10 Puisi Joko Pinurbo Yang Wajib Anak Muda Baca

Sastra209 Dilihat

Mudabicara.com_ Puisi Joko Pinurbo terkenal begitu sederhana namun maknanya dalam dan mengena untuk merefleksikan kehidupan sosial kekinian.

Bagi kalian yang mencintai sastra tentu tidak asing dengan karya-karya sastrawan yang dijuluki dan dipanggil Jokpin ini. Dengan perawakan kurus dan sederhana Jokpin mampu mewarnai gemerlap dunia sastra Indonesia.

Lalu apa saja, puisi karya Joko Pinurbo, simak ulasan mudabicara berikut ini tentang 10 Puisi Joko Pinurbo Yang Wajib Anak Muda Baca.

Baca juga : 15 Puisi Taufiq Ismail Yang Wajib Anak Muda Baca

Siapa Itu Joko Pinurbo ?

Puisi Joko Pinurbo

Joko Pinurbo merupakan seorang sastrawan yang gigih dalam berkarya melalui kat-kata. Ia menjadi penyair yang tak redup di telan zaman dan semakin meneguhkan eksistensinya di era kontemporer.

Joko Pinurbo Lahir pada 11 Mei 1962 di bumi Pelabuhan Ratu, Sukabumi, Jawa Barat. Sebagai seorang sastrawan Joko Pinurbo termasuk salah satu satrawan terproduktif tanah air.

Beberapa karya Joko Pinurbo antara lain

  1. Celana, IndonesiaTera, Magelang, 1999
  2. Di Bawah Kibaran Sarung, IndonesiaTera, Magelang, 2001
  3. Pacarkecilku, IndonesiaTera, Magelang, 2002
  4. Telepon Genggam, Kompas, Jakarta, 2003
  5. Kekasihku, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2004
  6. Pacar Senja: Seratus Puisi Pilihan, Grasindo, Jakarta, 2005
  7. Kepada Cium, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007
  8. Celana Pacarkecilku di Bawah Kibaran Sarung, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2007
  9. Tahilalat, Omahsore, Yogyakarta, 2012
  10. Haduh, aku di-follow, Kepustakaan Populer Gramedia, Jakarta, 2013
  11. Baju Bulan: Seuntai Puisi Pilihan, Gramedia Pustaka Utama, Jakarta, 2013
  12. Bulu Matamu: Padang Ilalang, Motion Publishing, Agustus 2014
  13. Surat Kopi, Motion Publishing, Agustus 2014
  14. Surat dari Yogya: Sepilihan Puisi, Reboeng dan Elmatera, Oktober 2015
  15. Selamat Menunaikan Ibadah Puisi: Sehimpun Puisi Pilihan, Gramedia Pustaka Utama, Juni 2016
  16. Malam Ini Aku Akan Tidur Di Matamu: Sehimpun Puisi Pilihan, Gramedia Widiasarana Indonesia, Agustus 2016
  17. Buku Latihan Tidur: Kumpulan Puisi, Gramedia Pustaka Utama, Juli 2017
  18. Srimenanti, Gramedia Pustaka Utama, April 2019
  19. Salah Piknik, Gramedia Pustaka Utama, Februari 2021
  20. Tak Ada Asu di Antara Kita: Kumpulan Cerpen, Gramedia Pustaka Utama, Januari 2023

Di sisi lain, berkat keaktifan berkarya banya Joko Pinurbo diganjar berbagai apresiasi dan penghargaan antara lain

  1. Puisi Terbaik Dewan Kesenian Jakarta
  2. Hadiah Sastra Lontar
  3. Sih Award, penghargaan puisi terbaik jurnal puisi
  4. Tokoh sastra versi majalah Tempo.
  5. Khatulistiwa Literary Award lewat bukunya, Kekasihku.
  6. Dalam lingkup internasional, Joko Pinurbo pernah
  7. Diundang membaca puisi di Festival Puisi Antarbangsa Winternachten Over-zee 2001 di Jakarta,
  8. Diundang membaca puisi pada Festival Sastra/Seni Winternachten 2002 di Belanda
  9. Diundang pada Forum Puisi Indonesia 2002 di Hamburg, Jerman
  10. Diundang dalam Festival Puisi Internasional-Indonesia 2002 di Solo.

Buku antologi puisi Joko Pinurbo yang paling terkenal berjudul Tugu (1986), Tonggak (1987), Sembilu (1991), Ambang (1992), Mimbar Penyair Abad 21 (1996), Utan Kayu Tafsir dalam Permainan (1998), dan Sepotong Hati di Angkringan dan Selamat Menuaikan Ibadah Puisi.

Goresan karya Joko Pinurbo dekat dengan realitas masyarakat. Pilihan kata yang sederhana mampu terangkai dengan rima dan irama yang senada.

Oleh karena itu, banyak orang yang tertarik membaca karya Joko Pinurbo tak terkecuali seorang duta baca Indonesia oleh Perpustakaan Nasional yakni Najwa Shihab.

Baca Juga : 31 Puisi Wiji Thukul Yang Wajib Anak Muda Baca

10 Puisi Joko Pinurbo Yang Wajib Anak Muda Baca

1. Puisi Joko Pinurbo Berjudul “Jalan Buntu”

Sembilan

dari sepuluh jalan

yang melintasi

rimba tubuhmu

adalah jalan buntu

dan satu-satunya

jalan yang tidak buntu,

jalan

sunyi

menuju rumahku

justru jarang kaulalui

sebab kau

memang suka

neko-neko,sok tahu

dan terlalu banyak mau

2.  Puisi Joko Pinurbo Berjudul Do’a Orang Sibuk yang 24 Jam Sehari Berkantor di Ponselnya

Tuhan, ponsel saya rusak dibanting gempa.

Nomor kontak saya hilang semua.

Satu-satunya yang tersisa ialah nomor-Mu.

Tuhan berkata : dan itulah satu-satunya nomor  yang tak pernah kausapa

3. Puisi Joko Pinurbo Berjudul “Do’a Malam”

Tuhan yang merdu,
Terimalah kicau burung

Dalam kepalaku

Baca Juga : 23 Puisi D. Zawawi Imron Yang Wajib Anak Muda Baca

4. Puisi Joko Pinurbo Berjudul “Wawancara Tengah Malam”

Kamu tahu apa dosa terbesarmu ?

Korupsi, mencuri uang rakyat

Bukan

Menyakiti

Menganiaya

Membunuh orang

Bukan

Lantas apa, dong ?

Kamu melakukan semuanya

Dengan menggunakan nama-Ku

Apakah dosa saya bisa diampuni ?

5. Puisi Joko Pinurbo berjudul “Jalan ke Surga”

Jalan menuju kantor-Mu macet total

Oleh antrian mobil-mobil curianku

6. Puisi Joko Pinurbo Berjudul “Cita-Cita”

Setelah punya rumah, apa cita-citamu?
Kecil saja: ingin sampai rumah 
saat senja supaya saya dan senja sempat
minum teh bersama di depan jendela.

Ah, cita-cita. Makin hari kesibukan
makin bertumpuk, uang makin banyak
maunya, jalanan macet, akhirnya 
pulang terlambat. Seperti turis lokal saja,
singgah menginap di rumah sendiri
buat sekedar melepas penat.

Terberkatilah waktu yang dengan tekun 
dan sabar membangun sengkarut tubuhku 
menjadi rumah besar yang ditunggui
seorang ibu. Ibu waktu berbisik mesra,
“Sudah kubuatkan sarang senja 
di bujur barat tubuhmu. Senja sedang 
berhangat-hangat di dalam sarangnya.”

7. Puisi Joko Pinurbo “Doa Seorang Pesolek”

Tuhan yang cantik,
temani aku
yang sedang menyepi
di rimba kosmetik.

Nyalakan lanskap
pada alisku yang gelap.

Ceburkan bulan
ke lubuk mataku yang dalam.

Taburkan hitam
pada rambutku yang suram.

Hangatkan merah
pada bibirku yang resah.

Semoga kecantikanku
tak lekas usai dan cepat luntur
seperti pupur.

Semoga masih bisa
kunikmati hasrat
yang merambat pelan
menghangatkanku

sebelum jari-jari waktu
yang lembut dan nakal
merobek-robek bajuku.

Sebelum Kausenyapkan warna.

Sebelum Kauoleskan
lipstik terbaik
di bibirku yang mati kata.

8. Puisi Joko Pinurbo “Kepada Uang”

Uang, berilah aku rumah yang murah saja,
yang cukup nyaman buat berteduh
senja-senjaku, yang jendelanya 
hijau menganga seperti jendela mataku.

Sabar ya, aku harus menabung dulu.
Menabung laparmu, menabung mimpimu.
Mungkin juga harus menguras cadangan sakitmu.

Uang, berilah aku ranjang yang lugu saja,
yang cukup hangat buat merawat
encok-encokku, yang kakinya
lentur dan liat seperti kaki masa kecilku.

9. Puisi Joko Pinurbo Berjudul “Kamus Kecil”

Saya dibesarkan oleh bahasa Indonesia yang pintar dan lucu
Walau kadang rumit dan membingungkan
Ia mengajari saya cara mengarang ilmu
Sehingga saya tahu

Bahwa sumber segala kisah adalah kasih
Bahwa ingin berawal dari angan
Bahwa ibu tak pernah kehilangan iba
Bahwa segala yang baik akan berbiak
Bahwa orang ramah tidak mudah marah
Bahwa untuk menjadi gagah kau harus menjadi gigih
Bahwa seorang bintang harus tahan banting
Bahwa orang lebih takut kepada hantu ketimbang kepada Tuhan
Bahwa pemurung tidak pernah merasa gembira
Sedangkan pemulung tidak pelnah merasa gembila
Bahwa orang putus asa suka memanggil asu
Bahwa lidah memang pandai berdalih
Bahwa kelewat paham bisa berakibat hampa
Bahwa amin yang terbuat dari iman menjadikan kau merasa aman

Bahasa Indonesiaku yang gundah
Membawaku ke sebuah paragraf yang merindukan bau tubuhmu
Malam merangkai kita menjadi kalimat majemuk yang hangat
Dimana kau induk kalimat dan aku anak kalimat

Ketika induk kalimat bilang pulang
Anak kalimat paham
Bahwa pulang adalah masuk ke dalam palung
Ruang penuh raung
Segala kenang tertidur di dalam kening

Ketika akhirnya matamu mati
Kita sudah menjadi kalimat tunggal
Yang ingin tinggal
Dan berharap tak ada yang bakal tanggal

10. Puisi Joko Pinurbo Berjudul “Puisi Rumah Cinta Joko Pinurbo”

Buat Wien & A’an

Aku datang ke dalam engkau,

ke rumah rantau yang melindap

di antara dua bukit

di mana senja mengerjap-ngerjap

dalam kerlap birulangit.

Ada sejoli celana berkibar-kibar

di balik jendela:

Hai, kami sedang belajar bahagia.

Ada buku masih terbuka di atas meja

dan ada ayat rahasia:

Miskin mungkin bencana,

tapi kaya juga cuma karunia.

Aku pulang ke dalam engkau,

ke rumah singgah yang terlindung

di antara dua kubah

di mana ia datang berkerudungkan bulan,

merapikan tubuh yang berantakan

dan berkata: Supaya tidurmu makin sederhana.

Demikian, puisi  Joko Pinurbo. Semoga menjadi inspirasi bagi anak muda untuk tetap mencintai bahasa dan sastra Indonesia.Selamat membaca

Tulisan Terkait: