Mudabicara.com_Tahun ajaran 2020/2021, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) mengizinkan Sekolah di Zona hijau untuk melakukan pembelajaran secara tatap muka. Namun, di zona orange, dan merah diminta untuk melakukan pembelajaran daring atau jarak jauh di masa pendemi Covid-19.

Beberapa daerah di Indonesia tentu memiliki tantangan dan hambatan tersendiri saat menerapkan pembelajaran jarak jauh. Misalnya, masalah jaringan, kuota internat hingga masalah siswa yang tidak mengerti cara menggunakan tekhnologi untuk pembelajaran daring.

Seperti halnya yang di rasakan oleh Tri Utami widayanti (29). Tri adalah guru di Sekolah Dasar 47, Kota Jambi, Provinsi Jambi. Tri merasa kasihan dan sedih saat melihat peserta didikanya tidak bisa menikmati dan merasakan keindahan masa anak-anak di disekolah saat pembelajaran jarak jauh. Peserta didik tidak bisa bermain, tertawa, bercanda ria bersama teman-temanya.

Hal lain yang membuat Tri sedih adalah ketika mendengar ada peserta didik yang tidak bisa ikut pembelajaran daring karena tidak memiliki kuota internet.

“Kasihan anak-anak yang banyak keterbatasan, enggak bisa menikmati pendidikan sesuai yang seharusnya. Sedih aku tuh kalau baca berita anak-anak enggak punya kuota dan lain-lain,” cerita Tri saat bincang-bincang dengan Mudabicara.com melalui telepon, Selasa (28/7/2020).

Tri berharap, Pemerintah segera mencarikan solusi terbaik untuk keluar dari masalah pandemi ini, khususnya dunia pendidikan. Tri ingin segera belajar secara tatap muka dengan anak didiknya. Ia tidak sabar ingin memeluk, melihat canda, tawa, dan tangis mereka.

“Semoga segera ada solusi dari permasalahan covid 19 di sektor pendidikan,” harapnya.

“Segera belajar seperti biasa agar bisa secara langsung membimbing anak-anak disekolah. Peluk anak-anak,” ujarnya.

Yang diizinkan untuk belajar tatap muka di Sekolah tempat Tri mengajar hanya kelas 4,5 dan 6. Sedangkan untuk kelas 1,2 dan 3 belajar secara daring. Keputusan itu diambil oleh pihak sekolah agar menghindari keramaian untuk mencegah menyebaran Covid-19.

Selama pandemi ini, Tri merasakan betul tidak optimalnya  proses pembelajaran daring bagi perkembangan siswa. Karena siswa tidak terkontrol oleh guru. Siswa hanya disuruh untuk menonton video dan membaca buku secara mandiri, syukur-syukur jika orang tuanya memperhatikan mereka.

“Guru tidak mengetahui kesulitan yang dihadapi oleh siswa,” ucap Tri.

Tri mengatakan, SD 47 Kota Jambi berusaha keras memberikan pelayanan pendidikan terbaik. Untuk mendukung proses pembelajaran daring, pihak sekolah memasang jaringan internet (wifi) gratis di lingkungan sekolah. Selain itu, guru-guru juga dikasih kuota internet sebanyak Rp100.000

“Untuk meningkatkan profesionalitas guru dalam pembelajaran daring, majelis guru secara berkala melakukan pertemuan dengan tutor sebaya belajar menggunakan aplikasi yang dapat mendukung pembelajaran daring,” kata tri menambahkan.

baca juga : Tips Menjaga Anak Agar Tetap Aman Saat Berenang di Kolam Renang