Kapan Kita harus belajar?

Mudabicara.com_Tuntutlah ilmu dari buaian hingga liang lahat”. Pepatah arab yang sering kita dengar dan sering diajarkan pada generasi bangsa ini memang memiliki arti yang begitu dalam. Bagaimana tidak, bayangkan saja jika generasi-generasi muda negeri ini tidak gandrung untuk menuntut ilmu. Atau bayangkan saja jika negara tidak mewajibkan rakyatnya berpendidikan. Sudah pasti negara ini akan menemui ambang kehancurannya.

Menuntut ilmu sejatinya menjadi kebutuhan primer setiap manusia yang hidup di dunia ini. Bahkan dari seorang bayi lahir di dunia, ia telah belajar untuk memulai apapun. Belajar beradaptasi dengan lingkungan sekitar, belajar mengidentifikasi sentuhan dan suara dan lain sebagainya. Dalam agama Islam bahkan ada tiga hal yang tidak akan terputus saat seseorang meninggal dunia. Pertama, sedekah jariyah, kedua ilmu yang bermanfaat dan ketiga anak sholeh yang selalu mendoakan kedua orang tuanya. Hal ini menunjukkan bahwa ilmu memang tidak memiliki batas akhir bahkan ketika seseorang telah meninggal dunia.

Baca Juga : https://mudabicara.com/anak-muda-tak-berdaya-saat-berada-di-lingkaran-pemerintahan/

Selama ini kita ketahui bahwa ada dua jenis objek dalam menuntut ilmu, yaitu ilmu pengetahuan (alam, sosial, dan umum) dan ilmu agama. Kedua objek ini sangat penting tanpa memprioritaskan agama tertentu. Dalam agama Islam belajar ilmu agama harus kepada seseorang yang benar-benar mengerti tentang ilmu agama atau jelas Sanad-nya. Belajar agama tidak bisa dipelajari dengan sembarangan orang saja. Apalagi hanya dengan googling atau dengan berasumsi sendiri dari bacaan-bacaan. Karena hal tersebut sudah dipastikan akan dapat menimbulkan pemahaman yang tidak utuh.

Di Indonesia ada banyak sekali kelompok dan lembaga-lembaga pendidikan dalam pembelajaran agama Islam. Ada TPQ, Majlis Ta’lim, Jama’ah tahlil dan sebagainya. Untuk jenjang pendidikan madrasah terdapat beberapa Taman Pendidikan al-Qur’an (TPQ) yang memiliki jadwal mengajar yang variatif dengan peserta didik mulai dari siswa kanak-kanak hingga siswa menengah yang menuntut ilmu agama sepulang sekolah. Materi yang diberikan pun cukup variatif. Tajwid, tauhid, bahasa arab, dan menyimak saat membaca al-Qur’an menjadi materi rutin yang diberikan tenaga pendidik.

Meskipun dengan jumlah murid yang seadanya dan tidak selalu banyak, namun semangat yang dimiliki murid-murid TPQ sangatlah besar. Buktinya mereka tidak menunjukkan rasa letih bahkan setelah seharian melakukan kegiatan di sekolah masing-masing. Rasa membutuhkan ilmu agama yang membuat mereka tak patah semangat dalam mengemban kewajiban sebagai muslim.

Mereka belajar ilmu-ilmu alam dan umum di pagi hari lalu dilanjutkan dengan harus belajar mengaji di sore hari. Semua itu pantas untuk diapresiasi. Mereka mengerti bahwa mereka tidak akan merugi setelah belajar. Mereka tidak akan menyesali sudah memulai belajar mengaji saat mereka masih pantas untuk bermain-main di taman bermain.

Semoga negeri ini tidak kehilangan anak-anaknya yang memiliki semangat yang begitu luar biasa.

 

Penulis : Alfia Lailaturrohmah