Talkshow buku “Huluisasi dan Hilirisasi Beras” di Media Gathering UICI: Hulu Kuat, Hilir Berdaya Saing

Pendidikan36 Dilihat

Mudabicara.com_Di sela kegiatan Exclusive Media Gathering & Iftar Night, Universitas Insan Cita Indonesia (UICI) menghadirkan mini talkshow buku “Huluisasi dan Hilirisasi Beras” di Cafe Bowl Coffee Connection, Tebet, Jakarta Selatan, Rabu (25/2/2026).

Diskusi ini menghadirkan para penulis buku, yakni Khudori, Erizal Jamal, Agus Saifullah, Tito Pranolo, dan Dr. Anisa Dwi, yang membedah secara komprehensif relasi hulu–hilir dalam tata kelola perberasan nasional.

Erizal Jamal menegaskan bahwa hilirisasi pertanian tidak dapat berdiri sendiri tanpa pembenahan sektor hulu.

Baca Juga: Klarifikasi Terlambat, Pernyataan Herman Wibowo Berujung Petaka bagi Direksi Bank DKI

“Kalau kita berbicara hilirisasi pertanian itu tidak cukup, karena keberhasilan mengelola isu-isu hilirisasi akan sangat berkaitan dengan isu-isu di hulu,” ujarnya.

Menurutnya, buku ini banyak mengulas kondisi hulu pertanian—mulai dari budidaya, produktivitas, hingga faktor-faktor struktural yang memengaruhi produksi.

Ia juga menyoroti bahwa capaian swasembada beras yang diumumkan pemerintah tidak lepas dari kontribusi besar sektor hulu. Tanpa fondasi produksi yang kuat, hilirisasi hanya akan menjadi jargon kebijakan.

Senada dengan itu, Khudori mengingatkan bahwa capaian swasembada beras tahun lalu lebih banyak disumbang oleh perluasan lahan dan peningkatan luas panen.

Baca Juga: Iftar Night Bersama Media, UICI Perkuat Transformasi Pendidikan Tinggi Berbasis Teknologi

“Peningkatan luas panen itu pasti ada batasnya. Selain itu, kita juga diuntungkan karena sepanjang tahun iklim relatif bersahabat,” ujarnya.

Ia menekankan pentingnya pemerintah “naik kelas” dalam pengelolaan pertanian, tidak sekadar mengejar angka produksi, tetapi memperkuat struktur dan produktivitas jangka panjang.

Agus Saifullah menekankan pentingnya kebijakan yang mampu menghadirkan keseimbangan antara petani, konsumen, dan stabilitas pasar.

“Kebijakan harus membuat petani happy, konsumen happy, perdagangan berjalan baik, dan pemerintah juga mendapatkan stabilitas,” katanya.

Ia menambahkan bahwa stabilitas harga dan pasokan beras berdampak luas pada sektor lain, sehingga perlu harmonisasi program dari sisi produsen maupun konsumen.

Baca Juga: Adakan FGD, Nusantara Impact Center Soroti Kasus Hukum Sritex

Dr. Anisa Dwi mengajak melihat isu beras dalam perspektif sistemik dan jangka panjang. Menurutnya, jika dalam jangka pendek isu yang muncul adalah stok dan harga, maka dalam jangka panjang yang harus dibenahi adalah keberlanjutan (sustainability).

“Kalau kita bicara stabilitas harga, tidak hanya harga beras hari ini, tetapi bagaimana harga itu terbentuk, karena ada faktor-faktor laten yang memengaruhinya,” jelasnya.

Sementara itu, Tito Pranolo menekankan pentingnya daya saing dalam konteks pasar global. Menurutnya, Indonesia tidak bisa sepenuhnya menutup pasar.

“Kalau mau bersaing, kita harus punya daya saing. Dalam jangka panjang, peningkatan daya saing produk pertanian tidak bisa ditawar,” tegasnya. Dalam konteks itu, huluisasi dan hilirisasi menjadi satu paket yang tak terpisahkan.