Mudabicara.com_ Mengilhami puisi Derai-Derai Cemara Chairil Anwar. Siapa yang tidak kenal Chairil Anwar, sosok paling fenomenal sepanjang masa dalam khazanah sejarah sastra Indonesia.

Chairil Anwar adalah induk perpuisian Indonesia, salah satu penyair terkenal angkatan 45. Sosok pemuda yang energik menyampaikan kritik sosial melalui medium sastra khususnya puisi.

BACA JUGA : MENGILHAMI PUISI MUSEUM PERJUANGAN KUNTOWIJOYO

Saat bahasa Indonesia masih seumur jagung, Chairil Anwar sudah mampu mengunakan diksi kata yang jauh melampui zamanya.

Salah satu puisi Chairil Anwar yang perlu kawan muda baca salah satunya adalah puisi berjudul Derai-Derai Cemara. Berikut puisinya :

DERAI DERAI CEMARA

Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Aku sekarang orangnya bisa tahan
sudah berapa waktu bukan kanak lagi
tapi dulu memang ada suatu bahan
yang bukan dasar perhitungan kini

Hidup hanya menunda kekalahan
tambah terasing dari cinta sekolah rendah
dan tahu, ada yang tetap tidak terucapkan
sebelum pada akhirnya kita menyerah

Chairil Anwar, 1949

Pada tahun 40-an Chairil Anwar sudah sangat brilian dalam mengekplorasi bahasa Indonesia kedalam puisinya. Hal itu bisa kita lihat dari bait pertama puisinya

Cemara menderai sampai jauh
terasa hari akan jadi malam
ada beberapa dahan di tingkap merapuh
dipukul angin yang terpendam

Di zaman Indonesia baru merdeka, bahasa Indonesia mulai tumbuh, Chairil sudah gagah memakai bahasa Indonesia dengan menemukan kata Menderai. 

Cemara menderai sampai Jauh

Terasa hari akan jadi malam

Kemudian kita akan menemukan lagi kata Merapuh serta logika yang sangat tidak terbayangkan dan terasa hidup hingga kini yakni Dipukul angin yang terpendam.

Sajak puisi itu membuktikan bahwa penghayatan Chairil yang dalam terhadap situasi sosial. Diksi  kalimat dipukul angin yang terpendam. Hingga kini pun kita akan susah membayangkan bagaimana angin terpendam.

Dengan mengilhami puisi Derai-Derai Cemara saja kita akan merasa terkagum-kagum dengan Chairil Anwar. Tak Heran jika Chairil merupakan sosok yang luar biasa, abadi kehebatan serta kualitasnya dalam menulis puisi.

Puisi Chairil Anwar yang muncul tahun 40-an ini seakan-akan baru kemarin sore. Begitulah cara mengukur kualitas dan kehebatan sebuah karya. Meskipun ditulis  sudah lama namun masih terasa ditulis kemarin.

Kuatnya penghayatan dalam merefleksikan hidup membuat kata-kata dalam puisinya tetap kontekstual. Jika dibandingkan dengan karya para penyair muktahir hari ini seolah masih saja karya Chairillah yang dalam maknanya.

BACA JUGA : RESENSI BUKU LOGIKA KARYA DRS MUNDIRI

Sayangnya Sang Maestro Pergi di usia yang sangat muda yakni 26 tahun namun karyanya abadi sepanjang masa.