Mudabicara.com_Kaum muda kali ini kita akan membahas salah satu teori populer dalam khazanah keilmuan sosiologi yakni Teori Tindakan Sosial. Teori sosiologi ini menjadi penting untuk dikaji ulang saat kondisi masyarakat mengalami polarisasi karena tsunami informasi seperti sekarang.

Teori Tindakan Sosial merupakan teori yang konsen pada motif dan tujuan. Dengan pendekatan teori ini kita akan mampu menelaah perilaku seseorang maupun kelompok dalam melakukan tindakan. Kita tentu memahami bahwa semua tindakan mempunyai motif dan tujuan yang berbeda-beda dan disinilah starting point pentingnya mengkaji teori ini.

BACA JUGA : PROBLEMATIKA TENAGA KERJA INDONESIA DALAM MENGHADAPI ASEAN SINGLE MARKET

Dalam Khazanah kajian sosiologi Teori Tindakan Sosial merupakan teori yang dicetuskan oleh seorang sosiolog moderen yakni Max Weber. Seorang yang punya pengaruh besar terhadap perkembangan kajian ilmu sosiologi. Pengaruh Weber dapat dilihat melalui maha karyanya seperti Basic Sociological Terms, The Types of Legitimate Domination, The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism, Objectivity in Social Science, Economy and Society, Sociology of Religion, dan Methodological Essays.

Beberapa tulisan Weber di atas memberi dampak signifikan terhadap perkembangan keilmuan sosiologi. Pemikiran Weber mengkiritik pemikiran Marx yang sangat materialistis. Misalnya soal kapitalisme, Weber menyatakan bahwa tidak tepat jika peradaban barat dibangun dari reruntuhan nilai-nilai agama. Ia menilai justru nilai-nilai agamalah yang menjadi fondasi barat dalam memenangkan kapitalisme. Pendapat ini dapat dibaca lebih lanjut pada karyanya yang berjudul The Protestant Ethic and the Spirit of Capitalism.

Selain mengkritik, Weber juga fokus pada pembahasan ide dan nilai yang kemudian menjadi alternatif. Disamping itu, tulisanya juga menjadi rujukan bagi khazanah keilmuan lain seperti hukum, ekonomi dan politik.

Siapakah Max Weber?

Lahir di kota Erfurt, Jerman di lingkungan keluarga borjuis pada tahun 1864 dari seorang birokrat bernama Max Weber Sr dan ibu Helene Fallenstein. Weber Kecil bernama asli Maxilian Karl Emil Weber dan mempunyai saudara bernama Alfred. Ia hidup selama 56 tahun, meningal di Munich pada tahun 1920.

BACA JUGA : BUKU THE LIMIT OF INTERNASIONAL LAW KARYA J.L GOLDSMITH DAN E.A POSNER

Kertertarikan Weber terhadap dunia akademis dimulai sejak dia masuk Universitas Heidelberg. Karena situasi politik mengakibatkan ia harus meninggalkan Heidelberg pada semester 3 untuk dinas militer. Pada tahun 1884 ia Kembali ke Berlin guna melanjutkan studinya. Disamping studi di Berlin Weber juga belajar di Universitas Goettingen. Kecakapan dan intelektualitas yang matang pada tahun 1896 Weber dianugerahi gelar professor ekonomi di Universitas Heidelberg.

Secara umum pemikiran Weber banyak mempengaruhi diskursus soal modernitas dan post-modernitas. Selain itu karya-karyanya menjadi rujukan para tokoh sosiolog setelahnya seperti Pierre Bourdieu dan Anthony Gidden.

Teori Sosiologi Weber : Teori Tindakan Sosial

Teori Tindakan Sosial adalah teori yang mengkaji tentang motif dan perilaku dari seorang manusia. Pendekatan pemaknaan yang bersifat subyektif sehingga memungkinkan seseorang mampu mempengaruhi dan menerima pengaruh orang lain. Lebih lanjut Weber menyatakan bahwa setiap tindakan individu yang ditujukan kepada individu atau kelompok lain memiliki makna yang bersifat subjektif.

Disisi lain, Weber berpendapat bahwa cara terbaik untuk memahami berbagai kelompok adalah menghargai bentuk-bentuk tipikal tindakan yang menjadi ciri khasnya. Alhasil kita dapat memahami alasan-alasan mengapa warga masyarakat tersebut bertindak. Secara umum memang tujuan sosiologi salah satunya adalah memahami secara mendalam makna subjektif dari tindakan sosial yang dilakukan oleh individu tersebut.

Teori ini berguna untuk memahami tipe-tipe perilaku tindakan setiap individu maupun kelompok. Dengan memahami perilaku setiap individu maupun kelompok, sama halnya kita telah menghargai dan memahami alasan-alasan mereka dalam melakukan tindakan tersebut.

Dalam konteks motif para pelakunya Weber membagi teori tindakan sosial menjadi empat bagian yakni Tindakan tradisional, Tindakan afektif, Tindakan rasionalitas instrumental dan Tindakan rasionalitas nilai.

1.Tindakan Tradisional adalah tindakan yang ditentukan oleh kebiasaan-kebiasaan yang sudah mengakar secara turun temurun. Tindakan ini mengacu pada tindakan yang dilandasi oleh tradisi atau tindakan yang telah dilakukan berulang-ulang sejak zaman dahulu.

Weber menilai tindakan tradisional merupakan tindakan yang tidak melalui pemikiran yang rasional. Sebab tindakan ini dilakukan secara spontan tanpa melalui pemikiran, perencanaan dan pertimbangan. Dasar dari tindakan ini biasanya adat, tradisi turun temurun sejak lama. Artinya tindakan Tradisional ini dilakukan secara berulang dan sama seperti sebelum-sebelumnya.

Dalam konteks Indonesia kita bisa melihat contoh tindakan tradisional ini dari fenomena mudik. Bahwa masyarakat yang merantau di kota-kota besar akan melaksanakan mudik ke kampung halaman di saat lebaran. Artinya apapun yang dilakukan masyarakat atas dasar adat istiadat atau tradisi yang sudah ada merupakan salah satu bentuk tindakan tradisional

2. Tindakan Afektif adalah tindakan yang ditentukan oleh kondisi-kondisi dan orientasi-orientasi emosional pelaku/aktor. Tindakan ini mengacu pada tindakan yang dilandasi oleh perasaan individu. Sama seperti sebelumnya tindakan ini dilakukan juga tidak melalui pemikiran rasional sebab dorongan emosinal lebih kuat.

Kita perlu memahami bahwa emisional berbeda dengan rasional. Emosional lebih mengedepankan reaksi spontan atas apa yang terjadi dan dialami sedangkan rasional lebih mengedepankan pertimbangan pemikiran.

Tindakan Afektif ini dapat kita lihat dari fenomena menangis saat prosesi pemakaman. Tindakan menangis ini dilakukan secara spontan dan begitu saja. Bahagia saat mendapat hadiah dari orang tua atau kekasih. Kedua tindakan diatas termasuk contoh tindakan afektif

3. Tindakan Rasionalitas Instrumental adalah tindakan yang ditujukan pada pencapaian tujuan-tujuan yang secara rasional diperhitungkan dan diupayakan sendiri oleh aktor yang bersangkutan. Tindakan ini mengacu pada tindakan yang dilandasi oleh rasionalitas sang aktor demi mencapai tujuan tertentu.

Tindakan ini disebut juga tindakan instrumental bertujuan sebab tindakan ini dilakukan melalui upaya dan usaha untuk mencapai tujuan yang diharapkan. Kata rasional mengandung makna implisit logis dan instrumental untuk mencapai tujuan. Artinya tindakan ini dilakukan melalui perencanaan yang matang serta pertimbangan sebelumnya.

Kita dapat melihat fenomena tindakan rasional ini dari contoh berikut. Karena kamu ingin kuliah jam 10 maka kamu memilih naik gojek motor dari pada gocar karena tidak ingin terlambat sebab kamu bangun kesiangan jam 9:45. Memilih gojek motor ini merupakan contoh tindakan rasional instrumental sebab pemilihan gojek didasari alasan yang jelas agar kamu tepat waktu.

4. Tindakan Rasionalitas Nilai adalah tindakan rasional berdasarkan nilai, yang dilakukan untuk alasan-alasan dan tujuan-tujuan yang ada kaitanya dengan nilai-nilai yang diyakini secara personal tanpa memperhitungkan prospek-prospek yang ada kaitanya dengan berhasil atau gagalnya tindakan tersebut. Tindakan ini mengacu pada tindakan yang dilandasi oleh kepercayaan terhadap nilai-nilai tertentu.

Tentu tindakan ini melalui pemikiran secara rasional dan memperahatikan berbagai macam nilai-nilai yang ada. Artinya individu yang bertindak mengutamakan apa yang dianggap baik, lumrah, wajar atau benar dalam masyarakat di atas tujuan individual. Apa yang dianggap baik bisa bersumber dari etika, agama, atau bentuk sumber nilai lain.

Kita dapat melihat tindakan rasionalitas nilai ini dari kita memilih memakai celana panjang dari pada celana pendek saat sholat. Kita memilih berjabat tangan mengunakan tangan kanan dari pada tangan kiri. Kedua keputusan tersebut dilakukan karena adanya pertimbangan nilai. Apabila tidak melakukan hal tersebut kita dianggap tidak wajar atau malah dianggap menghina sehingga terjadi penolakan dari masyarakat.

Akhirkata, memahami teori tindakan sosial sama artinya memahami masyarakat secara interpretatif. Di sinilah sosiologi bisa memberi penjelasan kausal mengenai fenomena sosial dan disinilah salah satu sumbangsih intelektual seoarang Max Weber dalam khazanah keilmuan sosiologi.

BACA JUGA : RANGKAP JABATAN PEJABAT PUBLIK DALAM KACAMATA UNDANG-UNDANG

Dengan kita memahami empat bagian teori tindakan sosial di atas maka kita dapat menganalisis makna simbolis dari tindakan yang dilakukan individu. Kemudian kita mampu menginterpretasi, mengindetifikasi dan mengkalirifikasi tipe tindakan sosial apa yang dilakukan oleh individu atau kelompok.

Weber pun menyatakan bahwa dengan konsep makna subjektif, sosiologi dapat memahami orientasi, motivasi, dan penyebab dari tindakan yang dilakukan individu meskipun motif tersebut tak bisa diobservasi. Semoga para kaum muda hari ini semangat menjaga intelektualitas dengan membaca sehingga pisau analisis tajam dan tertata. Semoga saja!

 

Penulis : Mahfut Khanafi (Mudabicara)