Pernyataan Kontroversial Trump Soal Kekuasaan Global dan Penolakan Hukum Internasional

Indepth44 Dilihat

Mudabicara.com_Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump kembali menarik perhatian komunitas global menyusul rentetan kebijakan luar negeri AS dalam beberapa waktu terakhir. Alih-alih menunjukkan kekhawatiran, Trump justru menegaskan bahwa dirinya tidak merasa terikat oleh hukum internasional.

Pernyataan itu disampaikan Trump dalam wawancara dengan media besar AS, New York Times (NYT), yang dipublikasikan pada Rabu (7/1) waktu setempat dan dikutip oleh Anadolu Agency serta Japan Times, Jumat (9/1). Dalam kesempatan tersebut, Trump menyatakan bahwa satu-satunya faktor yang bisa membatasi langkahnya hanyalah “moralitasnya sendiri”, bukan aturan hukum internasional.

Baca Juga: Transformasi Haji Dinilai Gagal, Kornas Kohati Soroti Tata Kelola dan Sistem Digital

Sebagai catatan, sejumlah langkah kebijakan luar negeri Trump belakangan ini memicu kecaman luas. Di antaranya keterlibatan AS bersama Israel dalam serangan terhadap fasilitas nuklir Iran saat konflik bersenjata kedua negara terjadi tahun lalu, hingga operasi militer ke Venezuela dengan tujuan menangkap Presiden Nicolas Maduro.

Tidak berhenti di situ, setelah penangkapan Nicolas Maduro, Trump juga menyampaikan ambisinya untuk mengambil alih Greenland dari Denmark. Ia bahkan membuka kemungkinan penggunaan kekuatan militer demi mewujudkan rencana tersebut.

Kebijakan-kebijakan itu menuai reaksi keras dari negara-negara Eropa, terutama anggota NATO. Beberapa di antaranya secara terbuka menyampaikan peringatan kepada Trump terkait sikap dan rencananya.

Saat ditanya oleh NYT mengenai apakah ada batasan atas kekuasaan global yang dimilikinya sebagai Presiden AS, Trump menjawab: “Iya, ada satu hal. Moralitas saya sendiri. Pikiran saya sendiri. Itu satu-satunya hal yang dapat menghentikan saya.”

Pada kesempatan yang sama, Trump menegaskan bahwa dirinya tidak memerlukan hukum internasional. “Saya tidak membutuhkan hukum internasional,” tegas Trump.

Baca Juga: Gugatan Kepengurusan PPP Ditolak, Kepemimpinan Mardiono – Taj Yasin Sah

Meski demikian, Trump juga menambahkan pernyataan lain bahwa: “Saya tidak berniat menyakiti orang-orang.”

Ketika pewawancara NYT kembali mendesak soal kewajiban pemerintahannya untuk menaati hukum internasional, Trump menjawab “Iya perlu”.

Namun ia menekankan bahwa dirinya yang akan menentukan kapan aturan tersebut berlaku bagi AS. “Itu tergantung pada definisi Anda tentang hukum internasional,” katanya.

Menurut penilaian NYT, pernyataan Trump tersebut mencerminkan sikap yang cenderung mengesampingkan hukum internasional serta berbagai pembatas lain terhadap kewenangannya dalam menggunakan kekuatan militer, baik untuk menyerang, menginvasi, maupun menekan negara lain.

Pandangan Trump mengenai kebebasannya memanfaatkan kekuatan militer, ekonomi, maupun politik demi memperkuat dominasi AS, dinilai NYT sebagai pengakuan paling terbuka mengenai cara pandangnya terhadap dunia.

Inti dari pandangan tersebut adalah keyakinan bahwa kekuatan nasional seharusnya menjadi penentu utama dalam konflik antarkekuatan, bukan aturan hukum, perjanjian, atau konvensi internasional.

Meski demikian, Trump mengakui masih adanya sejumlah pembatasan di dalam negeri, bahkan ketika ia menjalankan strategi keras terhadap lembaga-lembaga yang tidak disukainya, melakukan pembalasan terhadap lawan politik, serta mengerahkan Garda Nasional ke kota-kota besar AS meskipun mendapat penolakan dari otoritas lokal.

Baca Juga: Pasal Penghinaan Lembaga Negara Berlaku 2026, Yusril: Kritik Tetap Dilindungi

Dalam wawancara yang sama dengan NYT, Trump menjelaskan bahwa ia sengaja memanfaatkan citranya yang sulit diprediksi serta kesiapannya untuk bertindak cepat secara militer sebagai alat untuk menekan negara lain agar mengikuti keinginannya.

Presiden AS yang kini berusia 79 tahun itu terdengar lebih percaya diri dibanding sebelumnya. Ia menyinggung keberhasilan serangan AS terhadap program nuklir Iran, membanggakan kecepatan dalam melumpuhkan pemerintahan Venezuela pada akhir pekan lalu, serta membahas rencana penguasaan Greenland yang menuai kritik dari sekutu-sekutu NATO.

Ketika ditanya mana yang lebih diprioritaskan, memperoleh Greenland atau menjaga keutuhan NATO, Trump enggan memberikan jawaban tegas. Namun ia mengakui bahwa: “Itu mungkin sebuah pilihan.”

Tulisan Terkait: