Mudabicara.com_Jumat, 13 Rabi’ul Awal 1442 Hijriyah bertepatan dengan 30 Oktober 2020 masih dalam suasana peringatan Maulid Baginda Nabi Muhammad Salallahu Alahi Wasalam kami (saya dan Azhar) ikut melaksanakan Sholat Jumat di Masjid Raya Sumatera Barat.

Sejak awal kami memang telah meniatkan hati, meluruskan fikir, meringkankan langkah, untuk Sholat Jumat di Masjid kebanggaan orang Minangkabauw ini. Dari Bukittinggi dengan motor kami menempuh perjalanan 2 jam 25 menit menerabas udara dingin Negeri Bukit Barisan untuk tiba di Kota Padang, Jl. Khatib Sulaiman tempat Masjid Raya Sumatera Barat.

BACA JUGA : KEMENDIKBUD TUMBUHKAN APRESIASI KAUM MUDA MELALUI TAPAK TILAS VIRTUAL SEJARAH PERGERAKAN KEMERDEKAAN INDONESIA 

Dari jarak yang cukup jauh atap bergonjong Masjid Raya Sumatera Barat telah terlihat, aduhai indah nian, hilang sudah letih berganti ucap syukur. Beberapa orang juga nampak berpose, mengambil gambar pada halaman depan Masjid Raya. Motor kami langsung menuju area parkir yang diarahkan oleh Uda-uda berseragam safari, rupaya mereka para petugas Masjid Raya. Pukul 10.20 kami tiba masih tersisah cukup waktu yang lama untuk jumatan. Masih ada waktu untuk sekedar ngopi melepas lelah. Halaman Masjid Raya sangat luas sekitar 22 ribu meter persegi, taman dan area parkir tertata rapi. Pada sisi timur Masjid Raya terdapat menara Masjid dengan ketinggian 85 meter, taman, lokasi parkir dan pusat kuliner.

Masjid Raya Sumatera Barat, pasti bukan hanya kami, anda juga yang baru pertama kali melihat Masjid Raya Sumatera Barat akan terbesit tanya dalam hati, kenapa arsitektur Masjid seperti ini ? apa makna dibalik arsitektur Masjid ini ? atau untuk mereka yang minim rasa ingin tahu akan berdecak Subahanallah indah sekali Masjid ini. Lalu seperti yang lain anda akan bertebaran pada setiap sudut-sudut persegi Masjid Raya untuk mengabadikan moment dengan foto, video bahkan ada dari kita yang menyempatkan membuat video flog untuk konten youtube. Dan saya memilih mendarasnya lewat tulisan ringan ini.

Seperti falsafah Urang Minangkabau, “Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah”, demikian arsitektur Masjid Raya Sumatera Barat didalamnya mewakili ajaran Islam, Sirah Nabawiyah dan Adat Istiadat Minangkabauw. Masjid yang dibangun sejak 21 Desember 2007 sampai 4 Januari 2019 berdiri di atas lahan seluas 40 ribu meter persegi dengan luas bangunan 18 ribu meter persegi, dibangun dengan APBD Sumatera Barat mencapai 330 Milyard. Setelah diikuti oleh 323 arsitektur desain Masjid Raya Sumatera Barat dimenangkan oleh arsitektur Rizal Muslimin.

Masjid tanpa kubah sarat akan makna filosofi. Beberapa makna yang tersirat dari arsitektur bangunan masjid ini diantaranya, pertama, bangunan masjid persegi empat dengan keempat sudut membentuk lancip gonjong ciri khas rumah Gadang Minangkabauw. Empat sudut lancip menggambarkan empat sudut kain yang dikisahkan dalam Sirah Nabawiyah, tatkala Nabi Muhammad SAW pada usia 35 tahun dipercaya sebagai penengah empat Suku di Mekah yang bersilisih pendapat tentang Suku mana yang berhak memindahkan batu Hajar Aswad ke Kabah sebagai tanda pengresmian renovasi Kabah akibat banjir. Rasulullah Muhammad SAW kemudian membentangkan kain Sorban persegi empat setiap Suku diminta memegang setiap sudut kain, Nabi Muhammad kemudian meletakan batu Hajar Aswad ditengah kain Sorban dan diangkat secara bersamaan keempat suku di Makkah. Oleh para ilmuan peristiwa ini juga disebut sebagai tonggak kepemimpinan yang paling demokratis.

Kedua, tafsir filosofi kedua dari arsitektur Masjid Raya Sumatera Barat mewakili Tikuluak yakni alat penutup kepala Perempuan Minangkabauw. Dalam struktur Masyarakat Minangkabauw perempuan memiliki posisi yang sangat dihargai oleh sebab itu garis keturunan orang Minangkabauw berdasarkan garis keturunan Ibu, atau Ninik Mamak. Tikuluak sebagai penutup kepala Perempuan Minangkabauw sering digunakan bersamaan dengan pakain adat pada acara tertentu. Tikuluak pada kedua sisi berbentuk gonjong menyerupai Rumah Gadang, yang mewakili “kuasa” Perempuan Minangkabauw.

Ketiga, tafsir filosofi lainnya juga menyebutkan arsitektur Masjid Raya Sumatera Barat menyerupai Rumah Gadang atau Rumah Adat Minangkabauw. Desain Rumah Gadang juga memiliki ujung atap yang lancip atau Gonjong. Bentuk gonjong ini juga menyerupai Tanduk Kerbau yang melambangkan kekuatan hati, mempunyai kemauan tinggi dalam mencapai sesuatu yang baik, gigih dan tidak pernah berputus asa. Pada ujung tikuluak dibuat tumpul yang artinya bersifat berani, ramah tamah dan tidak ingin melukai hati orang lain. Panjang tanduk atau kedua sisi pada tengkuluk harus sama yang artinya seimbang, bersifat adil sesuai kebutuhan dan kebaikan masyarakat.

Keempat beberapa keistimewaan lainnya, pada seluruh empat sisi dinding Masjid dipenuhi kaligrafi dan ukiran khas Minangkabauw. Ukiran dan kaligarifi dinding Masjid selain estetika Islam dan adat Minangkabauw yang kental juga memungkinkan sirkulasi udara yang baik pada bagin mihrab. Pada bagian mihrab masjid dibuat menyerupai Hajar Aswad dan dipenuhi kaligrafi Asmaul Husna. Masjid yang berlantai tiga ini dapat menampung jamaah sholat sampai 15 ribu jamaah. Dan yang tidak kalah penting Masjid ini dirancang dengan struktur tahan gempa bahkan diikhtiarkan untuk gempa bermagnitudo 10.

Tulisan ini disadur dari beragam tulisan yang tersebar dimedia online, Wikipedia, republika online, detiktraveling dll. Semata-mata ingin memperkaya khazana kita tentang Islam dan peradaban Islam di Nusantara.

Salam, Urang Sumando Sutan Iskandar Muda.

 

Penulis : Abdul Malik Raharusun (Sekretaris Umum Pengurus Wilayah Majelis Sinergi Kalam – Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia Provinsi DKI Jakarta)