Viral Prosesi Adat Jokowi Injak Kepala Kerbau, PDIP Singgung Mantan Presiden Masih Lokal

Politik66 Dilihat

Mudabicara.com_Presiden ke-7 RI Joko Widodo (Jokowi) menjadi perhatian publik setelah mengikuti salah satu rangkaian prosesi adat saat berkunjung ke Lampung. Dalam prosesi tersebut, Jokowi terlihat menginjak kepala kerbau, yang kemudian memicu beragam reaksi, termasuk dari PDI Perjuangan (PDIP).

Prosesi tersebut ramai diperbincangkan di media sosial dan menjadi sorotan publik pada Senin (29/6/2026). Pada salah satu tahapan acara, kepala kerbau diletakkan di atas karpet merah, kemudian Jokowi tampak melangkah dan menginjaknya sebagai bagian dari ritual adat.

Respons PDIP

Ketua DPP PDIP Andreas Hugo Pareira mengaku tidak memahami tradisi yang melibatkan prosesi menginjak kepala kerbau dalam adat masyarakat Lampung.

Baca Juga: Refleksi Masa Depan Umat Muslim di Dunia

“Saya tidak memahami adat istiadat dan budaya masyarakat Lampung, apalagi sampai dikaitkan dengan menginjak kepala kerbau,” kata Andreas kepada wartawan.

Andreas kemudian menanggapi anggapan yang mengaitkan prosesi tersebut dengan simbol penghinaan terhadap PDIP. Menurut Wakil Ketua Komisi XIII DPR itu, anggapan tersebut tidak tepat karena simbol partainya bukan kepala kerbau.

“Tapi kalau seandainya menginjak kepala kerbau itu, oleh yang menginjak, mau dimaknai sebagai simbolisasi menghina PDI Perjuangan, ha-ha-ha, maaf, lambang PDI Perjuangan bukan kepala kerbau. Lambang PDI Perjuangan itu banteng moncong putih,” ucap dia.

Soroti Penobatan Kepala Adat

Selain menyinggung prosesi adat tersebut, Andreas juga memberikan pandangannya mengenai penobatan mantan presiden sebagai kepala adat atau raja di suatu daerah. Menurutnya, hal tersebut kurang lazim bagi sosok yang pernah menjabat sebagai Presiden RI dan menjadi simbol persatuan bangsa.

Baca Juga: Kemenhaj Siapkan Sejumlah Perbaikan untuk Penyelenggaraan Haji Mendatang

“Juga menurut saya tidak biasa dan tidak pantas seseorang yang sudah pernah menjadi Presiden yang merupakan simbol pemersatu bangsa, kemudian datang ke daerah untuk dinobatkan sebagai raja, atau sebagai kepala adat atau kepala suku dari sekelompok masyarakat,” imbuhnya.

Singgung Mantan Presiden Harus Naik Kelas

Andreas berpandangan, masyarakat akan lebih mengapresiasi apabila seorang mantan presiden memperoleh pengakuan dalam bentuk gelar akademik dari luar negeri dibandingkan penghargaan yang bersifat lokal. Ia pun menyindir bahwa Jokowi seharusnya sudah berada pada level yang berbeda.

“Harus naik kelas dong, kelasnya harus beda dong. Masa sih, mantan Presiden mainannya masih lokal-lokalan, masih mau cari dukungan suara kah?” imbuh dia.