Mudabicara.com_Pemuda atau lebih akrab disebut generasi milenial seharusnya lebih banyak berkarya di bidang bisnis atau menjadi entrepreneur di tengah pandemi Covid-19 dan pasca pandemi Covid-19. Khususnya bagi Pemuda yang berada di luar lingkaran kekuasaan yang lebih bebas merdeka.

Hal tersebut dikatakan Pengamat Ekonomi Indef, Bhima Yudhistira saat diskusi webinar “Pemuda Berkarya: Membangun Kreatifitas Pemuda Upaya Meningkatkan Ekonomi Nasional di Era New Normal” yang diselenggarakan oleh Mudabicara.com, Waloindi Pratama Sejahtera dan Kemenpora RI, Senin, 3 Agustus 2020. Dalam diskusi ini, juga hadir sebagai narasumber adalah Dosen Fisip UI Dr. Ricardi S Adnan, M.Si, dan Prof. Faisal Abdullah, S.H., M.Si.DFM sebagai keynote speaker.

“Di luar pemerintahan itu karena Bebas Merdeka dan dia bisa melihat banyak sekali peluang,” jelas Bhima.

Bisa Membaca Peluang

Menurut Bhima, pertama pemuda harus menjadikan pandemi ini sebagai peluang untuk berkarya dan lebih kreatif dalam berbisnis. Misalnya, bisa membaca apa yang dibutuhkan oleh masyarakat saat mereka bosan berada di rumah karena PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar). Bhima mencontohkan, misalnya ada seorang pemuda yang kebanjiran pesanan tanaman hias dalam rumah, dan harganya sangat tinggi bisa mencapai hampir puluhan juta satu tanaman hias.

“Ketika terjadi bahwa orang di rumah saja, maka ketika bosan mereka akan mencari di dalam rumahnya, di dalam rumahnya yang kurang sentuhan alam dan segala macam akhirnya munculah bisnis yang namanya bisnis home decor atau dekorasi rumah,” ujarnya.

Riset Yang Kuat

Kedua, lanjut Bhima saat berbisnis di era Covid-19 atau Pasca Covid-19 harus dengan data dan riset yang kuat terkait kebutuhan masyarakat. Misalnya, apa yang dibutuhkan dalam jangka waktu tiga hingga empat bulan kedepan. Sebab, apabila hanya sekedar mengikuti tren bisnis yang terjadi saat ini, maka sudah ketinggalan kereta.

Baca Juga : https://mudabicara.com/pemuda-desa-merawat-nasionalisme-di-tengah-pandemi/ 

“Bagamana teman-teman bisa menggunakan data untuk tren bisnis kedepanya. Jadi kalau teman-teman mau masuk sekarang, teman-teman sudah terlambat,” jelasnya.

“Jadi saran saya bagaimana teman-teman membaca yang tidak bisa dibaca oleh pengamat sekalipun,” sambungnya.

Salah satu contohnya adalah yang dilakukan anak muda di salah satu Kabupaten di Jawa Timur yang mengembangkan bisnis pariwisata. Bisnis pariwisata di tengah pandemi tentunya akan membawa resiko kerugian yang besar, tetapi pemuda itu berani membuka bisnis pariwisata dengan data dan riset yang kuat yang belum dilakukan bahkan dibaca oleh orang lain sebelumnya.

“Waktu itu saya beradu argumen dengan dia. Saya bilang ‘bisnis apa nih, masalahnya pariwisata itu mati’ saya bilang ‘saya masih beranggapan bahwa pariwisata itu sudah mati’. Kemudian dia bilang ‘pariwisata enggak mati tapi orang itu berjalan-jalan bukan dari Jakarta ke Bali. Bukan dari Jogja sampai ke Labuan Bajo atau ke Nusa Tenggara Barat. Tapi yang terjadi adalah orang itu berpariwisata enggak jauh-jauh dari rumah karena masih khawatir dengan pandemi,” ujar Bhima menirukan anak muda yang mengembangkan bisnis pariwisata ditengah pandemi tersebut.

Selain itu, kata Bhima, ada juga anak muda yang memiliki toko sepeda yang kebanjiran pesanan hingga di teror oleh pembeli karena tidak sabar menunggu. Hal itu terjadi sebelum viralnya para artis yang mengendari sepeda brompton.

“Dia sudah lebih dulu melakukan pengadaan sepeda di Kabupaten kecil yang ada di Jawa Timur Sekali lagi bukan anak gaul Jakarta ini bukan anak gaul Bandung tapi ini di satu kota yang kecil Jawa Timur,” kata Bhima.

“Jadi yang ingin saya katakan hari ini terkait dengan tren bisnis anak muda tadi yang di luar pemerintahan bisa jadi itu adalah bisnis yang sudah out of date. Jadi tugas teman-teman dan tugas kita semua adalah membaca kira-kira perubahan perilaku konsumen, perubahan trend bisnis ke depan ini apa” katanya.

Ia menuturkan, jika ingin mengembangkan bisnis makanan, maka harus riset terlebih dahulu tren makanan dan minuman seperti apa yang ingin dikembangkan dan yang terus dibutuhkan oleh masyarakat kedepanya. Akan tetapi harus juga dengan marketing yang kreatif.

“Oke ada kebutuhan di situ tapi bisa enggak kita lebih spesifik  menangkap kira-kira orang ini larinya ke mana, apakah di tengah pandemi ini orang lari kepada makanan yang sehat, yang harganya lebih mahal harganya premium tapi makanan sehat yang dibungkus cerita yang bagus,”  ujarnya.

“Intinya, bagi pemuda yang ada di luar pemerintahan merupakan momentum untuk berkarya secara profesional dan cari peluang-peluang baru yang orang lain belum baca,” kata Bhima menambahkan.