Mudabicara.com_Setiap tahun, pada Jumat terakhir Ramadan, sebuah seruan bergema dari jalan-jalan kota di Timur Tengah hingga lorong-lorong universitas di Barat. Seruan itu bukan sekadar slogan politik. Ia adalah teriakan sejarah yang menuntut dunia untuk tidak berpura-pura buta.
Hari itu dikenal sebagai International Quds Day.
Tahun ini, 13 Maret 2026, peringatan tersebut kembali digelar di berbagai negara sebagai simbol solidaritas terhadap rakyat Palestine dan pembelaan terhadap kota suci Jerusalem—kota yang oleh umat Islam disebut Al-Quds.
Namun bagi banyak aktivis di Timur Tengah, Hari Al-Quds bukan sekadar peringatan.
Ia adalah hari perlawanan terhadap tatanan dunia yang dianggap tidak adil.
Baca Juga: Sidang Tipikor Ungkap Kejanggalan Kredit Sritex: Notaris Sudah Ditunjuk Sebelum Persetujuan Komite
Palestina: Luka yang Tidak Pernah Diakui Dunia
Sejak berdirinya negara Israel pada 1948, rakyat Palestina hidup dalam bayang-bayang konflik yang seakan tidak pernah selesai. Generasi demi generasi lahir di tengah blokade, pengungsian, dan ketidakpastian politik.
Bagi banyak orang di kawasan itu, tragedi Palestina bukan sekadar konflik geopolitik.
Ia adalah simbol kolonialisme modern yang masih bertahan di abad ke-21.
Ironinya, dunia internasional sering kali berbicara tentang demokrasi, hak asasi manusia, dan kebebasan. Tetapi ketika isu Palestina muncul, nilai-nilai tersebut seakan berubah menjadi bahasa diplomasi yang penuh kehati-hatian.
Di sinilah kritik para aktivis menjadi tajam.
Mereka mengatakan:
“Keadilan global sering kali berhenti di perbatasan Palestina.”
Al-Quds: Kota yang Menjadi Simbol Perlawanan
Di jantung konflik itu berdiri Masjid Al-Aqsa, situs suci yang bagi umat Islam merupakan salah satu tempat paling sakral dalam sejarah agama.
Namun dalam narasi politik Timur Tengah, Al-Quds lebih dari sekadar kota suci.
Ia telah berubah menjadi simbol identitas dan perlawanan.
Setiap kali Hari Al-Quds diperingati, pesan yang ingin disampaikan para aktivis sederhana tetapi keras:
“Palestina bukan isu regional. Palestina adalah ujian moral dunia.”
Apakah dunia benar-benar percaya pada keadilan universal?
Ataukah prinsip itu hanya berlaku bagi negara yang memiliki kekuatan geopolitik?
Warisan Revolusi dan Seruan Kesadaran
Hari Al-Quds pertama kali dicanangkan oleh pemimpin revolusi Iran, Ruhollah Khomeini, setelah Iranian Revolution pada 1979. Ia menyerukan agar Jumat terakhir Ramadan dijadikan hari solidaritas global bagi Palestina.
Sejak saat itu, Hari Al-Quds berkembang menjadi fenomena politik internasional.
Di sebagian negara ia menjadi demonstrasi besar.
Di tempat lain ia menjadi diskusi akademik, khutbah masjid, dan kampanye media.
Tetapi satu hal tetap sama:
Al-Quds tidak pernah hilang dari ingatan kolektif umat.
Baca Juga: LBH Muhammadiyah Laporkan Dugaan Pembobolan 28 Bank Terkait Kasus Sritex
Ketika Jalanan Berbicara
Sejarah sering menunjukkan bahwa perubahan besar tidak selalu dimulai dari meja diplomasi.
Ia sering lahir dari jalanan, dari poster, dari suara rakyat yang menolak diam.
Hari Al-Quds adalah bagian dari tradisi itu.
Ia adalah pengingat bahwa dalam dunia yang didominasi kekuatan besar, selalu ada masyarakat yang bersedia berdiri dan berkata:
“Keadilan tidak boleh tunduk pada kekuasaan.”
Dan selama konflik Palestina masih berlangsung, selama Al-Quds masih menjadi perebutan sejarah dan identitas, seruan Hari Al-Quds kemungkinan besar akan terus bergema—bukan hanya sebagai ritual politik, tetapi sebagai protes moral terhadap ketidakadilan global.
Penulis: Riski Harahap



