Mudabicara.com_ Anakku, Kebetulan tepat setelah fajar terbit di ufuk timur suara tangismu terdengar. Di kala titik temu transisi antara harapan dan perjuangan. Pagi adalah semangat bagi semua orang untuk menata kehidupan. Dua gelombang yang seringkali bertaut pada satu frekuensi tanda bahwa kehidupan harus terus berjalan.

Babak baru kehidupan kini sudah dimulai. Coretan sejarah sedikit demi sedikit dibubuhkan pada selembar cakrawala kehidupan. Nanti atau entah kapan, ia akan menjadi pahatan prasasti sejarah tentang laku dan lakon. Momentum besar tentang laku kehidupan bahwa orang harus berkeluarga dan kemudian lakon tentang sebuah proses melahirkan.

Pada titik ini ekpresi kesadaran tiba-tiba menyapa tentang beratnya seorang ibu melahirkan. Patahan ruang dan waktu tak malu menyayat kegelisahan serta kebahagian. Desahan nafas ibu serta tangismu menjadi awal permulaan tentang kehidupan baru yang akan kita jalani.

Tafsir Kelahiran

Pada 13 November 2020 pukul 05:32 menjadi tanda kelahiran sekaligus perayaan akan hadirnya tanggung jawab. Memang Tuhan punya banyak cara berkomunikasi dengan makhluk-Nya. Sebagaimana tafsir kelahiranmu adalah anugerah yang terus menjadi rangkaian teka-teki tentang kesempurnaan menjadi orang tua serta manusia seutuhnya.

Kelahiran tidak lain merupakan simbol harapan serta do’a. Dan semua terpancar dari pahatan namamu. Kelahiranmu bersamaan dengan matahari terbit yang tak lain ia adalah sumber cahaya bagi kehidupan alam semesta. Di sisi lain tak ada satu kehidupan pun yang tak membutuhkan pancaran sedekah sinar sang surya kehidupan.

Kehadiranmu juga menjadi ruang ngolah roso kemanusiaan bagi bapak dan ibumu. Tidak ada kebaikan yang akan menjadi mata air kehidupan kecuali kebersamaan. Bahwa jika nanti kita minum kopi racikan ibumu dan berbincang di pojok rumah. Kita akan memanggil ingatan-ingatan yang mungkin sulit untuk menjadi utuh, kita menganggap itu pengalan-pengalan ingatan yang semestinya mampu kita rangkai bersama untuk terus kita lanjutkan pada penerusmu nantinya.

Kamu akan menjadi dunia, dunia yang tentu tempat orang-orang bersuka cita dan berbagi rasa. Dunia yang akan sepenuhnya menjadi tafsirmu. Pada akhirnya keluarga hanya menjadi pijakan pengetahuan awal akan kehidupan. Tapi tentu ada sepatah dua patah kata yang perlu kita kompromikan. Selebihnya duniamu adalah lintasan garis yang tentu akan menjadi dirimu seutuhnya, nanti!

Matahari adalah pusat kehidupan bagi bumi begitupun bumi merupakan satu-satunnya tempat bagi manusia. Maka tanamlah benih-benih kemuliaan bagi siapa saja yang bertemu denganmu. Pancarkan imunitas kebahagiaan serta kesahajaan. Bahwa hidup hanya sekedar numpang bercanda sehingga ajaklah bercanda dengan penuh makna. Candaan yang berguna bagi sesama mungkin juga umat manusia pada umumnya.

Warisan utama seorang manusia adalah perkara menjaga keturunan kemudian membina serta mendidik keturunan itu sampai kepada realitas kehidupan yang sepenuhnya sudah ia fahami. Begitulah seterusnya!

Dan anakku, atas alasan itulah aku memberi nama sekaligus pesan untukmu:

Matari Jagad Wisesadjati

Kemuliaan yang Menyinari Bumi

Anakku, aku ingin kau seperti Matahari yang tanpa henti menjadi sumber kehidupan bagi alam semesta. Apapun pilihan jalanmu, semoga engkau memaknainya sebagai salah satu perjuangan kebermanfaatan. Aku ingin kau menjadi rahmat bagi sesamamu.

Sebagaimana Jagad ia akan terus menjadi kemuliaan bagi kehidupan banyak orang. Hidup-hidupilah lingkungan di mana kau berada. Sebab dari lingkunganmu lah kau akan menyadari bagaimana perbedaan bukan berarti permusuhan tetapi takdir dan anugerah Tuhan.

Dan muara dari semua itu anakku, pilihlah ‘senjata kemuliaan’ yang tepat untuk mengantarkanmu pada kehidupan yang bermaslahat bagi pembangunan peradaban. Sebab inilah tugas sesungguhnya bagi seorang manusia anakku, yakni membangun peradaban.

 

Oleh : Mahfut Khanafi (CEO Mudabicara.com)