Mudabicara.com_ Sejarah Bangsa Mencatat Pemuda sebagai kelompok terpenting dalam mengawal keputusan politik dari masa ke masa. Peran pemuda dalam konteks ke indonesian harus menciptakan stabilitas politik secara komperhensif. Etika kebangsaan dalam merawat nalar kritis pemuda harus diaktualisasikan dalam perubahan paradoks demokrasi yang mampu mensosialisasikan budaya politik yang santun dan rasional sesuai dengan amanat demokrasi.

Secara kontemporer Pemuda harusbisa merawat integritas dan moralitas di dalam dunia politik, Sehingga dapat menciptakan kaadaban politik secara sustainable. Tantangan besar di era demokrasi saat ini mampukah pemuda berada dalam jalan tengah sebagai upaya merajut kelompok-kelompok minoritas akibat konflik politik guna kembali bersatu dalam bingkai keharmonisan ruang demokrasi.

Pada konteks situasi politik saat ini, kondisi perpolitikan di indonesia mengalami disintegritas akibat lahirnya budaya politik identitas yang dapat memecah belah kesatuan dan persatuan bangsa. Kita melihat dinamika di setiap momentum kontestasi politik, dimana terjadi berbagai bentuk Kampanye Hitam dan politisasi ormas di setiap pelaksanaan pesta demokrasi. Hasilnya dapat menciptakan konflik sosial masyarakat secara berkelanjutan.

Minimnya kesadaran politik generasi muda semakin memperparah kondisi bangsa saat ini, pemuda kurang memperhatikan setiap kebijakan politik yang dibuat oleh lembaga negara, padahal disitulah letak masa depan negara ditangguhkan. Karena berhubungan dengan hajat hidup masyarakat secara keseluruhan.

BACA JUGA: MENGENAL SOSOK NURCHOLISH MADJID KETUA UMUM PB HMI DUA PERIODE

Pemuda diharapkan tidak menunggu momentum untuk menyuarakan aspirasinya sesuai dengan sarana demokrasi, sinergitas dan aktualisasi dalam memperjuangan hak rakyat harus dilakukan secara konsisten tanpa menunggu momentum tertentu. Outputnya, penanaman nilai-nilai demokrasi akan dirasakan oleh masyarakat sipil. Karena sebagai pejuang demokrasi pemuda berada di garda terdepan pengawal pelaksanaan demokrasi, tentu dengan menggunakan koridor hukum yang relevan tanpa merusak nilai demokrasi itu sendiri.

Wajah buram kondisi politik di indonesia saat ini  melahirkan budaya politik parokial, dimana partisipasi politik masyarakat sangat rendah, budaya ini muncul akibat jangkauan ide tentang konsep bernegara belum dimaknai secara menyeluruh oleh masyarakat. Dampaknya, masyarakat apatis terhadap setiap kebijakan politik yang dibuat oleh lembaga legislative.

Carut marut kondisi perpolitikan saat ini merupakan suata tantangan besar yang harus mampu diselsaikan oleh generasi muda, dengan menjadi motor perubahan politik  sebagai alat persatuan bangsa serta merangkul kelompok-kelompok minoritas untuk bersatu dalam konteks demokrasi. Generasi muda sebagai kaum terdidik dan terpelajar diwajibkan  mampu memberikan pendidikan politik kepada masyarakat, merubah stigma buruk politik yang sudah tertanam dalam mainsheet masyarakat. Pemuda harus dengan giat memberikan edukasi pentingnya peranan masyakat sipil dalam pelaksanaan demokrasi.

Politik pecah belah, konflik sosial parpol di tingkat elite harus segera diselsaikan guna stabilitas bangsa dan negara. Pemuda dalam ruang demokrasi hendaknya memperhatikan serta membawa aspirasi masyarakat sipil untuk disampaikan kepada lembaga negara melalui mekanisme sesuai aturan hukum yang berlaku, mengedepankan pola musyawarah mufakat dalam setiap penyelsaian persoalan bangsa.

Demokrasi secara kognitif dan evaluatif membuka keterbukaan untuk seluruh masyarakatsipil, terutama kaum  pemuda untuk berkecimpung serta belajar memaknai marwah demokrasi secara ideal.

BACA JUGA: LEMBAYUNG JINGGA DI PANTAI KUTA 

Menurut saya, Peranan vital pemuda sangat dibutuhkan untuk menciptakan polarisasi merajut semangat kebangsaan dalam segala sektor, pemuda sebagai aktor perubahan hendaknya memiliki kesadaran politik yang tinggi sebagai sarana untuk menciptakan keadaban politik serta menghilangkan budaya politik pecah belah yang sangat merugikan bangsa indonesia, mari seluruh pemuda bersama-sama menjaga integritas dan moralitas dalam bingkai demokrasi.

Oleh :  Arsian Inggang Dwi Nanda, S.Sos., M.Sosio.(Pegiat Komunikasi Politik).