Mudabicara.com_Nurcholish Madjid adalah satu dari sekian pemikir pembaharu Islam Indonesia. Karya dan pemikirannya tak jarang mengilhami diskursus tentang ke-Indonesian dan Ke-Islaman. Gagasan sekularisasi Nurcholish Madjid menimbulkan diskursus dan polemik.

Bahkan banyak orang yang mengagumi dan banyak pula yang menentang pemikirannya. Disamping itu Nurcholish Madjid adalah satu-satunya orang yang pernah menjabat ketua umum Pengurus Besar Himpunan Mahasiswa Islam (PB HMI) dua periode.

BACA JUGA : MENGENAL SOSOK SYEKH HAMZAH FANSURI SEORANG SUFI BESAR NUSANTARA

Lalu, siapakah Nurcholish Madjid sebenarnya? seperti apa pemikirannya? apa sumbangsihnya untuk Indonesia? apa saja karya-karyanya? Mari simak ulasan mudabicara.com terkait sosok Nurcholish Madjid berikut ini.

Sekilas Tentang Nurcholish Madjid

Nurcholish Madjid adalah pemuda kelahiran Jombang. Sebuah kota yang terkenal dengan budaya pondok pesantren tepat pada 17 Maret 1939. Hidup di tengah keluarga yang memegang erat tradisi pesantren lantas tak membuatnya berkecil hati.

Darah intelektualisme dan aktivisme Cak Nur mengalir dari orang tuanya yang merupakan aktivis Nahdhatul Ulama serta Masyumi. Pendidikan Cak Nur kecil bermula dari Sekolah Rakyat dan Madrasah Ibtidaiyah. Madrasah yang tak lain milik ayahnya sendiri sehingga tak jauh dari rumahnya di Mojoanyar.

Setelah menamatkan pendidikan dasar, Cak Nur muda melanjutkan pendidikan di pondok pesantren Darul Ulum Jombang. Dengan berbagai pertimbangan salah satunya yakni kedekatan keluarga Cak Nur dengan pemikiran modernis Masyumi.  Akhirnya ia memilih pindah ke pondok pesantren Darussalam Gontor di Ponorogo.

BACA JUGA : MENGENAL TEORI TINDAKAN SOSIAL MAX WEBER 

Pondok Gontor yang lebih berhaluan modernis dan tidak fanatik pada satu mahzab ini menjadi kawah candradimuka Cak Nur dalam mempelajari dasar-dasar agama Islam dan ilmu bahasa. Hampir kurang lebih 6 tahun Ia menghabiskan waktu belajar di Pondok Gontor. Pondok yang terkenal dengan kemampuan kritis sekaligus kecakapan bahasa para santri inilah yang akhirnya menjadi fondasi awal pemikirannya.

Setelah lulus dari pesantren Darussalam Gontor. Pada tahun 1962 ia pindah ke Jakarta untuk melanjutkan pendidikan. Jurusan sastra arab Fakultas Adab IAIN Syarif Hidayatullah menjadi pilahannya, sekarang UIN Syarif Hidayatullah. Perguruan tinggi ini dibangun guna memberikan ruang kepada generasi muda muslim mendapat pendidikan tinggi yang sebelumnya terhambat karena penjajahan.

Ketua Umum PB HMI

Gagasan kebangsaan serta intelektualisme Nurcholish Madjid mulai terasah saat di kampus yang terkenal dengan sebutan Mahzab Ciputat ini. Keaktifannya Cak Nur Muda di organisasi ektra kampus Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) menambah kemampuan daya kritis terhadap situasi ke-Indonesian dan Ke-Islaman.

BACA JUGA : MULYADI DAN WASIAT PENYATUAN HMI 

Himpunan Mahasiswa Islam merupakan organisasi kemahasiswaan ektra kampus yang didirikan pada tahun 1947. Melalui Organisasi inilah pemikiran Cak Nur mulai terasah. Hal itu terbukti dengan hasil karya tulisnya berjudul “Modernisasi Ialah Rasionalisasi, Bukan Westernisasi”.

Naskah tersebut menjadi cikal bakal munculnya “Nilai-Nilai Perjuangan HMI”. Dan di kemudian hari disempurnakan ke dalam Nilai-Nilai Dasar Perjuangan (NDP). NDP merupakan narasi doktrin ideologis HMI dan digunakan sebagai materi wajib perkaderan sampai saat ini.

Kecakapan dan luasnya wawasan, akhirnya Nurcholish Madjid terpilih sebagai ketua umum Himpunan Mahasiswa Islam pada tahun 1966 mengantikan Sulastomo. Lalu kongres selanjutnya pada tahun 1969 ia terpilih kembali menjadi ketua umum. Hingga kini hanya nama Nurcholish Madjid yang mampu menjadi ketua umum PB HMI dua periode berturut-turut.

Lewat HMI karir intelektual Cak Nur sebagai cendekiawan muslim bermula. Hingga akhirnya pada tahun 1978-1984 Cak Nur mendapat gelar Ph.D dari Universitas Chicago dalam bidang filsafat Islam. Disertasinya berjudul Ibn Taymiyah on Kalam and Falasifa: Problem of Reason and Revelation in Islam dengan pembimbing langsung Prof. Fazlur Rahman.

Pada 29 Agustus 2005 Nurcholish Madjid kembali kepangkuan sang pencipta. Indonesia kehilangan salah satu putra terbaik. Pemikir pembaharu islam sekaligus cendekiawan yang belum ada pengantinya hingga sekarang.

Pemikiran Nurcholish Madjid

Dalam lingkaran organisasi HMI pemikiran Cak Nur seakan menjadi bahan bacaan dan diskusi wajib. Intelektual Indonesia sekaligus HMI yang mampu memberikan suntikan wacana tentang pembaharuan Islam Indonesia pada masyarakat.

Dalam pengantar buku Islam, Kemoderan dan Keindonesia, Dawam Rahardjo mengatakan bahwa Nurcholish Madjid adalad Natsir Muda. Cak Nur adalah satu tokoh yang menentang keras akan narasi westernisasi dan sekularisasi. Bagi Cak Nur sekularisasi adalah sumber imoralitas dan ateisme. Di samping itu, Cak Nur memandang modernisasi harus tetap bersandar pada keimanan. Jargon ide sekularisasinya yang terkenal yakni Islam Yes, Partai Islam No.

Pemikiran Cak Nur mulai naik kepermukaan saat menyampaikan makalah Keharusan Pembaharuan Pemikiran Islam dan Masalah Integrasi Ummat pada tahun 1970. Tulisan tersebut menjadi penanda awal Cak Nur sebagai pemikir pembaharu Islam Indonesia. Kontroversi pemikirannya muncul saat menyampaikan tulisan yang berjudul Menyegarkan Paham Keagamaan di Kalangan Umat Islam Indonesia.

BACA JUGA : MENGENAL TEORI HERMENUTIKA HANS GEORG GADAMER

Banyak orang mengkritik tulisan tersebut. Namun tak bisa mengelak bahwa  genarasi zaman 70-an adalah generasi dimana banyak intelektual muslim muncul sehingga kontroversi pemikiran adalah hal yang lumprah dan biasa.

Sebut saja, Ahmad Wahib, Utomo Dananjaya, Harun Nasution, Djohan Effendi, Dawam Rahardjo, Abdul Mukti Ali dan Abdurrahman Wahid. Deretan nama yang tak lain dan tak bukan adalah teman dan sahabat diskusi Nur Cholish Madjid dalam berwacana. Generasi yang belum tergantikan dalam hal gagasan dan pemikiran khususnya pasca reformasi tahun 1998.

Islam dan Modernisasi

Sebenarnya isu tentang Islam dan Modernisasi bukanlah hal yang baru dalam dunia pemikiran Islam. Isu ini sudah lama dan memicu perdebatan para cendekiawan Islam ataupun non-Islam.

Misalnya guru Cak Nur, Fazlur Rahman menjelaskan modernisasi adalah usaha-usaha untuk melakukan harmonisasi antara agama dan pengaruh modernisasi yang berlangsung di dunia Islam.

Sedangkan sahabatnya, Mukti Ali menjelaskan modernisasi sebagai upaya menafsirkan Islam melalui pendekatan rasional untuk mensesuaikannya dengan perkembangan zaman dengan melakukan adaptasi dengan perubahan-perubahan yang terjadi di dunia modern yang sedang berlangsung.

Cak Nur memandang modernisasi adalah rasionalisasi yang harus bersandar pada iman kepada Tuhan dan Moralitas. Bahwa modernisasi disamakan dengan rasionalisasi yang tujuannya untuk mensejajarkan Islam dengan perkembangan dunia modern.

Namun yang perlu dimengerti adalah rasionalisasi Cak Nur tidaklah mendewakan akal semata. Rasionalisasi yang lebih kepada tradisi perubahan sistem serta pola pikir. Bagaimana masyarakat mampu bergeser dari pola pikir tradisional menuju pola pikir modern yang beriringan dengan perkembangan pengetahuan dan teknoligi tanpa meninggalkan Islam sebagai dasarnya.

Terlepas kontroversi pemikirannya, Cak Nur tetap saja intan berlian cendekiawan muslim yang pernah lahir dan ada di Indonesia. Sumbangsih gagasannya mampu memantik generasi penerus untuk terus mempelajari serta memahaminya.

Karya Nurcholish Madjid

Nurcholish Madjid adalah seorang pemikir dan cendekiawan Islam Indonesia.  Cak Nur termasuk orang yang sangat produktif dalam menulis. Karya-karyanya antara lain sebagai berikut.

BACA JUGA : MENGENAL TEORI HUKUM TIGA TAHAP AUGUSTE COMTE 

Buku Karya Nurcholish Madjid

Islam, Kemodernan dan Keindonesiaan

Islam, Doktrin dan Peradaban: Sebuah Telaah Kritis tentang Masalah Keimanan, Kemanusiaan, dan Kemodernan

Pintu-pintu Menuju Tuhan

Pembaharuan Pemikiran Islam

Islam Agama Kemanusiaan: Membangun Tradisi dan Visi Baru Islam Indonesia

Islam Agama Peradaban: Membangun Makna dan Relevansi Doktrin Islam dalam Sejarah

Tradisi Islam: Peran dan Fungsinya dalam Pembangunan di Indonesia

Kaki Langit Peradaban Islam

Masyarakat Religius

“Ibrahim, Bapak Para Nabi dan Panutan Ajaran Kehanifan” dalam Seri KKA ke-124/Tahun XII/1997

Bilik-bilik Pesantren: Sebuah Potret Perjalanan

Sajian Ruhani: Renungan di Bulan Ramadlan

Dialog Keterbukaan Artikulasi Nilai Islam dalam Wacana Sosial Politik Kontemporer

Cendekiawan dan Relijiusita Masyarakat

Demi Islam – Demi Indonesia: Wawancara dengan Nurcholish Madjid. Manuskrip untuk rencana otobiografi yang belum terbit

Pesan-pesan Takwa: Kumpulan Khutbah Jum’at di Paramadina

Perjalanan Religius ‘Umrah dan Haji

Fatsoen Nurcholish Madjid

Atas Nama Pengalaman: Beragama dan Berbangsa di Masa Transisi, Kumpulan Dialog Jumat di Paramadina

The True Face of Islam: Essays on Islam and Modernity in Indonesia

Indonesia Kita

“The Foundation of Faith for Fiqh Interfaith” in Sirry, Mun’im A., Interfaith Theologi: Responses of Progressive Indonesian Muslim, Jakarta: International Center for Islam and Pluralism.

Kontekstualisasi Doktrin Islam dalam Sejarah

Islam, Kerakyatan dan Keindonesiaan

Pintu-pintu Menuju Tuhan

Dialog Keterbukaan

Cita-cita Politik Islam