Mudabicara.com_ Ratusan peninggalan bersejarah dibawah penjagaan pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara hilang pada 26 januari 2021 lalu. Kepala UPTD Museum dan Taman Budaya Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Sulawesi Tenggara, Dody Syahrulsyah mengklaim kehilangan itu akibat aksi pencurian.

Dijelaskannya bahwa, barang-barang peninggalan bersejarah yang hilang di gudang Museum Sulawesi Tenggara itu berupa jenis logam bentuk kuningan seperti ceret, keris, samurai peninggalan jepang, gong kecil dari berbagai daerah di Sulawesi Tenggara dan baju adat, dengan nilai jual mencapai ratusan juta rupiah.

BACA JUGA : MANFAAT TANAMAN JAGUNG, BEGINI CARA MENGOLAHNYA

“Pelaku pencurian diperkirakan masuk melalui pintu samping belakang gedung koleksi yang tidak terpantau dengan CCTV,” ujarnya di Kendari, (27/01/2021)

Setelah kejadian itu, Dody Syahrulsayh mengatakan bahwa pihaknya telah melapor ke pihak kepolisian untuk segera dilakukan olah tempat kejadian perkara. Dari kejadian itu, lanjut Dody, Kadis Dikbud Sultra Asrun Lio, juga telah menyampaikan langsung kejadian itu ke Dirjen Kebudayaan Pusat di Jakarta.

Selanjutnya Dody mengimbau kepada seluruh masyarakat agar ketika melihat atau menemukan, bahkan ada yang ingin menjual barang tersebut agar segera melaporkan ke pihak museum ataupun petugas kepolisian.

“Hingga saat ini, pihak Museum dan Taman Budaya Sultra, belum mengetahui pasti jumlah keseluruhan koleksi benda-benda bersejarah yang hilang diambil maling, namun perkiraannya cukup banyak karena banyak benda-benda logam kecil yang bernilai sejarah masa lampau,” Katanya

Kelalaian Menjaga Sejarah

Setiap penerus generasi bangsa Indonesia dituntut bertanggung jawab untuk merawat dan menjaga peninggalan bersejarah disetiap wilayahnya masing-masing. Hal itu dikarenakan peninggalan sejarah mempunyai nilai yang sangat tinggi dan sangat bermanfaat bagi generasi bangsa Indonesia.

Diantara manfaatnya sebagaimana yang dikampanyekan pemerintah melalui Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI yaitu, benda peninggalan sejarah dapat menambah kekayaan dan khasanah budaya bangsa, sebagai bukti nyata peristiwa sejarah yang dapat diamati zaman sekarang, menambah pendapatan negara melalui kegiatan wisata, serta dapat mempertebal atau memperkokoh rasa persatuan bangsa.

Mengingat hal itu, hilangnya peninggalan bersejarah di gudang museum Sulawesi Tenggara merupakan kerugian besar bagi seluruh masyarakat Sulawesi Tenggara pada khususnya.

Perkumpulan Masyarakat dan pemuda adat Sulawesi Tenggara yang tergabung dalam Bawaa Pobende Sarano (Baderano) Tolaki menyayangkan hal tersebut bisa terjadi.

Hedianto Ismail, selaku Ponggawa BANDERANO TOLAKI menegaskan bahwa perbuatan jahat yang menyebabkan hilangnya benda peninggalan sejarah Sulawesi Tenggara itu merupakan perbuatan yang tak bisa ditolerir.

BACA JUGA : MEMBACA BUKU, JEMBATAN MENUJU KESUKSESAN 

“Hilangnya benda peninggalan leluhur merupakan hal yang tidak bisa ditolerir, untuk itu kami mengecam dan mengutuk keras oknum pelaku yang telah berani melakukan pencurian benda peninggalan leluhur tersebut,” Kata Hedianto  di Kendari, Kamis, (28/01/2021).

Pemerintah Provinsi Sulawesi Tenggara terkait peristiwa kehilangan itu dinilai lalai menjaga benda warisan para leluhur yang dititipkan di museum kebanggaan Sulawesi Tenggara.

Menurut Hedianto, Seharusnya pemerintah memastikan penjagaan keamanan maksimal pada museum Provinsi Sultra, sebagai bentuk tanggungjawab pelestarian budaya peninggalan leluhur.

“Kami sangat kecewa dan sayangkan atas tindakan pelaku dan kelalaian pemerintah khususnya yang bertanggungjawab keamanan pada museum Provinsi Sultra,” ujarnya

Dengan demikian, lanjut Hedianto pihaknya mendesak pihak penegak hukum dalam hal ini pihak Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara (Polda Sultra) untuk segera mengungkap aktor dibalik peristiwa kehilangan itu.

BACA JUGA : MENGENAL SOSOK ACEH TEUNGKU ISLMAIL YAKUB

“segera ungkap siapa dalang dibalik hilangnya benda peninggalan leluhur yang di titipkan di museum Provinsi Sulawesi Tenggara” Tegas Hedianto Ismail, Ponggawa BANDERANO Tolaki.