Mudabicara.com_ Puisi Peringatan adalah puisi karya seorang sastrawan sekaligus aktivis buruh yakni Wiji Thukul. Orde Baru menjadi saksi bisu hilangnya seorang aktivis kelahiran Solo ini.

Melalui kesenian Ia menyuarakan kegelisahan serta ketidakadilan di bawah rezim jenderal yang terkenal dengan Bapak Pembangunan Nasional. Sanggar Teater Jagat merupakan awal mula aktualisasinya dalam berkesenian.

BACA JUGA : MENGILHAMI SAJAK “DOA KORUPTOR YANG BAIK DAN BENAR” AGUS NOOR

Selain aktif berteater Wiji Thukul juga aktif menulis puisi. Alasannya menulis puisi sangat sederhana seperti disampaikannya pada sebuah lokakarya. Ia berkata dalam bahasa Jawa “Wong Mlarat mung duwe paitan cangkem, piye kowe nyuworo” ( Orang miskin hanya punya modal mulut, bagaimana kalian bersuara).

Salah satu puisi Wiji Thukul yang terkenal yakni berjudul Peringatan. 

Peringatan

jika rakyat pergi
ketika penguasa pidato
kita harus hati-hati
barangkali mereka putus asa
kalau rakyat sembunyi
dan berbisik-bisik
ketika membicarakan masalahnya sendiri
penguasa harus waspada dan belajar mendengar
bila rakyat tidak berani mengeluh
itu artinya sudah gawat
dan bila omongan penguasa
tidak boleh dibantah
kebenaran pasti terancam
apabila usul ditolak tanpa ditimbang
suara dibungkam kritik dilarang tanpa alasan
dituduh subversif dan mengganggu keamanan
maka hanya ada satu kata: lawan!

Solo, 1986

Wiji Thukul melihat sastra dan seni adalah alat yang pas untuk menyampaikan kritik sosial. Pemilihan diksi kata dalam puisi Wiji Thukul mudah dan lugas. Baginya kesewenang-wenangan serta tardisi bungkam orde baru dapat dilawan melalui kesenian. Seperti cukplikan kata yang terkenal dalam puisinya berikut:

maka hanya ada satu kata: lawan!

Ketenaran Wiji Thukul berawal dari Sanggar Suka Banjir yang terus melakukan jejaring bersama rakyat. Ia membawa kesenian terjun kedalam retorika kritik guna membangun kesadaran sosial rakyat kecil. Perlawanan demi perlawanan ia lalui baik di lapangan, jalanan, hingga pangung hiburan.

Hingga akhirnya pada bulan Maret 1998 adalah hari terakhir Ia berkabar. Jalan pemuda Jakarta menjadi saksi kerberadaannya untuk terakhir kali, setelah itu tak ada kabar lagi tentangnya.

Sang jendral yang murah senyum itu akhirnya menyerah namun para aktivis yang hilang tak pernah muncul lagi kepermukaan. Mirisnya, hingga kini pun negara tidak pernah berani bertanggung jawab dan memberi penjelasan kabar tentang Wiji Thukul berada. Aktivis pembela rakyat itu tetap menjadi misteri dan pengingat akan penegakan Hak Asasi Manusia yang menjadi janji belaka.

BACA JUGA : MENGILHAMI PUISI DERAI-DERAI CEMARA CHAIRIL ANWAR 

Wiji Thukul hilang namun perlawanannya tumbuh dan berlipat ganda. Puisi-puisinya terangkum dalam buku berjudul “Aku Ingin Jadi Peluru”.