tidak ingat, apakah saya kemudian meminta kepada para tamu itu untuk mengajarkan saya membaca,ataukah para tamu itu sendiri berinisiatif duluan mengajak saya belajar membaca atau menulis.

Semua gelap, saya ingat hanyalah setiap malam, setiap Wak Jali menumpang tidur di bale itu, aku pasti menemani kakek mengajak mereka ngobrol tentang apa saja, sampai Mak Mae memanggilku tidur ke dalam.

Tetapi saya punya satu kenangan bagaimana secara kognitif otak saya menangkap sebuah konsep yang bernama aksara. Yang kemudian dirangkai menjadi sebuah kata. Sebagai anak kampung, saya tidak hanya berteman dengan  anak-anak seusia saya, tetapi juga dengan banyak anak-anak yang jauh diatas saya. Mereka tentu saja sudah bersekolah, bahkan diatas kelas 1 SD.

BACA JUGA : MUI: MASYARAKAT HARUS TINGKATKAN KEWASPADAAN 

Dalam satu kesempatan, seorang teman yang usianya jauh di atas saya menulis namanya dengan sebatang ranting pohon di atas tanah: TUMING. Entah bagaimana caranya otak saya bekerja, kata itu menjadi kata pertama yang berhasil saya eja dan sampai hari ini masih melekat di batok kepala saya. Di situ pula saya mengenal huruf NG! (kami menyebutnya hurup ‘eng!).