Mudabicara.com_ Covid-19 dipandang oleh sebagian masyarakat sebagai ancaman yang cukup serius. Tidak hanya dirasakan dalam bidang ekonomi, kesehatan, budaya, dan pelaksanaan ibadah sehari-hari, tetapi juga berdampak pada hal sistematik dalam bidang dakwah (Jauhari, 2020:53). Sehingga dalam pelaksanaannya harus mengikuti aturan yang telah ditetapkan oleh pemerintah setempat supaya dapat menjamin keselamatan dan juga kenyamanan bagi seluruh masyarakat lebih khusus terhadap pelaku dakwah itu sendiri.

BACA JUGA : MENGILHAMI PUISI PERINGATAN WIJI THUKUL 

Terdapat banyak cara agar tradisi dakwah dapat terus berjalan di kondisi yang seperti sekarang ini. Diantaranya dengan memanfaatkan teknologi media online dalam bentuk aplikasi.

Mengenai dakwah melalui media sendiri seperti sudah memperhitungkan akan kondisi yang akan terjadi seperti sekarang. Sehingga, sudah banyak sekali sosok akademisi yang mengkaji strategi dakwah dengan media jauh sebelum covid-19 ada.

Melihat dengan kondisi diatas pada dasarnya kemajuan teknologi menjadi sebuah perantara yang menghubungkan antara da’i dan Mad’u (yang didakwahi) akan tetapi cara pandang masyarakat kita yang berbeda dalam melihat hal tersebut menjadi suatu tantangan tersendiri (Abdul Karim, 2016;167).

Artinya para da’i harus siap terhadap keadaan dimana situasi yang memaksa menggunakan teknologi dan situasi dalam menjelaskan hal kenapa teknologi digunakan kepada masyarakat.

APA ITU MANAQIB?

Manaqib di sini merupakan tradisi dan amaliah rutin Thoriqoh Qodiriyyah Naqsyabandiyyah PPS Sirnarasa (TQN PPS Sirnarasa –pen) dengan isi di dalamnya adalah Pembacaan Al-Qur’an, Sholawat, Tanbih, Tawasul, dan Manqobah.

Manaqib yang dibaca oleh pengamal TQN PPS Sirnarasa merupakan manaqib Syekh Abdul Qodir Jaelani. Dalam pelaksanaannya sendiri Manaqib biasa dilaksanakan sebulan sekali dengan dihadiri jamaah mulai dari puluhan sampai dengan ribuan. Tetapi, terkadang juga dilaksanakan lebih dari sekali dalam 1 bulan.

Dengan melihat kondisi Pandemi seperti saat ini, sepertinya dengan membuat acara Manaqib secara online adalah cara yang sangat efektif dalam pengamalannya.

Mengingat pesan tanbih “Berhati-hatilah dalam segala hal jangan sampai berbuat yang bertentangan dengan peraturan AGAMA dan NEGARA”. Dengan adanya pedoman tanbih menjadikan tindak dan tanduk para pengamal TQN PPS Sirnarasa lebih terarah.

APA PERAN MUBALIHG?

Sehingga pada dasarnya para mubaligh TQN PPS Sirnarasa tidak bisa kaget dalam menghadapi situasi pandemi seperti sekarang ini. Sebagai salah satunya adalah dengan cara menggelar pengajian Manaqib secara Online melalui media yang dikenal di masyarakat seperti ZOOM MEATING.

BACA JUGA : MENGENAL SOSOK NURCHOLISH MADJID KETUA UMUM PB HMI DUA PERIODE

Selain menyampaikan nilai-nilai, menjelaskan cara penggunaan aplikasi atau teknologi secara benar kepada para jamaah merupakan salah satu faktor mempengaruhi suksesnya acara Manaqib dilakukan secara online.

Mubaligh juga berperan menjelaskan kenapa pengajian manaqib secara langsung harus di alihkan pelaksanaannya menjadi Online supaya yang sudah terbiasa mengikuti pengajian Manaqib juga tidak kaget dengan perubahan yang ada.

APA PENGAJIAN MANAQIB HARUS SELALU DIGELAR SECARA DARING (ONLINE)?

Dengan tetap menggelar Manaqib secara langsung untuk di masa Pandemi seperti sekarang dirasa akan banyak menimbulkan Pro dan Kontra di kalangan masyarakat pada umumnya. Sedangkan untuk Ikhwan TQN PPS Sirnarasa sendiri harus tetap taat terhadap pedoman nilai yang terkandung di dalam tanbih yang diringkas kedalam 9 pilar peradaban dunia oleh Syekh Muhammad Abdul Gaos Saefulloh Maslul (Abah Aos –pen).

Poin kedua dari 9 pilar bperadaban dunia adalah terhadap sesama jangan terjadi perselisihan. Maknanya poin kedua ini sangat berkaitan dengan akhlak, karena sesama manusia harus saling harga menghargai sehingga tidak timbul persengketaan, bahkan akan menghasilkan persatuan, kesatuan dan keharmonisan (Eunis Khoerunnisa&Ridwan Alpian, 2020;5).

Oleh karena itu maka dianggap sangat tepat jika Manaqib online digelar untuk pemperkecil perselisihan di masyarakat. Tetapi bagi yang ingin mengadakannya secara langsung juga dibolehkan jika hanya untuk keluarganya saja (dalam lingkup satu atap). Ya karena jika hanya dilaksanakan oleh satu penghuni atap sama saja dengan mematuhi anjuran pemerintah dengan tetap di rumah saja.

Dalam tradisinya, TQN PPS Sirnarasa mengenal istilah SHUHBAH. Shuhbah adalah suatu proses Ijtima’ (Berkumpul), Istima’ (Mendengarkan), dan Ittiba’ (Mengikuti) seorang murid terhadap guru (Mursyid). Dengan demikian maka Shuhbah merupakan suatu kondisi interaksi bimbingan baik Dhohir (Fisik) maupun Batin (Non Fisik) yang dilakukan guru terhadap muridnya.

Maka jika meliahat penjelasan diatas Shuhbah sendiri terdapat dua yaitu Dhohir, dan Batin. Shuhbah Dhohir adalah kondisi dimana seorang murid bertemu langsung dengan sang guru untuk mendapatkan bimbingan, sedangkan Batin merupakan hal yang sebaliknya.

Shuhbah sendiri merupakan suatu proses bagian dari robitoh. Karena pada pengertiannya robithoh adalah ketika setiap murid, kapanpun, dimanapun mengamalkan segala bimbingan Mursyid meskipun sedang jauh, baik itu amalan harian atau bulanan (Feriyanto&Nurhasanah, 2019;47).

Selain itu dengan tetap digelarnya Manaqib merupakan salah satu metode robitoh murid terhadap guru dengan menjalankan kebiasaan gurunya agar tetap mendapat bimbingannya.

Murid yang butuh bimbingan, oleh karenanya dengan tetap menjalankan kebiasaan gurunya merupakan sebuah kewajiban supaya dapat terus dibimbing termasuk dengan metode manaqib online seperti sekarang.

Oleh: Ahmad Syauqy (Mahasiswa STID Sirnarasa)