Dosen Universitas Nggusuwaru Terapkan Etnomatematika Berbasis Deep Learning, Kelompok Kerja Guru Sekolah DasarMadapangga  Mulai Kembangkan Modul Ajar Inovatif

Pendidikan37 Dilihat

Mudabicara.com_Matematika tidak selalu harus diajarkan melalui angka, rumus, dan buku teks. Berbagai kearifan lokal yang hidup di tengah masyarakat ternyata dapat menjadi sumber belajar yang menarik untuk membantu peserta didik memahami konsep matematika secara lebih nyata.

Semangat inilah yang dihadirkan dalam Pelatihan dan Pendampingan Pengembangan Modul Ajar Etnomatematika Berbasis Deep Learning bagi Guru KKG SD Kecamatan Madapangga, Kabupaten Bima.

Kegiatan tersebut merupakan bagian dari Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026 yang didukung oleh Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Program ini diarahkan untuk memperkuat kapasitas guru dalam menghasilkan perangkat pembelajaran yang inovatif, kontekstual, serta sesuai dengan karakteristik lingkungan dan budaya peserta didik.

Baca Juga: Memaknai 81 Tahun Republik: Menguji Janji Prabowonomics di Timbangan Kemerdekaan

Selama ini, pembelajaran matematika di sekolah dasar masih sering dipersepsikan sebagai pembelajaran yang identik dengan angka dan rumus. Melalui pendekatan etnomatematika, guru diajak mengubah cara pandang tersebut.

Budaya lokal dapat menjadi pintu masuk untuk mengenalkan konsep matematika kepada peserta didik. Pola dan motif kain tenun, bentuk bangunan tradisional, aktivitas masyarakat, pengukuran, pembagian, perbandingan, hingga berbagai kegiatan sehari-hari dapat dikembangkan menjadi konteks pembelajaran.

Dengan demikian, peserta didik dapat menemukan bahwa matematika sebenarnya hadir di lingkungan mereka sendiri.

Pendekatan tersebut sekaligus menjadi upaya untuk menghadirkan pembelajaran yang lebih dekat dengan pengalaman peserta didik.

Pelatihan juga memberikan penguatan mengenai pendekatan pembelajaran mendalam (deep learning). Guru diarahkan untuk merancang pengalaman belajar yang memungkinkan peserta didik tidak hanya mengetahui jawaban, tetapi memahami konsep, menemukan hubungan, memecahkan masalah, mengomunikasikan gagasan, dan melakukan refleksi. Pembelajaran matematika diharapkan bergerak dari sekadar “mengetahui” menuju “memahami dan mampu menggunakan”.

Dalam praktiknya, guru didorong menyusun aktivitas yang membuat siswa aktif mengamati, mengeksplorasi, berdiskusi, memecahkan masalah, mempresentasikan hasil, dan merefleksikan pengalaman belajarnya.

Baca Juga: HUT RI ke-81, Menag Tekankan Kerukunan dan Solidaritas di Tengah Bencana

Para guru langsung dilibatkan dalam praktik pengembangan modul ajar. Mereka mengidentifikasi capaian pembelajaran, menentukan tujuan pembelajaran, memilih konteks budaya lokal, menyusun aktivitas peserta didik, mengembangkan soal pemecahan masalah, hingga merancang asesmen. Proses tersebut dilakukan secara kolaboratif. Guru berdiskusi dengan rekan kelompok, bertukar gagasan, kemudian mendapatkan masukan dan pendampingan dari tim pelaksana. Modul yang dikembangkan diarahkan untuk mengintegrasikan literasi, numerasi, pemecahan masalah, aktivitas kontekstual, dan refleksi sehingga dapat digunakan sebagai perangkat pembelajaran yang lebih bermakna. Salah satu kekuatan kegiatan ini adalah upaya menghubungkan konsep matematika dengan budaya lokal Bima.

Motif dan pola kain tenun, misalnya, dapat digunakan untuk mengenalkan konsep geometri, pola, simetri, maupun perbandingan. Aktivitas pembagian makanan dapat dikembangkan menjadi konteks pembelajaran pecahan. Sementara bentuk bangunan tradisional dapat dimanfaatkan untuk mempelajari bangun datar, bangun ruang, dan pengukuran. Melalui cara tersebut, budaya tidak hanya diperkenalkan sebagai warisan masyarakat, tetapi juga menjadi jembatan untuk memahami ilmu pengetahuan. Peserta didik diharapkan dapat melihat bahwa apa yang mereka jumpai dalam kehidupan sehari-hari ternyata memiliki hubungan dengan konsep-konsep matematika yang dipelajari di sekolah.

Kelompok Kerja Guru Sekolah Dasar Didorong Menjadi Ruang Inovasi Guru

Kegiatan ini juga memiliki tujuan lebih luas, yakni memperkuat peran KKG sebagai komunitas belajar profesional. KKG diharapkan tidak hanya menjadi tempat pertemuan rutin guru, tetapi berkembang menjadi ruang untuk berdiskusi, berbagi pengalaman, mengembangkan perangkat pembelajaran, melakukan refleksi, serta menghasilkan praktik-praktik baik.

Baca Juga: Doa HUT ke-81 RI di DPP PDI Perjuangan, Helmi Hidayat Serukan Persatuan Bangsa seperti Iran

Kolaborasi tersebut penting karena guru dapat saling memberikan masukan berdasarkan pengalaman nyata di kelas. Dengan demikian, pengembangan modul ajar tidak dilakukan secara individual, tetapi menjadi bagian dari budaya belajar bersama di lingkungan KKG.

Setelah pelatihan, proses dilanjutkan dengan pendampingan. Guru mendapatkan bimbingan dalam menyempurnakan modul, merancang aktivitas pembelajaran, mengintegrasikan literasi dan numerasi, serta menyesuaikannya dengan karakteristik peserta didik.

Evaluasi kegiatan dilakukan melalui evaluasi proses, evaluasi produk, dan refleksi bersama. Dengan pendekatan tersebut, keberhasilan program tidak hanya dilihat dari kehadiran peserta, tetapi juga dari kemampuan guru menghasilkan produk dan menerapkannya dalam pembelajaran. Program Pengabdian kepada Masyarakat Tahun Pendanaan 2026 ini diharapkan memberikan dampak berkelanjutan bagi guru dan peserta didik.

Modul ajar yang dihasilkan tidak diharapkan berhenti sebagai dokumen pelatihan. Produk tersebut dapat terus dikembangkan, diterapkan di kelas, dievaluasi, dan disempurnakan melalui kegiatan KKG. Lebih jauh, pengalaman ini diharapkan dapat menjadi praktik baik yang dapat direplikasi oleh guru SD lainnya di Kabupaten Bima. Pada akhirnya, pesan yang ingin dibangun melalui kegiatan ini sederhana namun penting:

Melalui kreativitas guru, kearifan lokal tidak hanya menjadi sesuatu yang diwariskan, tetapi juga dapat menjadi sumber belajar untuk membentuk generasi yang mampu berpikir kritis, kreatif, bernalar, dan memahami lingkungannya.

Tulisan Terkait:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *