Sabut Kelapa Jadi Coco Sheet, Warga Binaan Lapas Purwokerto Tembus Pasar China

Sosial92 Dilihat

Mudabicara.com_Kesibukan terlihat dari tangan Abdul Rahman yang terus mengolah sabut kelapa. Material yang selama ini lebih dikenal sebagai sisa buangan tersebut kini disulap menjadi lembaran coco sheet yang memiliki nilai jual, bahkan telah dipasarkan hingga ke mancanegara.

Abdul bersama sejumlah rekan warga binaan menata sabut kelapa sebelum menjemurnya di bawah panas matahari. Ketika sabut dibuka dan diratakan, butiran debu pun seketika beterbangan.

Setelah itu, perekat disemprotkan pada permukaan sabut kelapa agar material tersebut dapat menyatu menjadi lembaran. Para narapidana kemudian mengandalkan keterampilan tangan mereka untuk menghasilkan coco sheet dengan kualitas yang sesuai standar ekspor.

Abdul adalah warga binaan Lapas Kelas IIA Purwokerto, Banyumas. Sekitar satu bulan belakangan, ia ikut terlibat dalam proses produksi coco sheet. Menurutnya, aktivitas tersebut tidak hanya menjadi kegiatan untuk mengisi waktu selama berada di balik jeruji, tetapi juga memberinya keahlian yang bisa dibawa setelah bebas.

Baca Juga: Sambut HUT RI Ke-81, Kemenimipas Gelar Doa Lintas Agama dan Paparkan Capaian Semester I 2026

“Awal mungkin sulit. Nah, semakin ke sini jadi mudah. Dari proses awal sampai pembuatan jadi, alhamdulillah sekarang bisa lancar bikinnya,” kata Abdul saat ditemui wartawan di dalam Lapas Purwokerto, Sabtu (8/8/2026).

Abdul merupakan warga binaan dalam kasus narkoba. Ia baru menjalani sekitar dua tahun dari total hukuman delapan tahun penjara.

Selama berada di lapas, Abdul dan warga binaan lainnya memperoleh kesempatan mempelajari pengolahan sabut kelapa hingga menjadi coco sheet. Pengerjaannya masih menggunakan metode manual dengan mendapat pendampingan dari pihak ketiga.

Ia menyebut dirinya hanya membutuhkan waktu kurang lebih dua hari untuk menguasai tahapan dasar pembuatan coco sheet.

“Alhamdulillah dapat ilmu dari lapas ini. Biar nanti ke depannya keluar dari sini ada ilmu yang didapat dari sini, punya bekal keterampilan,” ujarnya.

Keahlian tersebut juga membuat Abdul mulai memikirkan kehidupannya setelah masa hukuman berakhir. Ia ingin keterampilan yang dipelajarinya selama di lapas dapat menjadi modal untuk memperoleh pekerjaan atau merintis usaha.

“Insyaallah kemungkinan kalau sudah di luar,” katanya saat ditanya rencana mengembangkan usaha tersebut.

Baca Juga: Kemenimipas Raih Opini WTP 2025, BPK Apresiasi Penguatan Tata Kelola Keuangan

Selain mendapatkan pengalaman baru, warga binaan juga memperoleh penghargaan berupa premi atau upah dari setiap hasil produksi. Uang tersebut sebagian disimpan sebagai tabungan dan sebagian lainnya bisa diambil untuk memenuhi kebutuhan masing-masing warga binaan.

“Kalau sebagian ada yang ditabungin sebagian ada yang diambil gitu. Ga mesti tergantung dari WBP di sini,” terang pria asal Bumiayu, Kabupaten Brebes ini.

Syarat Warga Binaan yang Bisa Ikut

Kepala Lapas Kelas IIA Purwokerto, Ali Andra Harahap, menjelaskan kegiatan produksi coco sheet di tempatnya merupakan hasil kolaborasi dengan pihak ketiga. Program pemberdayaan tersebut telah berjalan selama kurang lebih tiga bulan.

Sabut kelapa sebagai bahan dasar diperoleh dari stakeholder, kemudian diolah oleh warga binaan yang sebelumnya telah memenuhi kompetensi yang dibutuhkan.

“Untuk sementara yang sudah mempunyai kompetensi sekitar 24 warga binaan yang terlibat secara langsung dalam pemberdayaan coco sheet ini,” kata Ali.

Warga binaan yang mengikuti kegiatan tersebut memperoleh bimbingan mengenai tahapan pengolahan sabut kelapa. Walaupun pengerjaan masih mengandalkan cara manual, mereka terus diarahkan agar mampu menghasilkan coco sheet yang sesuai dengan permintaan pasar.

Kesempatan mengikuti program itu tidak terbuka bagi seluruh warga binaan. Pihak lapas menetapkan beberapa persyaratan bagi mereka yang ingin terlibat.

“Yang sudah setengah menjalani masa pidana, yang kedua berkelakuan baik, itu saja,” jelasnya.

Baca Juga: Gugun Gumilar Dorong Persatuan, Pelayanan Ibadah di Chapel Oikumene USU Tetap Berjalan

Ali menilai kegiatan pemberdayaan tersebut memberikan berbagai keuntungan bagi warga binaan. Selain memiliki kegiatan produktif, mereka juga memperoleh pengalaman dan kemampuan yang nantinya dapat dimanfaatkan ketika kembali menjalani kehidupan di tengah masyarakat.

“Sangat banyak yang didapatkan warga binaan, terutama bagaimana mereka memberdayakan waktu mereka secara efektif dan berkualitas,” ujarnya.

Menurut Ali, rutinitas tersebut juga memberikan kesibukan bagi warga binaan sepanjang hari. Dengan begitu, mereka memiliki aktivitas positif yang dapat membantu menjaga pola pikir selama menjalani hukuman.

“Yang ketiga, tentu mereka mendapatkan premi atau upah dari setiap produksi yang mereka kerjakan,” katanya.

Premi hasil produksi tersebut tidak diserahkan kepada warga binaan dalam bentuk uang tunai. Pihak lapas memilih mengubahnya menjadi bentuk tabungan.

Ali berharap kemitraan dengan pihak ketiga dapat terus berlangsung bahkan setelah warga binaan menyelesaikan masa pidananya. Ia berharap para warga binaan nantinya tetap memperoleh kesempatan untuk bekerja dan diberdayakan.

“Kita berharap dari pihak ketiga ketika mereka bebas bisa memberdayakan mereka dan merekrut mereka sebagai pegawai,” ujarnya.

Baca Juga: Kemenag Siapkan Program Khusus Agar Santri Lebih Kompetitif Raih Beasiswa LPDP

Dari Lapas untuk Pasar Dunia

Sementara Direktur Jenderal Pemasyarakatan Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan, Mashudi, menyampaikan bahwa pengembangan coco sheet kini telah dilakukan di 14 lapas yang tersebar di Indonesia. Hasil produksi warga binaan tersebut bahkan sudah menembus pasar internasional.

“Hari ini produk coco sheet buatan warga binaan akan kita ekspor ke China,” kata Mashudi.

Ia menjelaskan, pasar produk tersebut tidak hanya berada di China. Hasil pemberdayaan warga binaan dari sejumlah lapas juga telah dikirim ke negara lain, di antaranya Korea, Amerika Serikat dan Jepang.

“Yang paling banyak itu Korea, China, Jepang. Itu kirim kita semuanya. Hari ini kita kirim untuk ke China,” ujarnya.

Pada pengiriman dari Purwokerto kali ini, sebanyak kurang lebih 400 lembar coco sheet disiapkan untuk dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan kasur.

“Hari ini secara keseluruhan, khususnya Purwokerto ada 400 pcs coco sheet untuk dibuat kasur di China,” terang dia.

Jumlah tersebut menjadi bagian dari keseluruhan produk yang dikirim dari sejumlah lapas, dengan jenis maupun kuantitas yang berbeda sesuai hasil produksi masing-masing.

Baca Juga: Gugun Gumilar Kenalkan Konsep Kerukunan Indonesia di Forum Internasional Gereja Advent

Mashudi menilai kegiatan tersebut merupakan salah satu wujud pemberdayaan agar warga binaan tetap mampu menghasilkan sesuatu selama menjalani masa pidana.

Ia menyebut terdapat tiga manfaat utama yang menjadi sasaran program tersebut. Pertama, warga binaan memperoleh premi dari pekerjaan yang dilakukan. Kedua, mereka mendapatkan pengetahuan serta keterampilan baru. Ketiga, keterampilan tersebut dapat menjadi bekal ketika mereka kembali ke lingkungan masyarakat.

“Warga binaan ini akan mendapatkan premi, mendapatkan ilmu setelah dia keluar dari lapas ini, bermanfaat untuk yang bersangkutan,” ujarnya.

Warga binaan yang mengikuti kegiatan tersebut juga memperoleh sertifikat yang menjadi bukti atas kompetensi yang berhasil mereka kuasai selama mengikuti program.

Premi hasil kerja pun tidak semuanya langsung dapat digunakan. Sebagian disisihkan untuk ditabung sehingga bisa dimanfaatkan sebagai modal ketika warga binaan telah menyelesaikan masa pidana.

“Dia ditabung separuh, yang separuh diterima yang bersangkutan. Nantinya keluar, tabungannya ada dan punya ilmu di situ,” kata Mashudi.

Mashudi berharap kemampuan yang diperoleh warga binaan selama berada di lapas dapat terus dimanfaatkan setelah mereka bebas. Menurutnya, keberlanjutan program juga dapat diwujudkan melalui kesempatan bekerja dengan pihak yang selama ini menjadi mitra pemberdayaan.

“Syukur-syukur dari beliau selaku pengusaha ini bisa menerima kembali warga binaan setelah lapas ini untuk dipekerjakan di tempatnya beliau,” ujarnya.

Tulisan Terkait: