Demonstrasi adalah bagian nafas dari demokrasi. Ketika masyarakat dan mahasiswa sudah turun ke jalan, mereka sedang memakai hak konstitusi: menyampaikan segala pendapat dimuka umum. Karena itu, siapapun yang berwenang menanggapinya, aparat maupun pemerintah, punya kewajiban yang sama yaitu mendengar, menghormati bukan malah membungkam apalagi melakukan tindakan sewenang-wenang yaitu kekerasan.
Peristiwa di Yogyakarta kemarin, kembali mengingatkan kita pada pertanyaan lama yang tak kunjung tuntas: mengapa kritik masih sering dijawab dengan kekerasan? Yogyakarta dikenal sebagai kota pelajar dan kota budaya. Tradisi berpendapat tumbuh subur disini,dari gerakan mahasiswa sampai aksi damai di persimpangan Gejayan. Kota seperti ini seharusnya menjadi teladan cara menyikapi aspirasi rakyat, bukan tempat kekerasan menjadi hal yang biasa.
Video yang beredar dan pengakuan dari korban di media sosial setelah aksi unjuk rasa di Yogyakarta memperlihatkan pemandangan yang mengkhawatirkan: aparat melakukan kekerasan terhadap massa, dan sekelompok orang, sebagian membawa senjata tajam berada di tengah keramaian ikut membubarkan massa.Ini bukan sekedar soal ketertiban yang gagal dijaga. Ini soal keselamatan warga dan mahasiswa dalam menyampaikan aspirasinya. Yang paling mengusik adalah keberadaan kelompok sipil bersenjata tajam yang ikut membubarkan massa di lokasi aksi dan aparat yang melakukan tindak kekerasan. Dalam negara hukum , hanya aparat berwenang yang boleh menggunakan kekuatan, dan itupun dengan batas yang ketat. Siapa orang-orang itu? Mengapa mereka ada disana tanpa dicegah? pertanyaan ini harus dijawab terbuka!
karena itu, usut tuntas video tersebut secara independent, identifikasi dan proses orang-orang bersenjata tajam itu, dan buka hasilnya kepada publik. Demokrasi tidak diukur dari seberapa sunyi jalanan, tetapi dari seberapa besar negara mau mendengarkan ketika jalanan bersuara. Kritik yang dijawab dengan kekerasan hanya menumbuhkan ketakutan dan merusak kepercayaan pada negara. Yogyakarta layak mendapat jawaban yang lebih beradab.






