Mudabicara.com_Menjadi seorang pengusaha yang sukses pada usia muda tentu tidak mudah dicapai oleh banyak orang. Berbeda dengan Rafiah Rusyda, saat usianya 23 tahun wanita kelahiran Ngawi, 25 Januari 1991 ini sudah menjadi Direktur Utama CV.Yuspin Indonesia. Lalu bagaimana cerita kesuksesan Yuspin? Apa sebenarnya yang ditekuni Fia, sapaan akrab Rafiah Rusyda, melalui Yuspin?

Yuspin merupakan brand menstrual pad atau sanitary napkins atau pembalut kain yang kini penggunaannya tengah naik daun. Hal ini karena gaya hidup sehat serta kesadaran akan masa depan lingkungan melalui gerakan Zero Waste kian populer.

BACA JUGA : YUSPIN INDONESIA, KESEHATAN, LINGKUNGAN, DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI 

Mengutip laman Zero Waste Indonesia, rata-rata wanita menggunakan 11.000 pembalut selama hidupnya. Sedangkan melansir mongabay.co.id, sampah pembalut ini akan mengeluarkan gas metana yang mencemari lingkungan.

Berdasarkan penelitian dari University of Exeter, metana merupakan salah satu unsur dalam gas rumah kaca yang menyebabkan kenaikan temperatur bumi dengan kekuatan 25 kali lipat lebih cepat dalam menyebabkan pemanasan global dibandingkan karbon dioksida.

Di sisi lain, penggunaan pembalut sekali pakai juga beresiko memunculkan dampak kesehatan. Salah satunya adalah kemunculan iritasi yang disebabkan oleh kandungan bahan kimia yang terdapat di dalamnya. Penelitian yang dilakukan oleh kelompok konsumen Women’s Voices for the Earth pada 2014 lalu menemukan adanya kandungan aseton dan beberapa zat kimia berbahaya seperti styrene yang menurut standar organisasi kesehatan dunia WHO sebagai bahan kimia karsinogen pemicu kanker. Ada pula chloromethane yang disebut bisa menimbulkan efek negatif pada sistem saraf dan ethyl chloride yang mampu menimbulkan gangguan otot dalam paparan konsentrasi tinggi.

Merebut Peluang

Fakta di atas yang mengilhami Rafiah Rusyda dalam mendirikan Yuspin Indonesia. Berawal dari keresahan pribadi,terciptanya produk pembalut kain Yuspin bermula pada tahun 2013 ketika sang ibu mengalami iritasi akibat pemakaian pembalut sekali pakai di kala periode haidnya tiba.

Rafiah Rasyda bersama Zaskia Adya Mecca

Hasil dari konsultasi dengan dokter ahli kulit dan kandungan, sang ibu didiagnosa mengalami iritasi dengan kandungan bahan kimia yang terdapat pada pembalut sekali pakai. Untuk itu, dokter menyarakan untuk memakai pembalut yang berbahan dari kain saja. Padahal saat itu belum ada produk pembalut kain dari Indonesia. Kebanyakan harus diimpor dari luar negeri dan tentunya juga dengan harga yang tidak terjangkau.

Setelah sang ibu bercerita bahwa dulu waktu pertama kali haid sebenarnya menggunakan pembalut berbahan handuk buatan sang nenek, dari situlah inspirasi membuat pembalut kain muncul. Meski pada awalnya perempuan lulusan hukum Universitas Islam Negeri Sunan Kalijaga ini belum terfikir untuk menjadikannya peluang usaha.

Setelah sadar akan dampak kesehatan dan lingkungan yang ditimbulkan oleh pembalut sekali pakai, Fia berinisiatif untuk mulai merintis bisnis ini secara konsisten di mulai pada 2014 lalu.

Kini, Yuspin Indonesia menjadi salah satu perusahaan yang tidak hanya unggul dibidang kesehatan wanita dan keberlanjutan lingkungan, tetapi juga memberikan dampak ekonomi secara luas.

Kantor pusat Yuspin berlokasi di kota Solo dengan lokasi produksi berada di kabupaten Boyolali, Jawa Tengah. Saat ini, Yuspin bahkan telah menyerap sekitar 100 tenaga kerja.

Mengingat kesadaran masyarakat akan aspek kesehatan pembalut kain dan dampak lingkungan dari penggunaan pembalut kain masih belum terlalu tinggi, Fia memiliki strategi jitu untuk memaksimalkan peluang pasar pembalut kain di Indonesia. Salah satu upaya yang dilakukan dalam meningkatkan kesadaran konsumen untuk beralih menggunakan pembalut kain adalah dengan teknik marketing yang melibatkan banyak kemitraan.

“Karena kita dari awal tujuannya merubah mindset yang tadinya dari instan. orangkan sudah tertanam dibawah alam bawah sadar sekarang semuanya instan, instan itu adalah solusi ibaratnya kayak gitu. tapi kebanyakan mereka tidak memikirkan efek-efek lain selain dari instan, jadi banyak efek sampingnya. Jadi kita mainnya itu kemitraan,distributor, agen, kayak gitu, agar mempermudah konsumen mencari produk Yuspin di daerah terdekat dia” ujarnya saat diwawancarai Mudabicara.com. (10/9)

Lebih lanjut, Rafiah Rusyda mengatakan, strategi yang dilakukan adalah mengangkat masalah kesehatan dan menawarkan Yuspin sebagai solusinya. Edukasi kesehatan menjadi market campaing Yuspin dengan fokus terhadap tiga aspek utama yakni menyoroti kesehatan, lingkungan, dan memberikan peluang ekonomi dengan memberdayakan menjadi agen. Kini, Jumlah keseluruhan mitra yang tergabung menjadi distributor, agen, dan reseller sudah mencapai sekitar 9000 mitra dengan omzet ratusan hingga miliaran per bulannya.

BACA JUGA : PENYANGKALAN MILITER MYANMAR SOAL ETNIS ROHINGNYA

Untuk kebutuhan jangka panjang, Yuspin pun terus mengalami perbaikan produk. Fia bersama Yuspin terus melakukan research development untuk pengembangan produk, salah satunya adalah uji materi produk anti bakteri yang membuat produk Yuspin berbeda dengan pembalut kain lainnya.

“Kayak di awal-awal kan belum di uji laboratorium, jadi banyak pertanyaan konsumen sebenarnya ini aman gak sih di pakai karenakan takutnya malah jadi iritasi atau bagaimana. Akhirnya kami ujikan laboratorium. Setelah itu muncul pertanyan ini kan dicuci lagi bukannya malah ada bakteri. Jadi kami inovasi lagi mencari teknologi yang anti bakterialnya” imbuh Fia.

Kini, keunggulan Yuspin dari produk pembalut kain lain yang telah ada di pasaran di antaranya terdapat kandungan anti bakteri dengan teknologi silver plus yang memiliki lisensi langsung dari lembaga Jerman, Rudolf Group.

Selain itu, Yuspin juga telah teruji di laboratorium Kementrian Kesehatan (Kemenkes) RI, sehingga bahan bakunya sudah dinyatakan terbebas dari klorin atau pemutih. Adapun produk ini juga sudah memiliki izin edar dan legal di pasaran. Tak lupa inovasi dari sisi marketing juga dimaksimalkan, termasuk dengan menggaet influencer dan artis.

Adapun pandemi Covid-19 yang saat ini berdampak terhadap bisnis di Indonesia juga sedikit banyak mempengaruhi bisnis Yuspin. Namun, Fia tak ambil pusing dengan kondisi yang ada dengan tetap optimis dalam menjalankan bisnisnya. Ia lebih memilih untuk terus melakukan penyesuaian dengan inovasi pengembangan produk.

“Kalau untuk produk pembalut sebenarnya terdampak Covid-19, tapi hanya di awal saja. Waktu itu alhamduliah karena kami manufacture jadi kami berinovasi membuat masker anti bakterial karena kami sudah memiliki bahan tersebut. Karena bahan utama kami anti bakterial dan lisensinya sudah ada. jadi kami berinovasi membuat produk baru yakni masker anti bakterial. Jadi alhmadulilah karena ada ya inovasi ya tidak terdampak”, pungkas Fia sambal mengakhiri sesi wawancara.