Mudabicara.com_Kritik adalah proses analisis dan evaluasi terhadap sesuatu dengan tujuan untuk meningkatkan pemahaman, memperluas apresiasi, atau membantu memperbaiki pekerjaan. Kritik adalah intrumen penting sebagai tanda perhatian sekaligus evaluasi. Kritik yang disampaikan secara baik bisa menjadi bahan refleksi. Namun tidak semua orang,organisasi ataupun pemerintah dapat menerima kritikan.

Sebelum kita mengkritik mari kita lihat beberapa varian kritik. Pertama, Kritik untuk memperbaiki, dalam konteks ini kritik bukan disuarakan terbuka tapi dipertemukan dengan stakeholders yang tepat dan dalam momentum yang tepat pula. Kedua, Kritik untuk mengedukasi, dalam konteks ini kritik bukan untuk diterima stakeholders tapi untuk menunjukan dan menyadarkan ke banyak orang ada kesalahan yang perlu dilihat, dipahami, dibicarakan dan didorong untuk diperbaiki

Ketiga, Kritik untuk menjatuhkan legitimasi, dalam konteks ini untuk mengeleminir kuasa, mendorong perubahan radikal seringkali para kritikus tak punya arah kemana dan bagaimana mengelola otoritas yang ditumbangkan. Keempat, Kritik untuk “menantang atau challange”, kritik ini diarahkan untuk membuat dinamisasi, memecah kebekuan atau stagnasi dan kenyaman ke arah yang lebih baik. Biasa dilakukan secara reflektif ke dalam oleh pihak yang punya otoritas atau legitimasi untuk berefleksi. Terakhir Kritik untuk menggunjing, ini jebakan terparah. Niatnya seperti poin ke empat tapi minus otoritas serta seringkali tak direspon sehingga akhirnya menjadi gunjingan.

Baca Juga : https://mudabicara.com/surat-cinta-untuk-pak-muhadjir-effendy/

Dari beberapa varian kritik diatas tentu kita dapat memilih pijakan yang pas dan sesuai untuk kita gunakan. Varian kritik tersebut juga menentukan level kualitas dan efektifitas kritik sehingga sebelum mengkritik kita juga perlu melakukan penelitian terlebih dahulu. Maka tidak heran kritik juga bisa menjadi standarisasi kualitas intelektual seseorang ataupun organisasi. Semakin baik kritik maka semakin baik juga tingkat literasi wacana dan intelektualitasnya.

Seorang pemimpin brilian akan sangat terlatih dalam seni mengelola kritik. Di negara-negara demokratis atau bahkan di korporasi besar justru membangun skema untuk melakukan kritik. Misalnya kabinet bayangan yang dibiayai dengan anggaran negara secara proporsional dan dibentuk oleh partai atau koalisi partai opposisi. Output-nya biasanya proposal alternatif. Atau divisi evaluation research di korporasi yang justru dibiayai untuk memberikan kritik dan masukan pada seluruh lini bisnis dengan output inovasi.

Kritik yang kurang bermanfaat yakni yang kelima. Membuang energi negatif. Namun kritik yang kelima ini sulit terjadi dalam organisasi yang sehat. Dimana pemimpinnya berfikiran terbuka, transparan dan perilakunya dibentuk oleh proses bukan dengan omong kosong nilai-nilai jargonis. Ditambah tata kelola organisasi yang baik dan partisipasi yang juga dikelola dengan baik.

Maka jika pada akhirnya kritik kelima muncul meskipun evaluatif kita harus memilih mundur untuk menyegarkan kembali ingatan dan pengetahuan kita terhadap duduk permasalahan yang dihadapi. Tapi dalam konteks negara atau organisasi yang begitu kompleks. Biasanya kritik kelima lebih sering muncul karena keabsurdan informasi. Kurang literasi dan interaksi dan jadinya bukan jadi gunjingan tapi sekedar lelucon belaka. Dimana yang dikritik dan pengkritik memang tidak ada interaksi sama sekali dan tidak melahirkan beban apapun yang saling beririsan.

Didalam keadaan yang ruwet mari menjaga kewarasan dengan banyak membaca agar pisau analisis dalam menilai persoalan juga berkualitas dan masih dalam logika yang benar. Kritik adalah seni keindahan dalam berpendapat mari banyak membaca sedikit bicara untuk generasi muda yang mampu berkarya.