Mudabicara.com_ Akhir-akhir ini jika mendengar kata radikal semacam melihat hantu, baik siang atau pun malam hari. Hii sereem.

Sebenarnya awal kata radikal justru menunjukkan keberpihakan yang jelas pada suatu pilihan. Pilihan yang diyakini kebenaranya. Namun kini kata Radikal justru  bergeser makna dari akarnya.

Pergeseran makna Radikal

Awalnya semangat yang bisa ditangkap dari kata radikal yakni totalitas (all out) dan ngoyot (tertanam). Artinya bahwa radikal itu ialah sifat atau perilaku seseorang menghujam kebawah dan berani gagah tampil ke atas bahkan kadang tanpa tedeng aling aling.

Sayangya kini kata radikal dimaknai secara peyoratif sebagai tindakan negatif. Kata radikal di gunakan seseorang untuk menghakimi, menghina, menegasikan orang atau kelompok lain yang tidak sepaham. Dan yang lebih menyedihkan kadang perbuatan itu dilakukan dengan spontan baik sengaja maupun tidak sengaja.

Pangeran Diponegoro atau bahkan Ir. Soekarno oleh penjajah disebut kaum radikalis, kaum ektrimis pemberontak dan sebagainya. Akan tetapi seiring berjalannya waktu, setelah bangsa ini merdeka, mereka kita sebut sebagai pahlawan bangsa. Diponegoro yang radikal mempertahankan tanah moyangnya dengan semangat sadumuk batuk sanyari bumi serta mempertahankan ajaran agamanya.

Soekarno  yang sangat radikal sekali agar negeri ini segera lepas dari kaum imperialis penjajah dan sangat ingin nusantara segera merdeka. Dengan semangat radikal yang dimiliki, mereka harus rela menjalani dan mengorbankan apa saja termasuk di penjara dan diasingkan dari pengikutnya dan dicap sebagi pengkhianat masyarakat.

Masyarakat Jawa pada umumnya, memang kurang suka dengan sesuatu yang ngotot ngeyel atau radikal. Orang jawa lebih menyukai sikap permisif dan dengan apa saja yang tampilannya halus. Serba boleh, dalam hal apa saja, mongo monggo saja,  seperti dalam sektor dagang, budaya bahkan hal  kepercayaan atau agama. Paling paling kalau tidak berkenan dia akan bilang : “kuwi ora ilok”.

Maka efek negatifnya adalah mereka tidak merasa terganggu ketika dijajah hampir 350 tahun oleh Belanda. Coba lihat rekaman film-film lama di youtube zaman penjajahan. Rakyat pribumi semacam enjoy saja mereka dijadikan jongos, babu atau sekedar asisten mandor. Ini konsekuensi dari habit permisif yang serba boleh asal santun.

KENAPA RADI KALEM

Demikian juga dalam memilih pemimpin, mereka lebih suka sosok yang Radi kalem (cenderung kalem). Yang sopan tidak meledak ledak, nggak berkoar koar dan memperlihatkan lemah lembutnya dalam berkata kata. Ini mungkin pengecualian bagi Soekarno sang orator ulung. Soekarno memang singa panggung. Akan tetapi konon dalam keseharian orangnya sangat lembut dan romantis terutama pada wanita dan anak anak.Ini tentu sangat bertolak belakang dengan penampilan Soeharto dan presiden lainya di negara kita.

Soeharto misalnya, dia bahkan tidak pernah menunjukkan kemarahan atau ketidak senangan sedikitpun pada orang lain bahkan dikenal dengan jenderal yang murah senyum. Tapi dalam hal menerapkan kebijkannya konon beliau dikenal tangan besi dan nyatanya semuanya bisa beres saat itu.

Untuk itu kedepan apakah kita memilih pemimpin yang radikal atau radikalem ? Atau perpaduan keduanya. Karena radikal  sekarang bisa ditafsirkan bermacam macam, ada yang radikal buat youtube ada yang radikal memarah marahi bawahan atau yang positif adalah sosok yang radikal dalam bekerja menyelesaikan masalah dan cari solusinya akan tetapi tetap santun dalam berkata kata.

 

Penulis : Ki Dharmo Kondo (Budayawan Solo)