Fakta-fakta Siswa SD di NTT Bunuh Diri, Miris!

Sosial45 Dilihat
Mudabicara.com_Kasus bunuh diri yang melibatkan seorang siswa sekolah dasar kembali mengusik nurani publik. Seorang bocah laki-laki berinisial YBR, berusia 10 tahun, ditemukan meninggal dunia dengan cara tragis di Kabupaten Ngada, Provinsi Nusa Tenggara Timur (NTT). Anak kelas IV SD itu diduga mengakhiri hidupnya karena tekanan ekonomi keluarga yang membuatnya tak mampu membeli buku tulis dan alat tulis sekolah. Peristiwa memilukan tersebut terjadi pada Kamis (29/1/2026), di sebuah kebun cengkih milik nenek korban di Desa Wawowae. Kejadian ini bukan sekadar duka keluarga, melainkan gambaran nyata rapuhnya perlindungan terhadap anak-anak dari keluarga miskin. berikut fakta-fakta yang terungkap dari kasus siswa SD yang gantung diri dan menyayat hati ini:

Jenazah Ditemukan di Kebun Cengkih

Kebun cengkih milik Welumina Nenu, nenek YBR, menjadi saksi bisu berakhirnya hidup seorang anak yang masih duduk di bangku SD. Jenazah korban pertama kali ditemukan oleh KD (59), warga setempat yang hendak menuju pondok untuk mengikat ternak. Dalam perjalanan, KD melihat tubuh seorang anak tergantung di pohon. Teriakannya memecah kesunyian kebun dan mengundang warga sekitar untuk datang. Peristiwa tersebut kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian. Saat ditemukan, kondisi korban sudah tidak menunjukkan tanda-tanda kehidupan. Lokasi kejadian berada di wilayah Kecamatan Jerebuu, Kabupaten Ngada, NTT.

Aparat Kepolisian Langsung Amankan Tempat Kejadian

Personel Polres Ngada yang dipimpin Iptu Thomas Aquino Mere dari Satuan Intelkam segera mendatangi lokasi kejadian. Aparat mengamankan tempat kejadian perkara dan melakukan olah TKP melalui Unit Identifikasi Satreskrim Polres Ngada. Hasil pemeriksaan menunjukkan YBR tergantung menggunakan dua utas tali nilon berwarna hijau. Polisi mengamankan sejumlah barang bukti, antara lain tali nilon, pakaian yang dikenakan korban, serta selembar kertas berisi tulisan tangan dalam bahasa Bajawa yang diduga kuat sebagai pesan terakhir untuk sang ibu. Setelah proses identifikasi, jenazah korban dibawa ke Puskesmas Dona Jerebuu untuk menjalani visum et repertum. Kasi Humas Polres Ngada, Ipda Benediktus R Pissort, menyampaikan bahwa penyelidikan terus dilakukan dengan mengumpulkan keterangan saksi serta berkoordinasi dengan pihak keluarga. “Atas peristiwa ini, Polres Ngada turut menyampaikan belasungkawa yang mendalam kepada keluarga korban,” ujar Ipda Benediktus. Ia juga mengimbau masyarakat agar lebih peka terhadap kondisi psikologis anak dan segera melaporkan tanda-tanda awal permasalahan agar dapat ditangani sejak dini.

Surat Perpisahan yang Mengiris Hati

Di balik tragedi ini, ditemukan sepucuk surat kecil yang ditulis YBR sebelum mengakhiri hidupnya. Surat tersebut ditujukan kepada sang ibu, dengan kata-kata sederhana namun sarat emosi. Isi surat itu berbunyi: Kertas Tii Mama Reti (Surat untuk mama Reti) Mama Galo Zee (Mama pelit sekali) Mama molo Ja’o Galo mata Mae Rita ee Mama (Mama baik sudah. Kalau saya meninggal mama jangan menangis) Mama jao Galo Mata Mae woe Rita ne’e gae ngao ee (Mama saya meninggal, jangan menangis juga jangan cari saya ee) Molo Mama (Selamat tinggal mama) Tulisan polos itu mencerminkan beban batin yang tak semestinya dipikul oleh anak seusianya. Tanpa kemarahan atau keluhan, pesan tersebut justru menegaskan kesedihan yang selama ini terpendam.

Tekanan Ekonomi Diduga Jadi Penyebab

YBR tinggal bersama neneknya di sebuah gubuk bambu berukuran sekitar 2×3 meter. Gubuk sederhana itu berdiri tak jauh dari kebun cengkih tempat tragedi terjadi. Saat kejadian, sang nenek diketahui sedang mandi di kali dekat pondok. Korban merupakan anak bungsu dari lima bersaudara. Sejak usia satu tahun tujuh bulan, YBR diasuh oleh neneknya. Ibunya, Maria Goreti Te’a (47), bekerja sebagai petani dan buruh serabutan, sementara ayahnya merantau ke Kalimantan dan tak pernah kembali. Dalam keseharian, YBR membantu neneknya menjual sayur, ubi, dan kayu bakar. Menu makan keluarga sangat sederhana, dengan pisang dan ubi sebagai makanan utama. Menurut sang nenek, YBR dikenal sebagai anak pendiam, penurut, dan jarang mengeluh. Permintaannya pun sederhana, hanya buku tulis dan pulpen untuk keperluan sekolah. “Kami selalu berusaha penuhi, semampu kami,” ujar Welumina Nenu lirih saat ditemui pada Selasa (3/2/2026).

Kondisi Sosial Ekonomi Desa Wawowae

Desa Wawowae berada di Kecamatan Bajawa, Kabupaten Ngada, NTT, dengan kode pos 86413. Wilayah ini terletak di dataran tinggi pada ketinggian sekitar 750 hingga 1.500 meter di atas permukaan laut dan dikelilingi kawasan pegunungan, termasuk Gunung Inerie. Berdasarkan data Badan Pusat Statistik Kabupaten Ngada tahun 2024-2025, Wawowae merupakan desa agraris yang perekonomiannya sangat bergantung pada sektor pertanian dan perkebunan. Komoditas utama desa ini adalah kopi, khususnya kopi arabika organik yang tumbuh optimal di ketinggian 1.000-1.500 meter di atas permukaan laut. Selain kopi, warga juga menanam berbagai sayuran seperti bayam, kangkung, terung, wortel, tomat, bawang merah, dan pakcoi sebagai sumber pangan dan tambahan penghasilan. Desa ini dihuni sekitar 1.626 jiwa, dengan akses jalan yang kini telah beraspal menuju Kota Bajawa. Namun, tantangan tetap ada. Perubahan iklim memengaruhi hasil panen kopi, sementara produksi kopi rakyat di Ngada sempat mengalami fluktuasi pada 2023–2024. Kondisi tersebut berdampak langsung pada kestabilan pendapatan masyarakat.

Kondisi Terakhir sebelum Kepergian YBR

Pada pagi hari sebelum tragedi, YBR mengeluh pusing dan enggan berangkat ke sekolah. Sang ibu sempat khawatir anaknya tertinggal pelajaran, namun tetap mendorongnya untuk berangkat dengan menumpang ojek. Tak lama berselang, kabar duka datang tanpa peringatan. Maria Goreti Te’a mengaku terkejut saat mendapat kabar dari tetangga. “Saya pikir dia sedang pergi sekolah,” ujarnya dengan suara bergetar. Malam sebelumnya, YBR sempat menginap di rumah ibunya. Pagi hari, ia kembali ke rumah neneknya menggunakan ojek. Sang ibu sempat menasihatinya agar tetap rajin bersekolah, meski keterbatasan ekonomi menjadi kenyataan pahit yang tak terelakkan.

Minimnya Perlindungan Sosial dan Akses Bantuan

Keluarga YBR diketahui menghadapi tekanan ekonomi berkepanjangan. Anak-anak diasuh secara terpisah, pendampingan emosional minim, dan akses pendidikan terbatas. Dari lima bersaudara, hanya dua anak yang sempat menikmati pendidikan formal secara berkelanjutan. Ironisnya, keluarga ini tidak tercatat sebagai penerima bantuan pemerintah, baik bantuan rumah layak huni, pendidikan, maupun bantuan sosial lainnya. Kondisi ini memperlihatkan adanya celah serius dalam sistem pendataan dan perlindungan keluarga miskin.

Respons Pemerintah dan Lembaga Perlindungan Anak

Tragedi ini mendapat perhatian dari pemerintah pusat. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menyatakan pihaknya akan menindaklanjuti kasus tersebut dengan melakukan penyelidikan menyeluruh terkait penyebab kejadian. Sementara itu, Menteri Sosial Saifullah Yusuf atau Gus Ipul menegaskan pentingnya penguatan basis data Kementerian Sosial agar seluruh keluarga miskin, termasuk kategori miskin ekstrem, dapat terjangkau bantuan dan pendampingan. “Kita harus memastikan tidak ada keluarga yang luput dari perhatian pemerintah,” tegasnya. Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) juga menyampaikan keprihatinan mendalam. Komisioner KPAI, Ai Maryati Solikah, menyatakan pihaknya akan mendalami kasus ini dan menggelar pembahasan lanjutan bersama pihak terkait.

Tragedi yang Menjadi Alarm Sosial

Surat kecil yang ditinggalkan YBR kini menjadi simbol duka sekaligus refleksi sosial. Seorang anak harus mengakhiri hidupnya karena ketidakmampuan membeli perlengkapan sekolah senilai Rp 10.000. Peristiwa ini menunjukkan bahwa beban anak-anak di daerah terpencil kerap tak terlihat, namun dampaknya bisa berujung fatal. Kemiskinan, keterbatasan akses pendidikan, dan lemahnya perlindungan sosial menjadi kombinasi berbahaya yang mendorong tragedi bunuh diri pada anak. Kematian YBR meninggalkan luka mendalam bagi keluarga, tetangga, dan masyarakat luas. Gubuk bambu, selembar surat, dan pohon cengkih menjadi pengingat bahwa anak-anak tak seharusnya menanggung beban hidup sedemikian berat. Tragedi ini menjadi panggilan bagi negara dan masyarakat untuk hadir lebih nyata, memperkuat pendampingan, serta mencegah kasus bunuh diri serupa terulang di masa depan.
Tulisan Terkait: