Mudabicara.com_Tentara Myanmar menyepelekan pengakuan pelecehan yang diungkapkan oleh dua anggota mereka atas pembantaian terhadap etnis minoritas Muslim Rohingya.

Diketahui, dua orang itu diperintahkan untuk “memusnahkan” Muslim Rohingya sebelum mengambil bagian dalam pembantaian sejumlah pria, wanita dan anak-anak.

BACA JUGA : YUSPIN INDONESIA,STRATEGI BISNIS DITENGAH PANDEMI 

Pengakuan tersebut dirilis LSM Fortify Rights dan New York Times pada hari Selasa (8/9). Kedua prajurit yang memberi pengakuannya adalah Myo Win Tun dan Zaw Naing Tun.

Dilansir dari AFP, juru bicara militer Myanmar, Brigadir Jenderal Zaw Min Tun bilang kepada BBC Burma pada Rabu malam bahwa orang-orang itu adalah mantan tentara.

Kendati demikian, kata Zaw, mereka disandera oleh kelompok militan Tentara Arakan (AA) dan diancam dan dipaksa untuk mengaku.

AA sendiri memerangi militer di barat laut negara itu untuk mendapatkan lebih banyak otonomi bagi penganut Buddha etnis Rakhine.

Tentara Myanmar dan Tentara AA diketahui saling tuduh pelanggaran hak asasi manusia dalam perang saudara yang berkecamuk di mana operasi militer terhadap Rohingya terjadi tiga tahun lalu.

Sementara itu, AA menolak klaim Tentara Myanmar dan berkata bahwa kedua tentara telah pergi.

“Mereka secara sukarela mengakui tentang kejahatan perang yang dilakukan oleh militer Myanmar,” kata juru bicara AA Khine Thu Kha.

AFP menjelaskan bahwa pihaknya tidak dapat memverifikasi video atau pernyataan tersebut secara independen, tetapi Fortify Rights mengatakan pihaknya menerbitkan analisisnya tentang pengakuan hanya setelah yakin bahwa itu tidak dibuat di bawah tekanan.

Fortify kemudian mengungkap orang-orang Rohingya itu muncul di perbatasan Bangladesh-Myanmar meminta perlindungan, dan sejak itu dibawa ke Den Haag, Belanda.

Selain itu, mereka juga meminta agar dua pria yang telah memberi pengakuan dituntut di Pengadilan Kriminal Internasional (ICC).

Sebelumnya dua mantan tentara Myanmar bersaksi lewat sebuah video yang diterjemahkan dalam bahasa Inggris mengenai kekejaman terhadap etnis minoritas Muslim Rohingya.

Pada video terpisah, kedua tentara itu terlihat duduk dengan kaku dalam seragam militer saat suara laki-laki di luar layar mengajukan pertanyaan kepada mereka.

Rincian dalam menjawab setiap pertanyaan dan jawaban mengenai peristiwa yang terjadi sekitar tiga tahun lalu, membuktikan bahwa konten tersebut sebelumnya sudah dipersiapkan.

BACA JUGA: YUSPIN INDONESIA, KESEHATAN, LINGKUNGAN DAN PEMBERDAYAAN EKONOMI 

Tapi penjelasan mereka mewakili sejumlah besar laporan kekejaman yang dikumpulkan oleh penyelidik Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan pekerja hak asasi manusia independen. Mereka mengumpulkan keterangan dari pengungsi Rohingya di Bangladesh.

Salah satu tentara mengaku berada di lokasi ketika seorang sersan dan seorang kopral memperkosa tiga wanita Rohingya ketika menggeledah rumah. Tapi dia mengaku tidak melakukan pemerkosaan apa pun.