Kemendag Libatkan Diaspora Pelajar untuk Perkuat Ekspor Indonesia ke Australia

Ekonomi1 Dilihat

Mudabicara.com_Pemerintah Indonesia terus mendorong penguatan ekosistem ekspor nasional dengan strategi yang lebih inovatif, salah satunya melalui pelibatan diaspora pelajar Indonesia di luar negeri. Upaya ini diwujudkan lewat penguatan Program Talenta Kewirausahaan Ekspor Pelajar Indonesia yang dikukuhkan melalui Seminar Ekspor di The University of Melbourne, Australia, Jumat (23/1).

Seminar bertema ”Market Access to Market Success: Unlocking the Potential of Indonesian Export to Australia” tersebut dibuka oleh Konsul Jenderal RI Melbourne Yohannes Jatmiko Heru Prasetyo dan dilaksanakan secara hibrida. Kegiatan ini diikuti mahasiswa Indonesia, komunitas diaspora, serta pelaku usaha dari berbagai daerah, sebagai hasil kolaborasi Kementerian Perdagangan melalui Atase Perdagangan RI Canberra dengan Perhimpunan Pelajar Indonesia (PPI) Australia dan Mata Garuda Australia–New Zealand.

Baca Juga: PB HMI MPO dan Kornas Kohati Soroti Peluang Kriminalisasi dalam Kasus Perbankan

Atase Perdagangan RI Canberra, Agung Haris Setiawan, menilai keberadaan mahasiswa Indonesia di luar negeri memiliki nilai strategis yang melampaui peran akademik semata. Menurutnya, pelajar Indonesia merupakan aset penting dalam diplomasi ekonomi karena memiliki pemahaman langsung terhadap budaya, regulasi, dan selera pasar negara tujuan.

“Saat ini, terdapat lebih dari 20 ribu pelajar Indonesia di Australia. Mereka memiliki potensi besar, baik sebagai ‘duta pasar’ yang memperkenalkan produk Indonesia, maupun sebagai calon eksportir masa depan yang memahami kebutuhan dan standar pasar lokal. Melalui program ini, kami ingin mengonversi potensi akademik tersebut menjadi kekuatan ekonomi riil,” tegas Haris.

Ia menjelaskan bahwa pelaksanaan seminar ini sangat relevan dengan tren positif hubungan perdagangan Indonesia dan Australia. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan, nilai perdagangan kedua negara tercatat mencapai USD 15,4 miliar pada periode terakhir, dengan pertumbuhan ekspor nonmigas yang terus menunjukkan prospek menjanjikan. Kondisi ini menjadi dasar kuat untuk melibatkan diaspora pelajar secara lebih aktif dalam pengembangan ekspor.

Haris juga menyoroti banyaknya mahasiswa Indonesia, termasuk penerima beasiswa LPDP, yang menempuh pendidikan di bidang bisnis dan manajemen. Kementerian Perdagangan mendorong mereka untuk tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga terlibat langsung dalam praktik seperti pemetaan pasar, promosi produk, hingga pendampingan business matching bagi UMKM.

“Ketika kembali ke Indonesia, para mahasiswa Indonesia diharapkan dapat menjadi eksportir yang menguasai karakteristik pasar setempat. Sebaliknya, jika menetap di Australia, mereka berpotensi menjadi importir atau distributor andal bagi produk Indonesia. Salah satu contoh nyata yaitu kisah sukses Michael Samsir dengan Waroeng SS Australia yang juga hadir sebagai narasumber pada seminar ini,” imbuh Haris.

Untuk menjaga kesinambungan program, Atase Perdagangan RI Canberra turut memperkenalkan berbagai dukungan berbasis digital, seperti portal tanya-atdag.au dan AI Chatbot KSATRIA. Fasilitas ini dirancang sebagai sarana konsultasi dan pendampingan ekspor yang dapat diakses selama 24 jam oleh mahasiswa maupun pelaku UMKM.

“Melalui sinergi ini, Kemendag optimistis target peningkatan ekspor nonmigas ke Australia dalam kerangka IA-CEPA dapat terakselerasi melalui lahirnya generasi baru pelaku usaha yang berwawasan global,” pungkas Haris.

Seminar ini menghadirkan sejumlah narasumber yang mencerminkan sinergi antara pemerintah dan praktisi, di antaranya Managing Director Waroeng SS Australia Michael Samsir, Founder Ekspor.id Choirul Amin, Presiden PPI Australia Muhammad Hadiyan Ridho, serta Presiden Mata Garuda Australia–New Zealand Jonathan Hasian Haposan.

Michael Samsir menjadi contoh konkret peran mahasiswa Indonesia di Australia yang mampu bertransformasi menjadi pelaku usaha sekaligus penghubung pasar Indonesia dan Australia. Melalui keterlibatannya dalam komunitas diaspora, ia membuktikan bahwa pelajar Indonesia di luar negeri dapat berkontribusi langsung dalam memperkuat diplomasi ekonomi.

Kontribusi tersebut juga mendapat pengakuan melalui keberhasilan Indonesia Culinary Association of Victoria (ICAV), organisasi diaspora kuliner Indonesia di Melbourne yang turut didorong Michael, meraih Primaduta Award pada Trade Expo Indonesia 2024. Penghargaan ini menegaskan peran nyata diaspora pelajar dan alumni Indonesia dalam memperluas penetrasi produk dan kuliner nasional di pasar Australia.

Baca Juga: DIMULAI DARI KOTAK SUARA (4): Kesalahan Pemilih, Rakyat Sebagai Subjek yang Lalai

Dengan keterlibatan para diaspora, program ini diharapkan mampu memotivasi lebih banyak mahasiswa Indonesia untuk aktif dalam ekosistem ekspor. Sekembalinya ke Tanah Air, mereka diharapkan tumbuh menjadi eksportir yang memahami dinamika pasar global, sementara yang menetap di luar negeri dapat berperan sebagai pembeli, importir, atau distributor produk Indonesia secara berkelanjutan.

Presiden PPI Australia, Muhammad Hadiyan Ridho, menegaskan kesiapan organisasinya untuk mendukung langkah pemerintah. “Dengan basis massa yang besar, PPI Australia siap mengintegrasikan kapasitas akademik pelajar dengan kebutuhan nyata ekosistem ekspor, menjadikan pelajar sebagai early adopter sekaligus penghubung pasar,” ujarnya.

Sementara itu, Presiden Mata Garuda Australia–New Zealand Jonathan Hasian Haposan menyampaikan bahwa alumni LPDP siap menjadi jembatan strategis dalam diplomasi ekonomi. Menurutnya, kolaborasi lintas pemangku kepentingan ini membuka peluang bisnis berkelanjutan sekaligus memperkuat rantai pasok Indonesia di pasar global.

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *