Mudabicara.com_ Sebagai momentum kebebasan, kemerdekaan seharusnya menumbuhkan rasa simpati dan empati masyarakat terhadap negara. Ada harapan bahwa negara akan hadir dalam ruang-ruang sosial kehidupan. Namun perlu kita renungkan bersama bahwa merdeka bukan berarti akhir dari sebuah perjuangan.

Kemerdekaan menjadi pintu awal tentang wacana kebangsaan. Bung karno pernah mengatakan bahwa “Perjuanganku lebih mudah karena mengusir penjajah, tapi perjuanganmu akan lebih sulit karena melawan bangsamu sendiri.” Sekarang, betapa kita menjadi sangat mengerti bahwa untuk membangun sebuah bangsa yang besar dan maju, perjuangan itu akan lebih sulit ketimbang melawan penjajah itu sendiri.

Ketimpangan
Lomba Tarik Tambang

Mari kita renungkan bersama, betulkah kita sudah benar-benar merdeka? Jawabannya tak mudah dirumuskan apakah sudah benar-benar merdeka atau belum sama sekali. Sebab kita belum berhenti untuk berjuang, belum ada kata akhir untuk capaian-capaian yang ingin dan akan diraih.

Kesejahteraan Yang Hilang

Kesejahteraan masyarakat masih menjadi pekerjaan rumah besar bagi pemerintah paska kermerdekaan. Perjuangan untuk lepas dari penjajahan sudah lama berakhir. Saatnya mengisi kemerdekaan dengan perjuangan menegakkan kesejahteraan. Dan sebaik-baiknya perjuangan menegakkan kesejahteraan adalah menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan keadilan.

BACA JUGA : BUZZ CREATIVE, CARA JITU LEJITKAN UMKM LEWAT PUBLIK FIGUR

Sayangnya di umur kemerdekaan yang sudah 75 tahun kesejahteraan belum benar-benar kita rasakan. Permasalahan-permasalahan bangsa Indonesia pun menjadi semakin runcing dan pelik justru ketika berjuang melawan bangsanya sendiri.

Jika kita mengikuti logika linier bagaimana keadaan Indonesia, barangkali kita menjadi bangsa yang begitu kuat dan benar-benar maju. Betapa tidak, kita memiliki semuanya, kekayaan alam, kekayaan kultur, sumber daya manusia yang begitu banyak, tapi mengapa yang terjadi justru sebaliknya? Kita menjadi bangsa yang miskin dan ketimpangan ada di mana-mana. Apa yang salah dengan negeri ini?

Ketimpangan
Lomba Makan Kerupuk

Paling tidak pertanyaan-pertanyaan di atas sudah ada jawabanya di benak kita masing-masing. Ketimpangan akan tetap kita alami jika para pemegang kekuasan terus menerus berselingkuh dengan keserakahan, kepentingan politik lebih diutamakan, dan akses pekerjaan tidak di sediakan.

Kiranya pemerintah perlu merajut ulang niat mereka berbangsa dan bernegara. Bahwa bangsa ini butuh generasi yang mampu memberi dobrakan inovasi dan kreasi. Sumber kejahatan yang menyengsarakan rakyat ialah Korupsi. Seyogyanya jika korupsi tetap terpatri di fikiran penguasa maka akibatnya tentu akan membuat rakyat sengsara. Rakyat akan tetap miskin dan masalah ketimpangan tak pernah terselesaikan.

BACA JUGA : PEMUDA DESA, TUMBUHKAN KEBERSAMAAN LEWAT “GOWES KEMERDEKAAN”

Lalu adakah Kemerdekaan yang kita rayakan ini akan selalu absen dari agenda pemenuhan kesejahteraan rakyat? Jawabnya masih menunggu kejujuran, kebaikan dan keberanian politik para penguasa. Namun bila “batas” menunggu telah habis, para penguasa negeri ini harus tahu bahwa memilih langkah perlawanan terhadap kelaliman adalah sesuatu hak asasi yang dapat digunakan masyarakat. Semoga langkah itu tidak perlu.