Mudabicara.com_Hermeneutika menjadi salah satu kajian yang menghebohkan di awal kemunculannya. Selain dianggap ilmu yang tidak memenuhi metode ilmiah hermeneutika juga dinilai ilmu yang radikal dalam kajian ilmu tafsir.

BACA JUGA : MENGENAL TEORI  HUKUM TIGA TAHAP AUGUSTE COMTE

Diskursus tentang hermeneutika muncul di saat para ilmuwan sosial tertarik mengkaji teks-teks lama. Ketertarikan terhadap teks-teks lama kemudian menimbulkan pertanyaan mendasar tentang bagaimana teks lama dapat difahami sesuai dengan makna aslinya.

Dengan kegelisahan tersebut akhirnya muncul kajian-kajian akademis soal metode memahami (the method of understanding).  Salah satu yang fenomenal ialah seorang professor filsafat di Universitas Heidelberg bernama Hans Georg Gadamer. Lantas siapa Hans Georg Gadamer dan apa teori Hermeneutika Hans Georg Gadamer?

Apa Itu Hermeneutika?

Secara etimologi Hermeneutika berasal dari bahasa Yunani hermeneia yang berarti menafsirkan atau menerjemahkan. Sedangkan secara terminologi hermeneutika adalah metode tentang proses penafsiran, memahami interpretatif dan pemberian arti. Awalnya Hermeneutika memiliki beberapa terminologi lain seperti menafsirkan teks-teks agama yang sulit difahami serta menerjemahkan bahasa.

BACA JUGA : MENGENAL TEORI TINDAKAN SOSIAL MAX WEBER  

Dalam mitologi Yunani Hermeneutika awalnya diasosiaikan dengan Dewa Hermes. Hermes adalah pengantar pesan antara Zeus dengan manusia. Tugas utama Hermes ialah menafsirkan pesan Zeus kedalam bahasa yang dapat dimengerti oleh manusia.

Pada awalnya Hermeneutika muncul bersama dengan  narasi aliran Humanisme abad ke-16 M. Hermeneutika digunakan untuk memahami teks-teks sulit dari Bibel. Para teolog Kristen berusaha untuk membuat metode yang dapat membantu menemukan kebenaran Bibel dan menentukan satu penafsiran yang benar dari sekian macam penafsiran.

Para Teolog Kristen abad pertengahan meyakini  bahwa Bibel memiliki empat macam makna  yakni: literal, moral, allegoris dan anagogis/eskatologis.

Namun kemudian orang Kristen menafsirkan perjanjian lama menjadi perjanjian baru. Disinilah ilmu hermeneutika di uji sebagai sebuah metode. Kristen terpecah menjadi dua golongan yakni pertama, Protestan yang memegang prinsip hanya sumber kitab suci (sola scriptura). Kedua, Katolik memegang prinsip tradisi bahwa kitab suci ditafsirkan dalam terang tradisi.

Di lain sisi dalam tradisi Yahudi, teks Taurat ditafsirkan oleh para ahli kitab. Penafsiran bertujuan untuk mendidik masyarakat dan melakukan kritik atas praktek-praktek keagamaan untuk membedakan ajaran agama yang benar dari yang palsu atau sesat.

Akhirnya seiring perkembangan zaman hermeneutika kemudian tidak hanya mengkaji tentang masalah seputar penafsian teks keagamaan secara literal dan filosofis. Namun Hermeneutika bergeser kedalam pembahasan tentang situasi budaya, sosial dan sejarah yang menghasilkan teks.

Siapakah Hans Georg Gadamer

Lahir di kota Marburg, Jerman dari keluarga yang berpendidikan pada tanggal 11 Februri 1900. Orang tuanya bernama Johannes Georg Gadamer dan Emma Caroline Johanna Gewiese. Semenjak kecil Gadamer hidup dalam atmosfer agama Protestan yang taat namun agama tidak berpengaruh besar dalam perjalanan akademisnya. Ia hidup selama 102 tahun, meninggal di Heidelberg pada 13 Maret 2002.

BACA JUGA : 10 MANFAAT BELAJAR SOSIOLOGI UNTUK ANAK MUDA 

Karier akademis Gadamer di mulai semenjak menjadi mahasiswa di University of Breslau tahun 1918. Ia mengambil studi humaniora yang mencakup sejarah, filsafat dan sastra. Awalnya Gadamer diarahkan untuk mengambil ilmu sains seperti bapaknya namun Gadamer lebih berminat mengkaji ilmu humaniora khususnya sastra.

Kemasyuran Gadamer di mulai saat ia menjadi salah satu mahasisiwa Martin Heidegger. Heidegger merupakan pembimbing Gadamer saat menulis Habilitation (karya ilmiah setelah disertasi). Hasil karyanya kemudian diterbitkan dengan judul Plato’s Dialectical Ethics: Phenomenological Interpretations Relating to the Philebus.

Perjalanan akademis yang berliku akhirnya pada tahun 1938 Gadamer menjadi profesor di Universitas Leipzig.  Karya terbesar Gadamer yang menghantarkan namanya menjadi salah satu tokoh Hermeneutika yakni Wahrheit und Methode (bahasa jerman)  atau Truth and Method. Gadamer berpendapat bahwa bukan hanya wacana dan tulisan saja yang memiliki makna, akan tetapi pada dasarnya semua hasil kreasi manusia mengandung makna tertentu, dalam konteks inilah, hermeneutika memiliki peranan yang sangat penting.

BACA JUGA : TANTANGAN TATA KELOLA TENAGA KERJA INDONESIA 

Karya lain Gadamer antara lain Hegel’s Dialectic: Five Hermeneutical Studies; Philosophical Hermeneutics; Dialogue and Dialectic; Philosophical Apprenticeships; The Idea of the Good in Platonic-Aristotelian Philosophy; Dialogue and Deconstruction; Gadamer and Hermeneutics; Plato’s Dialectical Ethics; Hans-Georg Gadamer on Education, Poetry, and History; Truth and Method; Reason in the Age of Science; Heidegger’s Ways; The Enigma of Health; The Relevance of the Beautiful; The Beginning of Philosophy; Praise of Theory; Hermeneutics, Religion, and Ethics; Gadamer in Conversation; The Beginning of Knowledge; A Century of Philosophy; dan The Gadamer Reader: A Bouquet of the Later Writings. Lebih lanjut di Encyclopedia of Philosophy, http://www.iep.utm.

Teori Hermeneutika  Hans Georg Gadamer

Gadamer mengklasifikasikan 4 tahapan teori hermeneutika dalam melakukan penafsiran atau pemahaman diantaranya.

1.Teori Kesadaran Keterpengaruhan oleh Sejarah

Teori Kesadaran Keterpengaruhan oleh Sejarah adalah kesadaran seorang penafsir terhadap situasi hermeneutik. Menurut Teori ini pemahaman seorang penafsir di pengaruhi  oleh latar belakang yang mengitarinya mulai dari tradisi, budaya dan pengalaman hidup.

Oleh karena itu, pada saat menafsirkan sebuah teks seorang penafsir seyogyanya  sadar bahwa dia berada pada posisi tertentu yang bisa sangat mewarnai pemahamannya terhadap sebuah teks yang sedang ditafsirkan.

Gadamer mengatakan seseorang harus belajar memahami dan mengenali bahwa dalam setiap pemahaman, baik dia sadar atau tidak akan dipengaruh oleh sejarah yang mempengaruhi seseorang tersebut.

Mengatasi problem keterpengaruhan ini memang tidaklah mudah, sebagaimana diakui oleh Gadamer.  Seorang penafsir harus mampu mengatasi subyektifitasnya ketika dia menafsirkan sebuah teks.

2. Teori Pra-Pemahaman

Teori Pra-pemahaman merupakan pijakan awal seorang penafsir dalam memahami teks. Dalam Proses Pra-pemahaman seorang penafsir harus mendapat perkiraan awal dalam memahami teks.

Menurut Gadamer seorang penafsir harus terbuka untuk dikritisi, direhabilitasi dan dikoreksi oleh penafsir itu sendiri. Ketika seorang penafsir mempunyai pengetahuan baru dan merasa pra pemahamannya kurang tepat.

Proses Pra-pemahaman harus di lalui sebab tanpa  prapemahaman seorang penafsir tidak akan berhasil memahami teks secara baik.

3. Teori Penggabungan atau Teori Lingkaran Hermeneutik

Teori pengabungan adalah proses dimana seorang penafsir mempertemukan dua horison pengetahuan. Dalam teori Gadamer ada dua horioson pengetahuan yakni horison pengetahuan teks dan horison pengetahuan penafsir.

Menurut Gadamer kedua horison pengetahuan ini harus dikomunikasikan agar mendapat pemahaman yang menyeluruh. Bahwa analisis tentang latar belakang teks dan latar belakang penafsir harus di pertemukan.

Teori ini bisa membantu memahami apa yang sebenarnya dimaksud oleh teks. Di sinilah terjadi pertemuan antara subyektifitas pembaca dan obyektivitas teks, di mana makna obyektif teks lebih diutamakan.

4. Teori Penerapan atau Aplikasi

Teori penerapan adalah proses dimana seorang penafsir mengaplikasikan apa yang penafsir fahami.

Sebagai contoh ketika seorang menafsirkan kitab suci maka tanda dia memahami adalah melakukan apa yang dia fahami dalam bentuk tindakan.

Gadamer berpendapat bahwa pesan yang harus diaplikasikan pada masa penafsiran bukan makna literal teks, tetapi meaningful sense yakni memahami dengan tindakan.

BACA JUGA : WAJIB TAHU! 7 REKOMENDASI USAHA UNTUK ENTERPRENER MUDA

Demikian proses teori hermeneutika Hans Georg Gadamer, semoga mampu memahaminya dengan baik.

 

Penulis : Mus Muliadi (Mudabicara)