Tentara Prancis Tewas di Lebanon, UNIFIL Kembali Diserang

Indepth21 Dilihat

Mudabicara.com_Pasukan penjaga perdamaian UNIFIL kembali menjadi korban di Lebanon. Seorang prajurit asal Prancis yang tergabung dalam misi sementara Perserikatan Bangsa-Bangsa dilaporkan meninggal dunia.

Dirangkum dari AFP, CNN, dan Reuters pada Minggu (19/4/2026), selain korban tewas, tiga personel lainnya mengalami luka-luka dalam insiden tersebut.

Prajurit yang gugur diketahui bernama Florian Montorio dari Resimen Insinyur Parasut ke-17. Disebutkan pula bahwa dua dari tiga korban luka berada dalam kondisi serius.

Baca Juga: Soroti Kasus Babay Wazdi, Busyro Muqoddas: Hukum Harus Bebas dari Kepentingan Kekuasaan

UNIFIL dalam pernyataannya menjelaskan bahwa insiden terjadi saat tim patroli tengah melakukan pembersihan bahan peledak di jalur desa Ghanduriyah, wilayah Lebanon selatan. Saat itu, mereka “diserang dengan senjata ringan dari aktor non-negara.” Prajurit tersebut meninggal akibat tembakan langsung.

Macron Kecam Serangan ke Pasukan UNIFIL

Presiden Prancis Emmanuel Macron mengecam keras peristiwa tersebut. Hal serupa juga disampaikan oleh Perdana Menteri Lebanon, Nawaf Salam, yang langsung memerintahkan investigasi cepat.

“Sudah jelas bahwa perilaku tidak bertanggung jawab ini menimbulkan kerusakan serius pada Lebanon dan hubungannya dengan negara-negara sahabat dan pendukungnya di seluruh dunia,” ujar Salam.

Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres, turut mengecam insiden tersebut dan mendesak seluruh pihak untuk “menghormati penghentian permusuhan dan gencatan senjata.”

Macron Tuduh Kelompok Hizbullah

Menurut UNIFIL, hasil penilaian awal menunjukkan bahwa tembakan berasal dari aktor non-negara yang diduga terkait dengan Hizbullah. Temuan awal tersebut mengindikasikan bahwa serangan dilakukan secara sengaja.

Baca Juga: Anggota Komisi 1 DPR TB Hasanuddin Soroti Urgensi Revisi Peradilan Militer di RUU TNI

Macron juga menyebut bahwa bukti sementara mengarah pada kelompok bersenjata yang mendapat dukungan Iran. Ia meminta pemerintah Lebanon segera mengambil tindakan terhadap pihak yang bertanggung jawab.

Hizbullah Bantah Terlibat

Hizbullah membantah keterlibatannya dalam insiden tersebut. Kelompok itu meminta semua pihak tidak terburu-buru dalam menarik kesimpulan dan menunggu hasil penyelidikan resmi dari militer Lebanon.

“Hezbollah membantah keterlibatannya dalam insiden yang terjadi dengan pasukan UNIFIL di daerah Ghandouriyeh-Bint Jbeil,” demikian pernyataan Hizbullah, dilansir AFP, Minggu (19/4).

RI Berduka

Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Luar Negeri RI menyampaikan duka cita atas gugurnya prajurit Prancis dalam misi perdamaian tersebut. Indonesia juga menegaskan bahwa serangan di tengah masa gencatan senjata tidak dapat dibenarkan.

Baca Juga: Ibas Tegaskan Dorongan Kuat: Seni Budaya Kreatif Jadi Pilar Utama Identitas dan Ekonomi Nasional

“Pemerintah Indonesia menyampaikan belasungkawa dan simpati yang mendalam kepada Pemerintah dan rakyat Prancis atas gugurnya peacekeepers Prancis dan beberapa lainnya mengalami luka-luka dalam insiden terhadap UNIFIL pada tanggal 18 April 2026,” bunyi keterangan Kemlu RI dilihat pada laman X resminya, Minggu (19/4).

Indonesia turut mengimbau seluruh pihak untuk menahan diri serta menjunjung tinggi hukum internasional, termasuk hukum humaniter, demi mencegah eskalasi konflik lebih lanjut.

“Serangan yang terjadi di tengah kesepakatan gencatan senjata selama 10 hari merupakan hal yang tidak dapat diterima. Seluruh pihak harus menahan diri, menghormati kedaulatan negara dan menjunjung tinggi hukum internasional, termasuk hukum humaniter internasional,” ujar Kemlu.

“Negosiasi yang tengah berlangsung dan gencatan senjata harus dihormati sepenuhnya, serta tidak dilanggar dengan tindakan kekerasan yang akan berisiko memperburuk eskalasi dan membahayakan keselamatan personel di lapangan,” sambungnya.