22 Puisi Wiji Thukul Yang Wajib Anak Muda Baca

Sastra344 Dilihat

Mudabicara.com_ Puisi wiji thukul adalah perlawan, kiranya kata perlawan begitu melekat pada sosok sastrawan dan penyair yang hilang di telan Orde Baru ini.

Bahkan pasca reformasi kata-kata Wiji Thukul mengema menjadi slogan-slogan perjuangan dan perlawan aktivis lintas sektor. Salah satu kalimat yang fenomenal adalah Hanya satu kata lawan!. 

Meskipun kata-kata Wiji Thukul lebih terkenal dari tokoh pencetusnya namun sahabat mudabicara perlu mengetahui kerja-kerja peradaban Wiji Thukul beranak pinak hingga sekarang.

Baca Juga : Mengenang Puisi Nonton Harga Karya Wiji Thukul

Dari berbagai karya yang lahir mudabicara merekomendasi 22 Puisi Wiji Thukul yang wajib anak muda baca. Selangkapnya sebagaimana berikut:

22 Puisi Wiji Thukul Yang Wajib Anak Muda Baca

Puisi Wiji Thukul

Bedasarkan buku Aku Ingin Jadi Peluru yang terbit pada tahun 2000 dengan tebal 176 halaman, berikut 22 puisi Wiji Thukul pilihan mudabicara:

Bunga dan Tembok

Seumpama bunga

kami adalah bunga yang tak

kau kehendaki tumbuh

engkau lebih suka membangun

rumah dan merampas tanah

Seumpama bunga

kami adalah bunga yang tak

kaukehendaki adanya

engkau lebih suka membangun

jalan raya dan pagar besi

Seumpama bunga

kami adalah bunga yang

dirontokkan di bumi kami sendiri

jika kami bunga

engkau adalah tembok

tapi di tubuh tembok itu

telah kami sebar biji-biji

suatu saat kami akan tumbuh bersama

dengan keyakinan: engkau harus hancur!

di dalam keyakinan kami

di mana pun – tiran harus tumbang!

Solo, 87-88

Baca Juga : Mengenang Perlawanan Wiji Thukul Lewat “Puisi Untuk Adik”

Baju Loak Sobek Pundaknya

Siang tadi aku beli baju

harganya murah

harganya murah bojoku

di pedagang loak

di pedagang loak bojoku

pundaknya sedikit sobek

sedikit sobek bojoku

bisa dijahit tapi

nanti akan kubeli benang

akan kubeli jarum

untuk menjahit bajumu bojoku

untukmu bojoku

baju itu untukmu

tadi siang kucuci baju itu

kucuci bojoku

tapi aku bimbang

aku bimbang bojoku

kutitip ke kawan

atau kubawa sendiri

nanti kalau aku pulang

kalau aku pulang bojoku

karena sekarang aku buron

diburu penguasa

karena aku berorganisasi

karena aku berorganisasi bojoku

baju itu kulipat bojoku

di bawah bantal

tak ada setrika bojoku

tak ada setrika

agar tak lusuh

agar tak lusuh

karena baju ini untukmu bojoku

22 Januari 96

Baca Juga : 9 Puisi Karya Chairil Anwar Yang Wajib Anak Muda Baca

Peringatan

jika rakyat pergi

ketika penguasa pidato

kita harus hati-hati

barangkali mereka putus asa

kalau rakyat sembunyi

dan berbisik-bisik

ketika membicarakan masalahnya sendiri

penguasa harus waspada dan belajar mendengar

bila rakyat tidak berani mengeluh

itu artinya sudah gawat

dan bila omongan penguasa

tidak boleh dibantah

kebenaran pasti terancam

apabila usul ditolak tanpa ditimbang

suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan

dituduh subversif dan mengganggu keamanan

maka hanya ada satu kata: lawan!

Solo, 1986

Aku Dilahirkan di Sebuah Pesta yang Tak Pernah Selesai

aku dilahirkan di sebuah pesta yang tak pernah selesai

selalu saja ada yang datang dan pergi hingga hari ini

ada bunga putih dan ungu dekat jendela di mana

mereka dapat

memandang dan merasakan kesedihan dan kebahagiaan

tak ada menjadi miliknya

ada potret penuh debu, potret mereka yang pernah hadir

dalam pesta itu entah sekarang di mana setelah mati

ada yang merindukan kubur bagi angannya sendiri

yang melukis waktu sebagai ular

ada yang ingin tidur sepanjang hari bangun ketika hari

penjemputan tiba agar tidak merasakan menit-menit

yang menekan dan berat

di sana ada meja penuh kue aneka warna, mereka

menawarkannya

padaku, kuterima kucicipi semua, enak!

itulah sebabnya aku selalu lapar

sebab aku hanya punya satu, kemungkinan!

Tuhanku aku terluka dalam keindahan-Mu.

Baca Juga : 13 Puisi Cinta W.S Rendra Yang Wajib Anak Muda Baca

Puisi Sikap

maumu mulutmu bicara terus

tapi tuli telingamu tak mau mendengar

maumu aku ini jadi pendengar terus

bisu

kamu memang punya tank

tapi salah besar kamu

kalau karena itu

aku lantas manut

andai benar

ada kehidupan lagi nanti

setelah kehidupan ini

maka aku kuceritakan kepada semua makhluk

bahwa sepanjang umurku dulu

telah kuletakkan rasa takut itu di tumitku

dan kuhabiskan hidupku

untuk menentangmu

hei penguasa zalim

24 januari 97

Gentong Kosong

parit susut

tanah kerontang

langit mengkilau perak

matahari menggosongkan pipi

gentong kosong

beras segelas cuma

masak apa kita hari ini

pakis-pakis hijau

bawang putih dan garam

kepadamu kami berterima kasih

atas jawabanmu

pada sang lapar hari ini

gentong kosong

airmu kering

ciduk jatuh bergelontang

minum apa hari ini

sungai-sungai pinggir hutan

yang menolong di panas terik

dan kalian pucuk-pucuk muda daun pohon karet

yang mendidih bersama ikan teri di panci

jadilah tenaga hidup kami hari ini

dengan iris-irisan ubi keladi

yang digoreng dengan minyak

persediaan terakhir kami

gentong kosong

botol kosong

marilah menyanyi

merayakan hidup ini

6 Januari 97

Dalam Kamar 6 x 7 Meter

mimpi-mimpi bagusku kubunuh dengan kenyataan

tinggal tubuh kurus kering dan cericit tikus

ketika kuterbaring tidur di tikar dan bantal

yang banyak bangsatnya

tak seluruh mimpi-mimpi itu sirna

tersisa juga yang sederhana:

alangkah bahagia aku andai sudah bisa beli

minyak tanah dan menyalakan lampu teplok

lalu membaca buku sampai malam larut dan menulis

alangkah bahagia aku andai sudah beli kompor

dan masak supermi ketika lapar

alangkah bahagia aku andai sudah bisa menggaji ibu

membeli baju baru bagi adik-adik ketika lebaran

rokok buat bapak dan lain-lain

lapar memang memalukan!

(tiba-tiba aku mendengar jutaan nyawa saudaraku yang

karena lapar menjadi copet, lonte dan gelandangan

tiba-tiba aku merasa lebih kaya tinimbang mereka

rumah punya, nyewa tak apa

makan bisa hutang kiri-kanan

minum tersedia air sumur umum).

justru hari inilah

ketika aku lapar sendiri dalam kamar 6 x 7 meter

di sini ini

aku bersyukur masih sempat nulis puisi

aku bersyukur masih sempat nulis puisi

Baca Juga : Pembagian Sastra lama Indonesia, Macam dan Jenisnya

Suti

Suti tidak pergi kerja

pucat ia duduk dekat ambennya

Suti di rumah saja

tidak ke pabrik tidak ke mana-mana

Suti tidak ke rumah sakit

batuknya memburu

dahaknya berdarah

tak ada biaya

Suti kusut-masai

di benaknya menggelegar suara mesin

kuyu matanya membayangkan

buruh-buruh yang berangkat pagi

pulang petang

hidup pas-pasan

gaji kurang

dicekik kebutuhan

Suti meraba wajahnya sendiri

tubuhnya makin susut saja

makin kurus menonjol tulang pipinya

loyo tenaganya

bertahun-tahun dihisap kerja

Suti batuk-batuk lagi

ia ingat kawannya

Sri yang mati

karena rusak paru-parunya

Suti meludah

dan lagi-lagi darah

Suti memejamkan mata

suara mesin kembali menggemuruh

bayangan kawannya bermunculan

Suti menggelengkan kepala

tahu mereka dibayar murah

Suti meludah

dan lagi-lagi darah

Suti merenungi resep dokter

tak ada uang

tak ada obat

solo, 27 februari 88

Nonton Harga

ayo

keluar kita keliling kota

tak perlu ongkos tak perlu biaya

masuk toko perbelanjaan tingkat lima

tak beli tak apa

lihat-lihat saja

kalau pengin durian

apel pisang rambutan atau anggur

ayo

kita bisa mencium baunya

mengumbar hidung cuma-cuma

tak perlu ongkos tak perlu biaya

di kota kita

buah macam apa

asal mana saja

ada

kalau pengin lihat orang cantik

di kota kita banyak gedung bioskop

kita bisa nonton posternya

atau ke diskotik

di depan pintu

kau boleh mengumbar telinga cuma-cuma

mendengarkan detak musik

denting botol

lengking dan tawa

bisa juga kaunikmati

aroma minyak wangi luar negeri

cuma-cuma

aromanya saja

ayo

kita keliling kota

hari ini ada peresmian hotel baru

berbintang lima

dibuka pejabat tinggi

dihadiri artis-artis ternama dari ibukota

lihat

mobil para tamu berderet-deret

satu kilometer panjangnya

kota kita memang makin megah dan kaya

tapi hari sudah malam

ayo kita pulang

ke rumah kontrakan

sebelum kehabisan kendaraan

ayo kita pulang

ke rumah kontrakan

tidur berderet-deret

seperti ikan tangkapan

siap dijual di pelelangan

besok pagi

kita ke pabrik

kembali kerja

sarapan nasi bungkus

ngutang

seperti biasa

18 Nopember 96

Baca Juga : Mengenal Chairil Anwar, Sastrawan Besar Indonesia

Catatan

gerimis menderas tengah malam ini

dingin dari telapak kaki hingga ke sendi-sendi

dalam sunyi hati menggigit lagi

ingat

saat pergi

dan pipi kiri kananmu

kucium

tak sempat mencium anak-anak

khawatir

membangunkan tidurnya (terlalu nyenyak)

bertanya apa mereka saat terjaga

aku tak ada (seminggu sesudah itu

sebulan sesudah itu

dan ternyata lebih panjang dari yang kalian harapkan!)

dada mengepal perasaan

waktu itu

cuma terbisik beberapa patah kata

di depan pintu

kaulepas aku

meski matamu tak terima

karena waktu sempit

aku harus gesit

genap ½ tahun aku pergi

aku masih bisa merasakan

bergegasnya pukulan jantung

dan langkahku

karena penguasa fasis

yang gelap mata

aku pasti pulang

mungkin tengah malam dini

mungkin subuh hari

pasti

dan mungkin

tapi jangan

kau tunggu

aku pasti pulang dan pasti pergi lagi

karena hak

telah dikoyak-koyak

tidak di kampus

tidak di pabrik

tidak di pengadilan

bahkan rumah pun

mereka masuki

muka kita sudah diinjak!

kalau kelak anak-anak bertanya mengapa

dan aku jarang pulang

katakan

ayahmu tak ingin jadi pahlawan

tapi dipaksa menjadi penjahat

oleh penguasa

yang sewenang-wenang

kalau mereka bertanya

“apa yang dicari?”

jawab dan katakan

dia pergi untuk merampok

haknya

yang dirampas dan dicuri

15 januari 97

Tujuan Kita Satu Ibu

kutundukkan kepalaku

bersama rakyatmu yang berkabung

bagimu yang bertahan di hutan

dan terbunuh di gunung

di timur sana

di hati rakyatmu

tersebut namamu selalu

di hatiku

aku penyair mendirikan tugu

meneruskan pekik salammu

a luta continua

kutundukkan kepalaku

kepadamu kawan yang dijebloskan

ke penjara negara

hormatku untuk kalian

sangat dalam

karena kalian lolos dan lulus ujian

ujian pertama yang mengguncang

kutundukkan kepalaku

kepadamu ibu-ibu

hukum yang bisu

telah merampas hak anakmu

tapi bukan cuma anakmu ibu

yang diburu dianiaya difitnah

dan diadili di pengadilan yang tidak adil ini

karena itu aku pun anakmu

karena aku ditindas

sama seperti anakmu

kita tidak sendirian

kita satu jalan

tujuan kita satu ibu: pembebasan!

kutundukkan kepalaku

kepada semua kalian para korban

sebab hanya kepadamu kepalaku tunduk

kepada penindas

tak pernah aku membungkuk

aku selalu tegak

4 juli 1997

Aku Masih Utuh dan Kata-kata Belum Binasa

aku bukan artis pembuat berita

tapi aku memang selalu kabar buruk buat

penguasa

puisiku bukan puisi

tapi kata-kata gelap

yang berkeringat dan berdesakan

mencari jalan

ia tak mati-mati

meski bola mataku diganti

ia tak mati-mati

meski bercerai dengan rumah

ditusuk-tusuk sepi

ia tak mati-mati

telah kubayar yang dia minta

umur-tenaga-luka

kata-kata itu selalu menagih

padaku ia selalu berkata

kau masih hidup

aku memang masih utuh

dan kata-kata belum binasa

18 juni 97

Beberapa pilihan puisi Wiji Thukul dalam Lingkungan Kita Si Mulut Besar

Baca Juga : Mengenal Sosok Ismail Marzuki dan Karyanya

Kuburan Purwoloyo

di sini terbaring

mbok Cip

yang mati di rumah

karena ke rumah sakit

tak ada biaya

di sini terbaring

pak Pin

yang mati terkejut

karena rumahnya tergusur

di tanah ini

terkubur orang-orang yang

sepanjang hidupnya memburuh

terhisap dan menanggung hutang

di sini

gali-gali

tukang becak

orang-orang kampung

yang berjasa dalam setiap Pemilu

terbaring

dan keadilan masih saja hanya janji

di sini

kubaca kembali

: sejarah kita belum berubah!

jagalan, kalangan

solo, 25 oktober 88

Tong Potong Roti*

tong potong roti

roti campur mentega

belanda sudah pergi

kini datang gantinya

tong potong roti

roti campur mentega

belanda sudah pergi

bagi-bagi tanahnya

tong potong roti

roti campur mentega

belanda sudah pergi

siapa beli gunungnya

tong potong roti

roti campur mentega

belanda sudah pergi

kini indonesia

tong potong roti

roti campur mentega

belanda sudah pergi

kini siapa yang punya

solo, kalangan, april 89

* diilhami sebuah tembang rakyat dari Madura

 

Apa yang Berharga dari Puisiku

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau adikku tak berangkat sekolah

karena belum membayar SPP

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau becak bapakku tiba-tiba rusak

Jika nasi harus dibeli dengan uang

Jika kami harus makan

Dan jika yang dimakan tidak ada?

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau bapak bertengkar dengan ibu

Ibu menyalahkan bapak

Padahal becak-becak terdesak oleh bis kota

Kalau bis kota lebih murah siapa yang salah?

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau ibu dijiret utang?

Kalau tetangga dijiret utang?

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau kami terdesak mendirikan rumah

Di tanah-tanah pinggir selokan

Sementara harga tanah semakin mahal

Kami tak mampu membeli

Salah siapa kalau kami tak mampu beli tanah?

Apa yang berharga dari puisiku

Kalau orang sakit mati di rumah

Karena rumah sakit yang mahal?

Apa yang berharga dari puisiku

Yang kutulis makan waktu berbulan-bulan

Apa yang bisa kuberikan dalam kemiskinan

Yang menjiret kami?

Apa yang telah kuberikan

Kalau penonton baca puisi memberi keplokan

Apa yang telah kuberikan

Apa yang telah kuberikan?

Semarang, 6 maret 86

Catatan Hari Ini

aku nganggur lagi

semalam ibu tidur di kursi

jam dua lebih aku menulis puisi

aku duduk menghadap meja

ibu kelap-kelip matanya ngitung utang

jam enam sore:

bapak pulang kerja

setelah makan sepiring

lalu mandi tanpa sabun

tadi siang ibu tanya padaku:

kapan ada uang?

jam setengah tujuh malam

aku berangkat latihan teater

apakah seni bisa memperbaiki hidup?

Solo, juni 86

Catatan Suram

kucing hitam jalan pelan

meloncat turun dari atap

tiga orang muncul dalam gelap

sembunyi menggenggam besi

kucing hitam jalan pelan-pelan

diikuti bayang-bayang

ketika sampai di mulut gang

tiga orang menggeram

melepaskan pukulan

bulan disaput awan meremang

saksikan perayaan kemiskinan

daging kucing pindah

ke perut orang!

Solo, 1987

Beberapa pilihan puisi Wiji Thukul dalam Darman dan Lain-lain

Baca Juga : 10 Manfaat Belajar Sastra Untuk Anak Muda

Darman

desa yang tandus ditinggalkannya

kota yang ganas mendupak nasibnya

tetapi dia lelaki perkasa

kota keras

hatinya pun karang

bergulat siang malam

Darman kini lelaki perkasa

masa remaja belum habis direguknya

Tukini setia terlanjur jadi bininya

kini Darman digantungi lima nyawa

Darman yang perkasa

kota yang culas tidak akan melampus hidupnya

tetapi kepada tangis anak-anaknya

tidak bisa menulikan telinga

lelaki, ya Darman kini adalah lelaki perkasa

ketika ia dijebloskan ke dalam penjara

Tukini setia menangisi keperkasaannya

ya merataplah Tukini

di dalam rumah yang belum lunas sewanya

di amben bambu wanita itu tersedu

sulungnya terbaring diserang kolera

Tukini yang hamil buncit perutnya

nyawa di kandungan anak kelima

 

Kota ini Milik Kalian

di belakang gedung-gedung tinggi

kalian boleh tinggal

kalian bebas tidur di mana-mana kapan saja

kalian bebas bangun sewaktu kalian mau

jika kedinginan karena gerimis atau hujan

kalian bisa mencari hangat

di sana ada restoran

kalian bisa tidur dekat kompor penggorengan

bakmi ayam dan babi denting garpu dan sepatu mengkilat

di samping sedan-sedan dan mobil-mobil bikinan asli jepang

kalian bisa mandi kapan saja

sungai itu milik kalian

kalian bisa cuci badan dengan limbah-limbah industri

apa belum cukup terang benderang itu lampu merkuri taman

apa belum cukup nyaman tidur di bawah langit kawan

kota ini milik kalian

kecuali gedung-gedung tembok pagar besi itu jangan!

Beberapa pilihan puisi Wiji Thukul dalam Puisi Pelo

 

Sajak Tiga Bait

kepada: kun

yang gelisah mengajakku pulang

aku tahu aku tak sendirian

sesenyap apa di mana pun

ada yang mengajak berhenti ketika lari

ada yang mengajak bicara ketika diam

ada yang mengajak terbahak ketika bungkam

ada yang mengajak jaga ketika tidur

aku tak tahu siapa namamu

yang mengajakku pulang

dengan suara rindu bapa pada anaknya

yang membuatku tersedu

di tengah jalan yang panjang dan remang

Baca Juga : Apa Saja Istilah Dalam Karya Sastra, Ini Jawabanya?

Tentang Sebuah Gerakan

tadinya aku pengin bilang

aku butuh rumah

tapi lantas kuganti

dengan kalimat:

setiap orang butuh tanah

ingat: setiap orang!

aku berpikir tentang

sebuah gerakan

tapi mana mungkin

aku nuntut sendirian?

aku bukan orang suci

yang bisa hidup dari sekepal nasi

dan air sekendi

aku butuh celana dan baju

untuk menutup kemaluanku

aku berpikir tentang gerakan

tapi mana mungkin

kalau diam?

1989

Otobiografi

tak pernah selesai pertarungan menjadi manusia

tak pernah terurai pertarungan menjadi rahasia

adalah buku lapar arti

tipis segara habis diburu kubur-kubur waktu

hari-hari pun sajak menagih kata

kata-kata pun ketagihan jiwa

dalam sebuah buku lembar-lembar berguguran

tak seperti bunga tetap kita sirami di taman-Mu ini

 

Tulisan Terkait: