Mudabicara.com_Kementerian Haji dan Umrah (Kemenhaj) mulai merumuskan berbagai langkah pembenahan sebagai bagian dari evaluasi penyelenggaraan ibadah haji tahun 2026. Fokus utama evaluasi diarahkan pada mekanisme pergerakan jamaah di kawasan Arafah, Muzdalifah, dan Mina (Armuzna), serta implementasi kebijakan istitha’ah kesehatan yang dinilai masih memerlukan penyempurnaan.
“Tentu banyak evaluasi, ini tahun pertama Kementerian Haji dan Umrah melaksanakan penyelenggaraan haji secara langsung, ada beberapa catatan penting terutama nanti terkait pergerakan di Armuzna dan kedua tentang istitha’ah kesehatan,” kata Wakil Menteri Haji dan Umrah (Wamenhaj) Dahnil Anzar Simanjuntak di Kota Malang, Jawa Timur, Jumat.
Menurut Dahnil, pola kerja dan penempatan petugas selama proses perpindahan jamaah di Armuzna akan menjadi perhatian khusus agar pelayanan yang diberikan dapat berlangsung lebih optimal dan menjangkau kebutuhan jamaah secara lebih intensif.
Baca Juga: STAI Shalahuddin Al-Ayyubi Jakarta: Membangun Generasi Unggul Berlandaskan Nilai-Nilai Islam
Selain itu, aspek kesehatan jamaah juga menjadi sorotan penting dalam evaluasi tahun ini. Meskipun angka kematian jamaah asal Jawa Timur mengalami penurunan dibanding musim haji sebelumnya, jumlahnya masih tergolong tinggi sehingga memerlukan langkah antisipatif yang lebih ketat.
Dahnil menyampaikan jumlah jamaah haji asal Jawa Timur yang meninggal pada 2025 mencapai 104 orang, sedangkan pada 2026 angka kematian menjadi 65 orang.
Sebagai tindak lanjut, Kemenhaj berencana memperkuat penerapan persyaratan kesehatan bagi calon jamaah yang akan berangkat pada musim haji 2027 guna meminimalkan risiko kesehatan selama pelaksanaan ibadah.
“Tahun depan kami lebih selektif, misalnya yang memiliki indikasi demensia dipotong supaya tidak berangkat, yang (penyakit) ginjal, tuberkulosis (TBC), dan sebagainya kami pastikan tidak bisa berangkat,” ujarnya.
Di sisi lain, pemerintah juga tengah menyusun rancangan Biaya Perjalanan Ibadah Haji (BPIH) tahun 2027. Penyusunan skema pembiayaan dilakukan dengan mempertimbangkan kondisi nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat yang saat ini mengalami tekanan.
“Tentu kami berusaha mencari postur pembiayaan yang berkeadilan untuk jemaah dan berkeadilan untuk keuangan haji,” tutur dia.
Kunjungan Wamenhaj Dahnil ke Kota Malang kali ini dilakukan untuk memberikan dukungan kepada Muhaimin, seorang petugas haji yang tengah bertugas di Arab Saudi dan baru saja kehilangan istrinya.
Pada kesempatan itu, Dahnil turut menyampaikan kedatangan bersama Kemenhaj ke rumah duka untuk memberikan dukungan moril kepada keluarga almarhumah. Dahnil menambahkan sesungguhnya petugas haji telah menjadi bagian dari keluarga besar Kemenhaj.
Saat ini Muhaimin, disebutnya masih melaksanakan tugas sebagai petugas haji di Arab Saudi.
“Beliau Cak Imin (sapaan Muhaimin) menunaikan tanggung jawab sampai selesai di tanah haram,” kata dia.












