Mudabicara.com_Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Cabang Aceh Timur terus memperkuat kualitas kader melalui penyelenggaraan Latihan Kader II (Intermediate Training) Tingkat Nasional yang berlangsung pada 23–30 Juli 2026 di Aula SKB Aceh Timur. Kegiatan ini diikuti oleh kader HMI dari berbagai cabang, seperti Medan, Bireuen, Lhokseumawe, serta Aceh Timur sebagai tuan rumah.
Salah satu sesi penting dalam rangkaian pelatihan tersebut menghadirkan Dr. Muhammad Dayyan, pakar ekonomi Islam, yang menyampaikan materi bertajuk “Telaah Kritis Ekonomi Islam di Indonesia Menyongsong Indonesia Emas 2045.”
Dalam paparannya, Dr. Dayyan menegaskan bahwa ekonomi Islam tidak dapat dipahami hanya sebatas larangan riba maupun mekanisme kontrak keuangan syariah. Menurutnya, ekonomi Islam merupakan sebuah sistem yang dibangun di atas nilai-nilai tauhid, khilafah, amanah, keadilan (‘adl), keseimbangan (mizan), kemaslahatan, kebebasan yang bertanggung jawab, serta berorientasi pada maqasid al-shari’ah.
Baca Juga: Kemenimipas Evaluasi Kinerja Triwulan II, Agus Andrianto Tekankan Kualitas Belanja Negara
Ia menjelaskan bahwa implementasi ekonomi Islam menuntut hadirnya kelembagaan yang mampu mengintegrasikan sektor riil dengan sektor keuangan, menciptakan distribusi kekayaan yang lebih adil, melindungi hak kepemilikan dengan tetap mengedepankan fungsi sosial harta, membangun tata kelola pasar yang beretika, serta menyinergikan instrumen zakat, wakaf, kebijakan fiskal, dan keuangan komersial.
Meski demikian, Dr. Dayyan mengungkapkan bahwa berbagai penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal internasional bereputasi masih menunjukkan adanya tantangan dalam praktik ekonomi syariah. Beberapa di antaranya adalah dominasi skema pembiayaan yang menyerupai utang (debt-like financing), rendahnya penerapan mekanisme bagi hasil (profit and loss sharing), penggunaan tolok ukur konvensional, serta belum optimalnya kontribusi pertumbuhan keuangan syariah dalam mengurangi ketimpangan ekonomi.
Menurutnya, pengembangan ekonomi Islam ke depan harus berorientasi pada pencapaian nilai-nilai substantif, bukan sekadar memenuhi aspek formalitas syariah.
“Agenda ekonomi Islam ke depan harus bergeser dari sekadar kepatuhan formal menuju terwujudnya keadilan dan kemaslahatan bagi masyarakat”, tegasnya.
Dalam konteks menuju Indonesia Emas 2045, ia menilai ekonomi Islam memiliki peran strategis sebagai fondasi moral dan ekonomi untuk memperkuat sektor UMKM, mendorong kewirausahaan produktif, mengoptimalkan keuangan sosial Islam, mengembangkan industri halal, memperkuat digitalisasi yang beretika, serta menghadirkan kebijakan publik yang berpihak pada pemerataan kesejahteraan.
Di akhir pemaparannya, Dr. Dayyan berpesan agar kader HMI tidak berhenti pada pemahaman simbolik terhadap ekonomi syariah. Ia mendorong seluruh kader menjadi intelektual yang kritis, mampu membangun institusi, berani mengoreksi berbagai penyimpangan, serta konsisten memperjuangkan nilai-nilai kebenaran, keadilan, dan kemanusiaan dalam kehidupan ekonomi.
Sebagai informasi, Intermediate Training merupakan jenjang kaderisasi kedua dalam HMI yang dirancang untuk membentuk kader dengan kapasitas ideologis, intelektual, dan manajerial yang lebih matang sebagai bekal kepemimpinan di tengah masyarakat.
Jika ditujukan untuk media massa, rilis ini juga bisa dibuat lebih bernuansa jurnalistik dengan gaya penulisan yang lebih ringkas dan memiliki nilai berita yang lebih kuat.








