Mengenang Puisi Nonton Harga Karya Wiji Thukul

Sastra608 Dilihat

Mudabicara.com_ Puisi Nonton Harga merupakan salah satu karya seorang sastrawan sekaligus aktivis Wiji Thukul. Sastrawan yang besar di kota Solo ini lahir di tengah keluarga kurang mampu dan serba kekurangan.

Latar belakang kehidupan serta pendakian kehidupan yang keras itulah yang mengakibatkan karya puisinya begitu dekat bahkan melekat pada sendi-sendi realitas kehidupan.

Misalnya beberapa karya yang terus menjadi slogan aktivis hingga kini berjudul Peringatan, yang mengandung sajak apabila usul ditolak tanpa ditimbang, suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan, dituduh subversif dan mengganggu keamanan, maka hanya ada satu kata: lawan!

Baca Juga : Mengilhami Puisi Peringatan Wiji Thukul

Nah! kali ini mudabicara ingin mengulas puisi Wiji Thukul lainnya berjudul Nonton Harga. Sebuah puisi yang mengambarkan ketimpangan sosial antara yang miskin dan kaya, berikut puisinya.

Puisi Nonton Harga Wiji Thukul

Puisi Nonton Harga
Source ; Twiter.com

Puisi “Nonton Harga”

ayo

keluar kita keliling kota

tak perlu ongkos tak perlu biaya

masuk toko perbelanjaan tingkat lima

tak beli tak apa

lihat-lihat saja

kalau pengin durian

apel pisang rambutan atau anggur

ayo

kita bisa mencium baunya

mengumbar hidung cuma-cuma

tak perlu ongkos tak perlu biaya

di kota kita

buah macam apa

asal mana saja

ada

kalau pengin lihat orang cantik

di kota kita banyak gedung bioskop

kita bisa nonton posternya

atau ke diskotik

di depan pintu

kau boleh mengumbar telinga cuma-cuma

mendengarkan detak musik

denting botol

lengking dan tawa

bisa juga kaunikmati

aroma minyak wangi luar negeri

cuma-cuma

aromanya saja

ayo

kita keliling kota

hari ini ada peresmian hotel baru

berbintang lima

dibuka pejabat tinggi

dihadiri artis-artis ternama dari ibukota

lihat

mobil para tamu berderet-deret

satu kilometer panjangnya

kota kita memang makin megah dan kaya

tapi hari sudah malam

ayo kita pulang

ke rumah kontrakan

sebelum kehabisan kendaraan

ayo kita pulang

ke rumah kontrakan

tidur berderet-deret

seperti ikan tangkapan

siap dijual di pelelangan

besok pagi

kita ke pabrik

kembali kerja

sarapan nasi bungkus

ngutang

seperti biasa

Sebagai seorang sastrawan pemilihan diksi kata Wiji Thukul begitu sederhana namun maknanya begitu terasa pada pembaca. Hal tersebut disebabkan karena Wiji Thukul seoalh ingin bercerita apa adanya tanpa mengada-ada.

Baca Juga : Mengenang Perlawanan Wiji Thukul Lewat “Puisi Untuk Adik”

Kejujuran dan ketulusan dalam puisinya mampu menumbuhkan rasa empati dan simpati para pembaca kepada realitas sosial disekitarnya. Misalnya pada puisi Nonton Harga berikut

ayo

keluar kita keliling kota

tak perlu ongkos tak perlu biaya

masuk toko perbelanjaan tingkat lima

tak beli tak apa

lihat-lihat saja

kalau pengin durian

apel pisang rambutan atau anggur

ayo

kita bisa mencium baunya

mengumbar hidung cuma-cuma

tak perlu ongkos tak perlu biaya

di kota kita

buah macam apa

asal mana saja

ada

 

Sastrawan yang terkenal dengan Pelo (cedal) begitu mahir memainkan kata-kata, puisi Nonton Harga seolah wadah bercerita sekaligus kritik sosial untuk para penguasa.

Tak beruntungnya, sastrawan yang bertalenta ini muncul di tengah rezim anti pati terhadap kritik, walaupun dalam bentuk karya sastra. Rezim Orde Baru yang otoriter tidak memberi ruang sedikit pun dan bagi siapa pun menganggu status quo kekuasaannya.

Melalui kemahirannya berpuisi Wiji Thukul mulai pindah dari pangung ke pangung hingga dari kota satu ke kota lainnya membacakan puisi-puisi karyanya.

Baca Juga : 9 Puisi Karya Chairil Anwar Yang Wajib Anak Muda Baca

Aktivitas keseniannya terasah mahir setelah bergabung ke berbagai sanggar dan kelompok teater di Jawa Tengah bahkan sampai Ibu Kota Jakarta.

Apabila melihat latar belakangnya yang keras maka tidak heran seorang Wiji Thukul dengan perawakan kecil dengan suara pelo ini memiliki kepedulian sosial yang tinggi.

ayo kita pulang

ke rumah kontrakan

tidur berderet-deret

seperti ikan tangkapan

siap dijual di pelelangan

besok pagi

kita ke pabrik

kembali kerja

sarapan nasi bungkus

ngutang

seperti biasa

Pada zaman itu, tak ada pilihan lain bagi buruh kecuali mengikuti aturan main para pengusaha dan penguasa yang terus mengekplotasi para pekerja.

Realitas hidup buruh penuh perjuangan dan sering tercekik kemiskinan begitupun hutang membuat Wiji Thukul betul-betul berjuang hidup.

Transisi berkesenian sampai pada aktivisme berawal sejak Wiji Thukul memprotes pencemaran lingkungan pabrik tekstil di Jagalan-Purungsawit.

Proses-proses yang dijalani inilah yang membuat Wiji Thukul masuk pada jaringan aktivis yang menentang keras rezim Soeharto.

Baca Juga : 13 Puisi Cinta W.S Rendra Yang Wajib Anak Muda Baca

Dan sejarah akhirnya mencatat Wiji Thukul lah menjadi salah satu anak bangsa yang di telan kekuasaan Rezim Soeharto dan hilang rimba kabarnya hingga kini.

Sebagai seorang sastrawan Wiji Thukul mendapat berbagai penghargaan salah satunya Wertheim Encourage Award bersama dengan W.S Rendra.

Puisi Nonton Harga menjadi salah satu warisan terbesar dan terus akan menjadi peluru seperti buku antalogi puisinya Aku Ingin Jadi Peluru.

Tulisan Terkait: