Mudabicara.com_Praktik jurnalisme data yang ditunjang dengan teknologi terkini dapat membuat penyajian data dalam rupa karya jurnalistik menjadi lebih mudah dipahami pembaca atau masyarakat pada umumnya. Tren jurnalisme era digital ini juga hadir di Indonesia penuh dengan tantangan.

Global Managing Editor, Operation, Thomson Reuters Reg Chua mengatakan, ada beberapa tantangan dalam penerapan jurnalisme data. Salah satunya adalah sulitnya untuk memperoleh data karena biaya untuk mendapatkannya sangat mahal.

Selain masalah biaya, kurangnya kemampuan kemampuan sumber daya manusia untuk mendapatkan, menyimpan dan menggunakan data.

“Jurnalisme data membutuhkan ketekunan dan keterampilan SDM. Tidak semua jurnalis memahami, dan sulit juga untuk bisa terampil di bidang ini. Belum lagi, minim kemauan investasi di jurnalisme data,” ujarnya dalam diskusi The Power of Data dari Katadata Indonesia, Kamis (24/9/2020).

Menurut Reg, yang paling utama dan mendasar dalam jurnalisme data adalah memastikan bahwa data yang disajikan kepada masyarakat sudah valid. Diakui memang bahwa bias data memang tidak bisa dihindari. Oleh karena itu, kemampuan seorang jurnaslis sangat diperlukan yakni untuk membedakan data yang diperoleh sudah valid atau tidak.

BACA JUGA: UNDANG-UNDANG DESA BAGI PETANI BERLAHAN SEMPIT 

Jurnalis perlu memiliki keterampilan sehingga mampu mengajukan pertanyaan yang bisa mengungkap data secara tepat.

“Jurnalis perlu mempertanyakan dasar dari data yang diperoleh. Jika tidak menanyakan pertanyaan tepat, maka tidak akan mendapatkan jawaban yang benar. Tanpa begitu, jurnalis akan menelan data secara mentah,” terang Reg.

Pada sisi lain, banjir informasi pada era digital, khususnya terkait penyebaran informasi melalui media sosial, membuat tugas jurnalisme data lebih berat. Institusi media yang menerapkan fungsi jurnalisme harus berhadapan dengan masyarakat yang tingkat literasi informasinya belum cukup baik sehingga rentan mengkonsumsi pemberitaan disinformasi.

Reg mengakui bahwa literasi informasi masyarakat merupakan salah satu poin penting yang perlu dicermati.

“Masalah literasi ini berlaku bagi semua pihak. Ada masalah lebih besar, yaitu ekosistem informasi yang mana tidak ada monopoli lagi oleh kantor berita, maka bagaimana kita bisa edukasi diri sendiri agar lebih terliterasi,” ujarnya.

BACA JUGA: INGAT! KAUM MUDA BIKIN INFEKSI CORONA MAKIN MENINGKAT