…. Telah berlalu.

Kekasih, ada banyak kesaksian bisu antara aku dan dirimu. Mungkin saja kita sudah sama-sama melupakan sajak-sajak mesra berdua yang dititipkan pada patahan waktu. Tetapi izinkan aku merangkainya Kembali, menyatukan fragmen cinta yang tak mampu menyemai takdirnya.

Dihari pertama, cinta dilahirkan sepasang tanya. Aku dan kamu berada di istana keheranan yang memukau. Akal dan fikiran sejenak kita tinggalkan, membiarkan tanya bertamasya ke cakrawala sunyi, hingga akhirnya hanya bisa pasrah, bahwa belantara tanya hanya membuat kita terpana.

Dihari kedua, mata kita saling memandang, bertukar sajak, prosa serta puisi yang disenandungkan suara hati. Hati ini terasa semakin riuh, membaca kalimatmu yang dipunggungi kenyataan akan bahagia yang tak pernah utuh, membuatku semakin mengerti bahwa “puisi” berasal dari ketabahan seorang perempuan sepertimu, kekasih.

Dihari ketiga, aku dan kamu serupa sepasang kekasih yang tak mengenal derita. Cinta membuat kita selalu muda, ceria, dan gembira sepanjang waktu mengada bahwa dunia dengan kefanaannya, hilang dalam kesadaran kita, yang ada hanya bahagia. Semoga engkau masih mengingatnya.

Kekasih, aku masih mengingat semua, perihal kekonyolan-kekonyolan kita di hadapan cinta. Pernah suatu kali kita bertukar lagu dan puisi, menitip pesan-pesan rindu dan perasaan yang sukar kita ingkari.

Itu semua seolah menghadirkan kebahagian yang nyata. Walaupun, mungkin kita ditertawakan Jean B dengan Simulakranya.

Tapi kita tak pedulikan itu semua, karena cinta bagi kita cukup sederhana, Bahagia dalam setiap detiknya.

Di hari keempat tamat!

 

Penulis : Abdul Ghofur (Pemuda sederhana asal Pamekasan Madura)