Salah satu kebiasaan masyarakat di negara maju adalah membaca buku. Jika kita melihat bangsa-bangsa yang maju di masa lalu hingga saat ini, mayoritas masyarakatnya memiliki kebiasaan membaca buku yang baik.

Misalnya Inggris, Jepang, Amerika Serikat. Mereka adalah negara maju yang memimpin peradaban dunia dengan keunggulan bidang ilmu masing-masing sehingga menghasilkan produk yang bermanfaat bagi negara tersebut serta negara lain. Seperti smartphone, kendaraan bermotor, komputer, software, mesin produksi.

BACA JUGA : MENGILHAMI PUISI DERAI-DERAI CEMARA CHAIRIL ANWAR 

Problematika Tradisi Membaca

Namun, berbeda dengan negara Indonesia pada saat ini. Tradisi membaca buku masih menjadi hal yang kurang menarik untuk dilirik sehingga hanya sebagian masyarakat yang memiliki kebiasaan baik itu. Dibalik mirisnya hal tersebut, ada beberapa faktor yang menyebabkan kurangnya minat membaca buku di Indonesia. Diantaranya kurangnya dukungan keluarga, lingkungan, dan keterbatasan akses membaca.

Adapun faktor utama yang perlu mendapat perhatian adalah dukungan keluarga. Keluarga adalah tempat pertama yang memberikan pengaruh besar dalam perilaku/kebiasaan sehari-hari seseorang. Jika lingkungan keluarga tidak ada yang memiliki kebiasaan membaca buku, lantas bagaimana kebiasaan itu bisa melekat dengan mudah?

Penyebab kedua adalah lingkungan sekitar. Yang menjadi ruang lingkup lingkungan ini ialah lingkungan pertemanan. Lingkaran pertemanan yang kita miliki turut andil dalam memberikan pengaruh dan dampak dalam kebiasaan membaca buku.

Bagaimana mungkin terbiasa membaca buku, jikalau di dalam lingkaran pertemanan tidak ada yang membaca buku? terkadang ketika kita sedang membaca buku, teman kita akan memberikan julukan ‘kutu buku’ yang sebenarnya membuat sebagian orang merasa tidak nyaman.

Kemudian terbatasnya akses membaca, yakni ketersediaan buku bacaan. Bagi sebagian masyarakat di desa atau pinggiran kota, masih terkendala dengan kesulitan akses toko buku dan bahkan sangat jarang tersedianya toko buku atau perpustakaan.

Namun, dengan seiring kemajuan perkembangan zaman, kini toko buku online hadir menjadi solusi dalam mempermudah akses untuk mendapatkan buku bacaan yang diinginkan. Tapi, jika daerahnya terlalu jauh dari tempat asal pengiriman buku, ongkos pengiriman yang cukup besar menjadi penghambat untuk memiliki buku karena keterbatasan biaya yang dimiliki.

Terakhir adalah diri kita sendiri, bila dari diri tidak ada niatan untuk membaca buku. Maka, sebaik apapun dukungan lingkungan yang ada, semudah apapun akses yang tersedia, maka tak akan ada yang namanya aktivitas membaca buku dalam keseharian kita, jika kita tidak ada niat.

Akan tetapi, bila niat itu telah tertanam (untuk membiasakan diri membaca buku). Maka apapun halangan yang menghadang akan hilang dengan kekuatan niat yang kuat.

Tingkatkan Akses Bacaan

Jika lingkungan keluarga tidak mendukung, maka carilah lingkungan pertemanan yang mendukung minat membaca. Bila tidak ada juga, maka cobalah untuk membentuk lingkungan baik itu. Gimana caranya? bisa dengan cara mengumpulkan orang-orang yang memiliki ketertarikan/minat yang sama untuk membaca.

Kemudian, buatlah sebuah grup  tempat untuk saling memotivasi dan saling menguatkan untuk terbiasa membaca buku. Jika terkendala akses membaca atau biaya untuk membeli buku, bisa meminjam buku teman atau pergi ke perpustakaan yang ada di daerah masing-masing atau bisa juga men-download aplikasi iPusnas. Aplikasi ini merupakan perpustakaan online milik Perpustakaan Nasional yang menyediakan e-book berkualitas dan bisa kita akses secara online dengan cara men-download e-book-nya.

Jadi membaca buku bukanlah hal yang sulit bila kita memiliki niat yang kuat untuk membiasakannya. Ingatlah bila bangsa kita ingin menjadi bangsa yang maju.

BACA JUGA : 10 MANFAAT BELAJAR FILSAFAT UNTUK ANAK MUDA 

Maka, mulailah dengan membiasakan membaca buku. Karena salah satu ciri negara maju adalah negara yang masyarakatnya memiliki tradisi membaca buku. semangat membaca!

 

Oleh: M. Pandu Kurniawan (Inisiator Gerakan Membaca Buku Palembang)