Meliuk-liuk jari jemarinya di atas keyboard. Matanya masih menatap tajam layar laptop. Padahal, waktu sudah begitu larut. karena dikejar deadline, mau tidak mau, suka tidak suka, dia harus menyelesaikan draft novelnya.

Penerbit Spika sudah mewanti-wanti, novelnya harus segera masuk penerbitan untuk dicetak. Karena hampir 10 tahun publik menanti karyanya. Bahkan, saking istimewanya penulis yang satu ini, penerbit memberangkatkannya ke Pulau Dewata untuk menggali inspirasi dan melakukan riset. Tentu saja harapannya novelnya segera rampung.

Dialah Dwipa Sagara, penulis bestseller yang lama tak muncul. Usianya 29 tahun. Ayahnya berdarah Madura, ibunya asli Minangkabau.

Semenjak lulus S2 di UGM, Dwipa fokus menggeluti dunia tulis menulis. Dia pengarang pendatang baru yang mencuri perhatian masyarakat Indonesia. Padahal, novelnya masih dalam hitungan jari. Kini dia sedang menggarap novel ketiganya, dengan setting Pulau Dewata.

Tak heran jika dia terjun langsung ke Bali untuk meneliti kehidupan masyarakatnya.

Sudah dua hari dua malam dia berada di Denpasar. Hotel Aston menjadi tempatnya menginap. Semua biaya akomodasi dan transportasi ditanggung Penerbit Spika. Dia hanya tinggal fokus menyelesaikan naskahnya. Pihak penerbit pun membatasi, dia hanya berada di Bali selama 9 hari.

BACA JUGA : MENGILHAMI PUISI DERAI-DERAI CEMARA CHAIRIL ANWAR 

Terhitung semenjak awal kedatangannya ke Bali, dia memiliki waktu seminggu lagi untuk mengakhiri cerita dalam novelnya.

Risalah Pertemuan

Pada hari keenam, dia memutuskan untuk jalan-jalan di sekitar Pantai Kuta. Sore itu, terdengar suara perempuan menyapanya. Ternyata, dia adalah Dewi perempuan incarannya waktu sekolah di SMAN 4 Jakarta. Namun, karena Dewi pindah ke Aceh, Dwipa tak sempat ungkapan perasaannya.

Dewi: “Hey, kamu Dwipa ya?”

Dwipa: “Ya, siapa ya, kayak tidak asing?”

Dewi: “Owhh, jadi mentang-mentang jadi penulis terkenal, lupa sama temannya, hmm..Aku Dewi, teman SMA-mu.

Dwipa: ” Hahaha..becanda. Aku ingat kok. Lagian, mana mungkin aku lupa sama perempuan paling manis di sekolahan.

Dewi: “Haha, lama gak jumpa, kok jadi jago gombal ya.”

Dwipa: “Itu dulu loh, sekarang pahit.”

Dewi: (sambil cemberut) begitu ya, aku makin jelek maksudmu?”

Dwipa: “Gak kok hahaha. Uda lupain, yuk kita ke tepi pantai, kayaknya pemandangannya bagus. Ya, sambil nungguin sunset lah.

Dewi: “Gak ah, males. Udah hilang moodku.”

Dwipa: “Yaelah, gitu aj ngambek. Hahaha. Ayo dong. Mumpung kita di sini, kapan lagi kamu diajakin orang cakep”.

Dewi:”Idiih,,,,pede amet, banyak tau yg ngajakin hahaha. Berhubung aku temen yang baik hati, iya deh ayo.

Dwipa: “Kayaknya terpaksa banget”.

Dewi: “Nggak kok, yuk buruan (sambil megangin tangan Dwipa) keburu hilang nanti sunsetnya.”

Dwipa: “Eh bentar, kita bukan muhrim loh.”

Dewi: “Hehe..maaf, reflek barusan”.

Dwipa: “Kenapa dilepas, santai aja kali”.

Dewi: “Gimana sih, gak konsisten. Gak ah, aku gak mau megang lagi.

Keduanya Berjalan Menuju Tepi Pantai

Setelah berjalan beberapa meter, keduanya duduk di tepi Pantai Kuta. Banyak hal yang mereka perbincangkan. Mulai dari kenangan waktu sekolah, perjalanan kuliah, dunia kerja, situasi politik Indonesia, budaya Bali, hingga mimpi-mimpi yang hendak mereka capai di masa depan.

Kebetulan waktu kuliah, keduanya aktif sebagai aktivis. Dwipa pernah aktif sebagai kader Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI), sementara Dewi pernah aktif di Himpunan Mahasiswa Islam Indonesia (HMI).

Jadi obrolan keduanya langsung nyambung. Meskipun dalam beberapa hal, keduanya sepakat untuk tidak bersepakat. Hanya saja, dari banyak topik yang diomongin, hanya persoalan asmara yang belum dibahas oleh keduanya.

Waktu menunjukkan jam 17.0O WIB.

Dwipa: “Gak terasa ya, sudah jam lima aja ini. Suasana di Kuta ini bikin lupa waktu.”

Dewi: “Masa sih, apa karena kamu di dekatku, jadi terasa cepat.”

Dwipa: “Mungkin”.

Dewi: (senyum-senyum sendiri) “Tapi gak juga sih, kamu sekarang kan banyak fansnya. Tinggal milih aj. Kecuali aku loh, bukan fansmu. Haha.

Dwipa: “Halah, tinggal ngakuin aj, apa susahnya.” Hahahaha.

Dewi: “(sambil nyubit Dwipa) “Enak aj, gak lah.”

Dwipa: “Kamu kok makin agresif sih, perasaan dulu kalem gitu anaknya. Hahaha. Oh ya, aku dulu sempat suka sama orang waktu sekolah di Jakarta, tapi karena dia keburu pergi, aku gak sempat ngungkapin perasaanku.”

Dewi: “Oh ya, siapa? Riska anak IPS 2 itu ya, yang pindah ke Gorontalo?”

Dwipa: “Bukan, dia pindah ke Aceh kok.”

Dewi: “Siapa ya, yang pindah ke Aceh kan cuma aku”.

Dwipa: “Ya, kamu orangnya.”

Dewi: (Sedikit terkejut) Yang benar lah, jangan becanda mulu. Perasaan kamu dulu dekat sama Riska.”

Dwipa: “Iya emang, tapi aku nganggep Riska sebagai teman dekat aja. Gak lebih. Cuma memang, sebagian teman-teman mengiranya aku pacaran sama dia.”

Dewi: ” Tapi dia suka banget sama kamu, dia kan sahabatku, dia pernah curhat ke aku, kalau kamu anaknya cerdas, keren, agamis, perfeklah pokoknya.

Dwipa: “Hmm. Kayakny terlalu berlebihan, aku biasa aja sih. Lagipula aku sama dia emang temanan aja.”

Dewi: “Jadi begitu ya, aku kira kalian jadian. “Sebenarnya, aku juga menyimpan perasaan yang sama.”

Dwipa: (Pura-pura tidak paham) “Maksudmu?”

Dewi: “Iya, aku dulu juga menyukaimu, bahkan menyayangimu, walau hanya sebentar mengenalmu, tapi entah kenapa perasaan itu tiba-tiba datang.”

BACA JUGA : MEMESRAI KENANGAN

Suasana tiba-tiba hening sejenak, keduanya diam seribu bahasa

Deru ombak terdengar semakin nyaring. Angin sepoy-sepoy berembus menyelimuti keduanya. Mereka menatap matahari yang mulai terbenam bak lembayung jingga di ufuk Barat pantai Kuta

Dewi lanjut bercerita, sewaktu di Aceh dia dijodohkan dan dinikahkan dengan putra tokoh setempat oleh ayahnya. Namun, perjalanan rumah tangganya hanya bertahan 6 tahun, karena setahun yang lalu dia menggugat cerai sang suami lantaran sang suami poligami tanpa sepengetahuannya.

Tiba-tiba dia bertanya kepada Dwipa

Dewi: “Sekarang, apakah kamu masih menyimpan perasaan itu padaku?”

Dwipa: “Kenapa nanya gitu?”

Dewi: “Cuma pengen tahu aja”.

Dwipa: “Kalau iya kenapa, kalau tidak kenapa?”

Dewi: “Emang ya, bicara sama penulis rada ribet, orang nanya dijawab pertanyaan, hahaha.”

Dwipa: “Kesan pertama waktu sekolah, begitu mendalam, melekat dalam ingatanku; bertahun-tahun aku berupaya untuk menghindar dari perasaan itu, tapi nyatanya belum bisa, padahal perempuan dalam hidupku datang dan pergi silih berganti. Tapi mereka tak dapat mengubur ingatanku padamu.”

Dewi: “Jadi, kamu masih suka? Asal kamu tahu, aku sekarang juga tunangan dengan salah satu anggota DPRD loh.”

Dwipa: ” Oh ya, baguslah. Aku juga gak mau menjawab pertanyaanmu, tiga bulan lagi aku akan menikah dengan perempuan asal Solo, dia anaknya teman ibuku. Kamu datang ya, aku kirim ntar undangannya.”

Suasana obrolan seolah berubah tiba-tiba. Keduanya seakan tak saling mengenal. Padahal beberapa menit yang lalu, suasana obrolan masih hangat. Kini keduanya membisu. Sepertinya ada konflik batin yang bergejolak antara keduanya.

Lembayung Jingga di Pantai Kuta

Dwipa dan Dewi sebenarnya masih menyimpan perasaan yang sama. Hanya saja tak terungkap dalam obrolan. Apalagi keduanya telah memiliki pasangan.

Pantai Kuta hanya sebatas tempat bernostalgia. Lembayung senja menjadi saksi bisu sebuah perjumpaan. Kisah lama hanya menjadi bumbu-bumbu obrolan. Nyatanya, keduanya enggan jujur dengan perasaannya saat ini.

Keesokan harinya, Dewi kembali ke Aceh. Sementara Dwipa masih bergelut dengan risetnya tentang tradisi Bali. Namun, pertemuannya dengan Dewi telah membakar semangatnya. Dia bertekad menghasilkan karya yang terbaik. Hari demi hari dia lalui untuk meneliti dan menulis. Dia fokus membenahi novelnya.

Hingga tiba saatnya dia memasuki hari terakhir di Bali. Beruntungnya, novelnya telah rampung. Dengan penuh keyakinan dia kirim ke penerbit Spika. Dia pun berkemas menuju Bandara Ngurah Rai.

Setibanya di Jakarta, dia langsung diburu wartawan. Ternyata, kepergiannya ke Bali telah tersiar ke bebagai penjuru. Dia pun berkata kepada seluruh wartawan, bahwa karyanya telah rampung dan telah dikirimkan ke penerbit. Tanpa berlama-lama, dia bergegas menuju taxi agar bisa cepat pulang.

Dua minggu kemudian, novelnya terbit, ternyata dia merombak judul novel. Dia menggantinya dengan “Mengeja Bali”. Novelnya laris di pasaran. Bahkan kembali menjadi bestseller.

Novel tersebut kembali mengukuhkan dirinya sebagai penulis top Indonesia. Dan di dalam novel tersebut, dia memakai nama ‘Dewi’ sebagai tokoh utama.

 

Oleh : Muhammad Aufal Fresky (Mahasiswa Universitas Brawijaya dan Penulis buku ‘Empat Titik Lima Dimensi’)