Mudabicara.com_Pak Menteri Muhadjir Effendy kelihatannya tidak pernah muda sampai-sampai urusan percintaan dijadikan komoditas indikator penyebab kemiskinan. Atau jangan-jangan pak Muhadjir sedang lupa ingatan bahwa cinta tidak mengenal klasifikasi sosial tentang kaya dan miskin. Atau jangan-jangan Pak Muhadjir tidak pernah jatuh cinta pun tidak pernah miskin sehingga tidak punya bayangan tentang bagaimana orang jatuh cinta dan bagaimana menjadi orang miskin. Ya wajar.

Maka kami keluarga miskin ingin mengirim surat cinta kepada Bapak Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan, Muhadjir Effendy. Di situasi sulit seperti ini pak Muhadjir seharusnya pemerintah memberikan kebijakan yang solutif agar ekonomi rakyat cepat pulih. Meskipun kemiskinan adalah masalah klasik dan momok bagi negara berkembang seperti negara Indonesia.

Coba kita lihat pak Muhadjir, dalam Indeks Kedalaman Kemiskinan pada Maret 2020 negara Indonesia mengalami kenaikan sebesar 1,61, yang sebelumnya September 2019 cuma sebesar 1,50. Demikian juga dengan Indeks Keparahan Kemiskinan, pada periode yang sama mengalami peningkatan dari 0,36 menjadi 0,38. Semua itu tak lepas dari imbas pandemi bukan masalah pernikahan keluarga miskin seperti kata bapak.

Memang teorinya keren. Kita sebagai keluarga miskin belajar banyak dari pak Muhadjir soal mengurus kemiskinan. Kita keluarga miskin jangan menikah dengan keluarga orang miskin juga. Sama saja membebani negara. Tapi ngomong-ngomong kemiskinan pak Muhadjir. Orang Indonesia ini termasuk orang yang etos kerjanya sangat tinggi. Coba sesekali bapak main ke Desa melihat para petani. Mereka bekerja mulai dari matahari belum terbit sampai matahari terbenam. Tapi lagi-lagi kenapa kemiskinan masih mereka alami?. Coba bapak renungkan, semestinya orang yang bekerja dengan giat akan menjadi kaya. Kenapa di Indonesia tidak?

Kalau pun boleh saran pak muhadjir. Indikator penyebab kemiskinan itu bukan pernikahan antar kaum miskin apalagi etos kerja tapi semua ini hanya masalah akses. Masyarakat sudah terbukti giat bekerja kok pak, meskipun bukan untuk menyejahterakan hidup namun bertahan hidup. Jadi selama akses yang dimiliki orang miskin dan orang kaya berbeda, maka akan semakin banyak orang miskin tambahan ke depannya. Sebab, anak dari keluarga miskin akan sulit keluar dari lingkaran kemiskinan.

Entah apa yang ada difikiran pak Muhadjir saat mengucapkan pernyataan pernikahan antar keluarga miskin akan melahirkan keluarga miskin baru waktu itu. Bukankah seharusnya sebagai Menteri pak Muhadjir mengevaluasi serta intropeksi kenapa kemiskinan masih menjadi masalah rakyat. Apa yang salah dari pemerintah, bukan malah menyalahkan keluarga miskin. Sudah miskin disalahkan lagi diatas kemiskinannya.

Baca Juga : Ekonom Bhima Yudhistira, Dua Hal Ini yang Harus Dilakukan Anak Muda Jika ingin Kembangkan Bisnis Ditengah Pandemi

Bagaimana faktanya bukankah selama ini pemerintah memberikan akses yang sama kepada orang kaya dan orang miskin.  Seharusnya orang miskin diberikan akses lebih besar agar orang miskin mampu setara. Katakanlah pemerintah memberikan fasilitas pendidikan yang memadai, diberi modal usaha, dan mengefektifkan penyaluran bantuan sosial. Mungkin itu jalan keluar bagi orang miskin pergi dari lingkaranya.

Kesempatan yang dimiliki oleh keluarga miskin pun tak sama dengan keluarga kelas menengah ke atas. Jadi, seakan-akan mustahil bagi keluarga miskin membuat anaknya keluar dari garis kemiskinan. Setidaknya kemiskinan ini terjadi bukan karena pernikahan tapi kemiskinan ini terjadi karena ketimpangan akses dan kesempatan pak Muhadjir.

Ya kami istilahkan inilah kemiskinan struktural pak.  Pola yang akan terus menerus turun temurun jika pemerintah abai. kemiskinan muncul karena ketidakmampuan sistem dan struktur sosial dalam menyediakan kesempatan yang memungkinkan orang miskin dapat bekerja, sama seperti orang kaya. Jangan sampai kemiskinan struktural karena pemerintah malah rakyat yang disalah-salahkan. Kami keluraga miskin sudah giat bekerja, berusaha, pun bedoa.

 

Selama struktur tidak berpihak kepada keluarga miskin secara proporsional dan memberi dukungan fasilitas yang berbeda maka mobilitas keluarga miskin akan terus stagnan. Jadi pak Muhadjir jangan sesekali mencampuri urusan percintaan. Biarkan kami menikmati pernikahan tanpa campur tangan negara. Kami keluarga miskin akan tetap berusaha untuk keluar dari zona kemiskinan kok pak.

Seharusnya pak Muhadjir sebagai orang pemerintahan intropeksi terhadap kebijakan-kebijakan yang dikeluarkan untuk orang miskin, Membisikan kepada Presiden agar kami diberi kesempatan dan akses yang sama. Semua ini kuncinya di pemerintah jadi jangan ikut campur masalah pernikahan kami pak.

Semoga pak Muhadjir membaca surat cinta dari kami keluarga miskin yang ingin menjaga cinta sebagai landasan perubahan. Sehat terus ya pak Muhadjir. Jangan lupa jatuh cinta.