Mudabicara.com_Semua pihak yang terlibat dalam dunia pendidikan diminta untuk memberikan edukasi perubahan perilaku di dunia pendidikan pada masa new normal untuk mencegah penyebaran Covid-19. Misalnya, kampanye edukasi perubahan perilaku di masa kebiasaan baru perlu terus disampaikan dengan penekanan pada memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak (3M).

Hal tersebut disampaikan oleh Ketua Bidang Perubahan Perilaku Satuan Tugas (Satgas) Penanganan COVID-19, Sonny Harry B. Harmadi pada Bincang Sore yang diselenggarakan oleh Biro Kerja Sama dan Hubungan Masyarakat, Kemendikbud, secara virtual di Jakarta (11/9/2020).

“Memakai masker, mencuci tangan, dan menjaga jarak (3M) sangat berguna. Kita menurunkan risiko sampai dengan 85% dengan tiga hal ini,” kata Sonny dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Minggu (13/9/2020).

Satgas COVID-19 menemukan bahwa mayoritas penderita di Jakarta berusia muda, yaitu 19-31 tahun, dengan salah satu klaster penyebaran adalah orang-orang muda yang berkumpul. Survei Penelitian dan Pengembangan Kesehatan menemukan, banyak anak muda meyakini tidak mungkin tertular COVID-19.

“Maka penting kita mengedukasi perubahan perilaku ke kalangan anak muda dan anak sekolah,” kata Sonny.

BACA JUGA: MENGENAL RAFIAH RUSYDA, SOSOK PEDULI KESEHATAN & LINGKUNGAN MELALUI PEMBALUT KAIN YUSPIN

Tercatat ada 649.192 satuan pendidikan, 4.183.591 guru, 68.801.708 peserta didik serta 42.972.397 keluarga peserta didik yang berpotensi menjadi agen perubahan perilaku. “Totalnya hampir 115 juta orang di komunitas pendidikan. Jika kita bisa mengintervensi perubahan perilaku mereka, dampaknya akan besar sekali,” kata Sonny.

Ia mencontohkan, pada kegiatan Pembelajaran Jarak Jauh, guru bisa memberikan edukasi 3M secara berulang-ulang atau memasang video edukatif sebelum belajar, sehingga siswa mengingatnya dan mempraktikkan sebagai nilai baru.

“Perilaku itu (adalah) apa yang tampak. Tapi, dibawahnya ada hal-hal yang mempengaruhi kenapa perilaku itu terjadi. Kalau kita tidak menyelesaikan cara pikirnya, kita tidak akan bisa membentuk perilaku baru,” tutur Sekretaris Pengurus Pusat Lembaga Kemaslahatan Keluarga Nahdlatul Ulama (NU), Alissa Wahid pada kesempatan yang sama.

Alissa Wahid juga menceritakan pengalaman jajak pendapat para santri, hasilnya perilaku yang sulit diubah adalah berkumpul dan berkerumun. Alissa menerangkan bahwa mengubah perilaku itu perlu perubahan pola pikir. Tetapi, harus ada mekanisme pengukuran agar perubahan dapat diketahui.

Ketua Subbidang Edukasi Perubahan Perilaku, Satuan Tugas Penanganan COVID-19, Harris Iskandar menyatakan, orang yang sudah sadar harus menjadi agen untuk mmeberitahukan kepada orang terdekatnya agar selalu memakai masker atau menjaga jarak.

“Orang-orang yang sudah sadar perubahan perilaku, kita jadikan agen untuk bisa menegur teman sekitarnya yang tidak memakai masker. Ini membantu penyebaran COVID-19 melambat,” ujar Harris.

Harris mengatakan bahwa sekolah memiliki peran untuk mendidik para siswa mengubah perilaku. “Perlu kerja sama semua pihak, orang tua, guru, pemerintah, dan masyarakat agar laju COVID-19 menurun,” kata Harris.

Kemendikbud terus mendorong perubahan perilaku komunitas pendidikan dengan berbagai langkah nyata, seperti  berbagai materi edukasi 3M di lingkungan pendidikan yang dapat diakses gratis pada laman resmi Kemendikbud bersamahadapikorona.kemdikbud.go.id, yang dapat menjadi bahan pembelajaran untuk dimanfaatkan orang tua dan guru untuk mengedukasi anak.

Selain itu, pada awal September Kemendikbud telah menerbitkan Surat Sekretaris Jenderal Kemendikbud Nomor 77106/A.A7/EP/2020, tentang Pelaksanaan edukasi 3M. Surat tersebut berisi tentang imbauan bagi dinas pendidikan di provinsi dan kabupaten/kota, serta pimpinan perguruan tinggi agar seluruh satuan pendidikan melakukan edukasi 3M secara konsisten dan berulang.

Kebijakan-kebijakan ini mencerminkan prinsip Kemendikbud mengenai pembelajaran masa pandemi, yaitu mengutamakan keselamatan dan kesehatan komunitas pendidikan, serta tumbuh kembang dan kondisi psikososial peserta didik.