Mudabicara.com_ Kemerdekaan Indonesia 2020 di ramaikan dengan viralnya Film “Tilik”. Film yang sempat menjadi trending topik dijagad twitter dengan lebih 29 ribu cuitan. Film yang menceritakan tentang rombongan ibu-ibu yang sedang dalam perjalanan untuk menjenguk ibu lurah. Namun sepanjang perjalanan mereka menggosipkan seorang kembang desa bernama Dian.

Film Pendek karya Wahyu Agung Saputra yang rilis tahun 2018 dan tayang di Youtube pada 17 Agustus 2020 ini mampu mendapat popularitas. Satu pemeran yang viral yakni Ibu Tedjo. Bu Tedjo diperankan oleh Siti Fauziah Saekhoni atau lebih di kenal dengan sapaan Ozie.

BACA JUGA : ENAM TIPS UNTUK ANAK MUDA DALAM MENERIMA PASANGANNYA

Kenapa Film Tilik Viral

Pada awalnya Wahyu Agung Saputra  tidak memprediksi akan se-viral ini. Agung mengatakan bahwa pergerakan anak-anak film pendek sering dipandang sebelah mata. Semua itu terbukti dengan minimnya dukungan dan apresiasi.

Namun berbicara Film Tilik yang viral, memang saat produksi dan waktu  ingin merilis, semua crew  film mengatur strategi dan persiapan yang matang. Disamping faktor teknis yang baik, Film Tilik memang mampu mengambarkan realitas kehidupan ibu-ibu menengah ke bawah di Indonesia.

Film Tilik menampilkan apa yang sering terjadi dikalangan ibu-ibu dengan segala macam corak dan isinya. Seolah menjadi refleksi dari kehidupan sehari-hari, sehingga mudah diterima masyarakat.

Ditambah semua tokoh di Film Tilik digambarkan dengan bagus. Sekaligus pemeran bu Tedjo yang mampu menampilkan karakter sebagai ibu-ibu Indonesia pada umumnya. Sehingga penonton yang mempunyai pengalaman empiris terhadap budaya ibu-ibu tersebut mampu merasakan keintiman saat menontonya.

Walaupun tidak pernah punya pengalaman budaya tilik, minimal ada kedekatan antar penonton dengan karakter. Sebab fenomena ini tidak asing bagi masyarakat Indonesia.

Ibu-ibu memang memiliki solidaritas mekanik saat mereka berkumpul. Solidaritas yang akan menumbuhkan satir komedi dengan kebiasaan bergosip dan nyinyir terhadap kesuksesan pun kesusahan orang-orang di sekitarnya.

Ibu-ibu cenderung menyimpan rapat-rapat ketidaksesuaiannya dengan orang lain dengan menampakkan hal-hal yang cenderung disukai sekitarnya. Dari sinilah muncul tradisi yang bernama gosip. Pilihan tepat mencurahkan isi hati tanpa menimbulkan pertengkaran.

Pesan Tak Sampai di Film Tilik

Film Tilik di produksi awalnya ingin menyampaikan pesan bahwa kita harus melawan fenomena  hoaxs dan misinformasi. Mengajarkan untuk selalu cek fakta dan tidak begitu saja percaya dengan informasi yang viral.

Pastikan untuk menegakkan asas praduga tidak bersalah, dan jangan membangun penjelasan sendiri dari informasi yang tidak lengkap, tidak benar, dan tidak dapat di percaya. Pastikan sumber yang terpercaya dan informasi yang lengkap. Asumsi bukan berarti fakta.

Namun narasi yang di bangun di film Tilik lebih banyak pergosipan tentang sosok Dian. Sehingga pesan awal yang ingin dituju menjadi melebar. Penonton lebih fokus kepada sosok Bu Tedjo yang mampu mempengaruhi opini para ibu-ibu soal Dian.

Kepandaian Bu Tedjo dalam menggiring opini ibu-ibu untuk dapat mengikuti apa yang ia maksudkan. Tak heran jika dalam setiap dialog Bu Tedjo  terkesan memanas-manasi ibu-ibu yang lain.

Jika niat awalnya ingin menjelaskan bahwa film Tilik ingin memberi pesan terhadap penonton persoalan hoaks dan misinformasi. Mungkin alangkah baiknya scene film berhenti pada saat yu Ning yang salah informasi soal Bu Lurah. Bahwa bu Lurah ternyata belum bisa di jengguk.

Namun ketika ada scene selanjutnya yang menontonkan bahwa Dian ternyata benar menjadi wanita simpanan maka menjadi kaburlah pesan filmnya.

Ternyata apa yang di sampaikan oleh Bu Tedjo soal Dian benar adanya. Meskipun informasi yang dia dapat hanya dari media sosial. Asumsi yang menjadi bahan gosip selama perjalanan ternyata benar ketika scene terakhir muncul.

Terlepas dari itu semua, Apresiasi yang luar biasa kepada siapapun yang terlibat dalam produksi film Tilik, terkhusus mas Wahyu Agung Saputra. Berkat film Tilik kami jadi terhibur di hari Kemerdekaan.

“Terserah orang mau bilang apa soal karyaku,itu hak mereka” kata Pram.

Akhirnya sebagus apapun kritik namun yang lebih baik adalah berkarya. Pun dengan tulisan ini baik dan buruknya saya serahkan kepada pembaca asal jangan agama.

Saran saja untuk mas Wahyu Agung Saputra untuk film episode kedua berjudul “Rewang”. 

 

 

 

Penulis : Mahfut Khanafi (Pecinta Nasi Pecel Garis Keras)